Tomas: Si Skeptis yang Beriman

Spread the love

Siapa yang tidak mengenal Tomas? Seorang tokoh yang menjadi ikon karena kalimat yang dicetuskannya: “Sebelum aku mencucukkan jariku…”

Tomas memang dikenal sebagai sosok yang skeptis. Ia tidak dengan mudahnya percaya dan menerima perkataan murid-murid Yesus yang lain ke dalam hatinya. Hanya karena mereka berkata, “Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:25) belum tentu itu merupakan kebenarannya. “Ah, mereka bisa saja terbawa oleh emosi dan kemudian berhalusinasi”, begitu mungkin yang ada di pikiran Tomas.

Pada hari Minggu, 28 April 2019 di GKI Kayu Putih, Pdt. Timotius Adhi Dharma mengupas sisi lain dari Tomas. Bacaan yang diambil dari Yohanes 20:24-29 ini bercerita mengenai bagaimana murid-murid Yesus yang sudah pernah bertemu dengan Tuhan mereka yang bangkit. Tomas, yang tertinggal, awalnya tidak percaya dengan berita tersebut dan kemudian berkata bahwa ia perlu melihat bukti fisiknya terlebih dahulu sebelum berubah pikiran.

Tuhan Yesus kemudian menampakkan diri-Nya kembali kepada murid-murid-Nya dan Tomas ada bersama-sama dengan mereka (ayat 26). Yesus memberikan tangan dan lambung-Nya agar Tomas dapat mencucukkan jari-Nya. Kisah ini kemudian diakhiri dengan Tomas yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah, dan pesan Yesus bahwa “[b]erbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (ayat 29).

Sebelum kita mencap bahwa Tomas adalah sosok yang buruk dan tidak beriman, adalah hal yang menarik untuk melirik tokoh ini dengan lebih dalam. Kita perlu melihat dua bagian lain dari kitab Yohanes yang mengisahkan Tomas dari sisi yang berbeda:

1. Yohanes 11:1-43

Peristiwa ini bercerita mengenai Lazarus yang dibangkitkan. Pada saat Yesus mendengar bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat di mana Ia berada (ayat 5). Meskipun Ia tahu bahwa keterlambatan-Nya itu mengakibatkan penyakit Lazarus semakin parah (dan berakhir dengan kematian). Setelah itu Ia mengajak murid-murid-Nya kembali ke Yudea. Tetapi murid-murid-Nya menjadi ragu dan takut karena banyak “orang-orang Yahudi mencoba melempari [Yesus]” (ayat 8). Namun uniknya, Tomas bereaksi lain daripada yang lain. Ia berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

Sungguh jawaban yang luar biasa! Sosok Tomas yang selama ini dikhotbahkan sebagai seseorang yang ragu-ragu dan contoh yang tidak patut diikuti, dalam Yohanes 11 dicatat sebagai seseorang yang pemberani. Ia berani mati dan mau mengorbankan dirinya sebagai pengikut Kristus.

2. Yohanes 14:1-7

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop ini “Rumah Bapa”. Peristiwa ini merupakan bagian dari perjamuan terakhir antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Yesus berkata bahwa kemana Ia pergi, Ia akan menyediakan tempat bagi murid-murid-Nya (ayat 3). Tomas kemudian bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ayat 5). Pertanyaan ini kemudian ini dijawab Yesus dengan jawabannya yang ikonik: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (ayat 6).

Melihat sosok Tomas dari perikop lain di Kitab Yohanes, sekarang kita memiliki pandangan yang berbeda terhadap pernyataan-Nya yang menginginkan bukti fisik dari kebangkitan Yesus. Sikap Tomas dalam Yohanes 20 jika tidak dikaitkan dengan konteks keseluruhan Alkitab, akan terasa skeptis dan negatif. Akan tetapi kita tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang sempit.

Tomas bukanlah orang yang negatif. Ia tidak mau terjebak dalam euforia sesaat. Ketika seseorang dalam emosi yang sangat dalam, maka sangat mudah dibohongi. Murid-murid Yesus terpukul ketika Gurunya mati di kayu salib. Sehingga kondisi mereka saat itu adalah kondisi yang rapuh dan rawan untuk ditipu. Tomas tidak mudah percaya ketika murid-murid-Nya yang lain berteriak, “Kami telah melihat Yesus!”. Tomas, seorang yang sangat kritis dan juga punya iman yang berani mati, menyatakan pernyataan konfrontasi mengenai kebangkitan Kristus.

Zaman post-truth sekarang ini, kita mungkin justru akan membutuhkan banyak sisi Tomas. Sisi yang mempertanyakan banyak hal dan tidak mau mudah disesatkan. Ia mempertanyakan hal-hal yang esensial, dan kemudian ia menemukan kebenarannya. Hanya lewat pertanyaan itulah baru kita dapat melihat yang sesungguhnya.

Kita sekarang ini mudah terjebak dalam era dimana kebenaran itu subjektif dan setiap orang memiliki “kebenaran” menurut versinya sendiri. Oprah Winfrey, dalam pidatonya di ajang piala Golden Globes pada tahun 2018, menyebutkan istilah your truth” (dengar sepenuhnya di sini). Benarkah kebenaran berpihak? Adakah namanya kebenaran saya, kamu, dan kita, yang berbeda-beda tetapi sama? Ah, rasanya topik ini bisa kita bahas lebih dekat lain kali.

Mungkin kita perlu belajar dari sosok Tomas. Sosok yang beriman, kritis, dan tidak mudah terjebak dalam emosi sesaat. Ia belajar bertanya dan dari kebenaran itulah imannya menjadi benar. Jangan ragu untuk meminta bukti. Karena terkadang iman itu perlu dibuktikan: lewat perkataan, hasil karya, dan perbuatan kita sehari-hari.

 

Soli Deo Gloria,

Delicia Mandy


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *