Tiga langkah praktis mencari panggilan hidup

Sedang bergumul dengan panggilan hidup? Tiga langkah ini dapat kamu lakukan untuk mencari panggilanmu

Spread the love

Pertanyaan yang paling sering muncul di setiap manusia adalah mengenai tujuan mereka hidup. “Untuk apa aku hidup?” begitu tanyanya. Sama juga dengan pernyataan tersebut adalah pergumulan batin mengenai apa panggilan hidup kita. Apakah aku memang diciptakan untuk menjadi seorang guru? Seorang dokter? Apakah aku harus quit my daily job and start my own bussiness?

Pemikiran-pemikiran seperti ini bisa menyerang setiap orang, tua ataupun muda. Mulai dari ketika kita mau memilih jurusan kuliah, sudah lulus kuliah, maupun pada saat sudah lima atau sepuluh tahun bekerja. Di dalam setiap kita pasti memiliki kerinduan untuk mengetahui karir apa yang cocok untuk ditekuni. 

Because let’s face it, life is not easy. Kalau melakukan hal yang kita sukai pun pasti akan mengalami rintangan, apalagi melakukan sesuatu yang tidak kita sukai seumur hidup kita? What a dreadful life it becomes.

I was struggling with the same question in these past years. Terkadang kesulitan membuat kita memikirkan ulang untuk apa kita hidup di dunia ini. Pergumulan yang bertubi-tubi membuat kita harus me-reset ulang motivasi kita. Ketika perjalanan terasa begitu berat, kita bertanya dalam diri kita: untuk siapa aku melakukan semua ini?

Pergumulan Hidup membuat kita berpikir tentang panggilan hidup

God's will and our vocation

Di dalam kesulitan ini, saya menemukan salah satu resource yang bagus dari podcast R.C. Sproul, “Renewing your mind”. Dalam lecture series-nya, “Knowing God’s Will”, Dr. Sproul menjelaskan tentang bagaimana memposisikan karir dan jenis pekerjaan kita di dalam rencana besar Allah. Ini juga berarti bagaimana panggilan kita memiliki suatu kontribusi terhadap kebaikan seluruh umat manusia.

Dalam episodenya “God’s Will and Your Vocation”, ia mengutip satu bagian dari Roma 12:

Therefore, I urge you, brothers and sisters, in view of God’s mercy, to offer your bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God—this is your true and proper worship.

Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. Then you will be able to test and approve what God’s will is—his good, pleasing and perfect will.

For by the grace given me I say to every one of you: Do not think of yourself more highly than you ought, but rather think of yourself with sober judgment, in accordance with the faith God has distributed to each of you. (Romans 12:1-3 NIV, bold is from mine)

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa kunci dari mengetahui apa panggilan kita dan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita adalah berubah dalam pembaharuan budi kita. Kita tidak bisa menjalani secara maksimal segala talenta yang Tuhan berikan jika kita tidak berubah terlebih dahulu.

Maksud ditransformasikan artinya kita tidak lagi menyukai hal-hal yang mendukakan Tuhan, sebaliknya kita berusaha untuk mengejar kekudusan dan berjuang untuk melawan godaan dosa. Bukan berarti kita kemudian tidak akan berdosa lagi,tetapi artinya mindset kita berubah.

Dari yang tadinya tidak bisa kalau tidak berbuat dosa, sekarang lebih menyukai berbuat kehendak Allah. Setelah itu, barulah kita bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Three steps to discern your calling

Mungkin ada beberapa orang yang sepertinya bisa dengar suara Tuhan dengan jelas banget, seperti dalam mimpi atau penglihatan baik dari dirinya sendiri atau dari orang lain yang mengkonfirmasinya. Tetapi bagi kita yang lainnya, Roma 12:3 menyebutkan ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk mengetahui apa panggilan Tuhan terhadap hidup kita.

1. Do not think of yourself more highly than you ought

Kalau dalam bahasa Indonesianya mungkin terdengar berbeda dengan bahasa Inggrisnya. Dalam terjemahan LAI, disebutkan: “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan”. Dengan cara pandang ini, pemikiran yang disebutkan di sini berarti pemikiran terhadap hal-hal di luar diri kita.

Tetapi dalam bahasa Inggrisnya, terjemahan tersebut spesifik mengarah kepada diri kita sendiri: “Do not think of yourself more highly than you ought”. Ini berarti Paulus mengerti bahwa kita sebagai manusia mempunyai kecenderungan untuk berpikir terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Tetapi ketika kita sudah ditransformasikan “by the renewing of your mind”, kita memiliki pola pikir dan mindset yang berbeda.

Kita terkadang berpikir bahwa kita adalah super-human yang mampu melakukan segala sesuatu, say yes to everything, does not need sleep, and being successful at everything we do. Moto kita adalah “I can do everything through Christ who strengthens me” (Phillippians 4:13).

Kita membanggakan diri sendiri dan mengatakan bahwa kita jago dalam segala hal. Ini sangat buruk karena pesan yang didapatkan adalah bahwa kita tidak butuh Tuhan. Kita berpikir bahwa kita bisa melakukan ini dan meminta Tuhan memberkati kita dalam melakukannya.

We think that because everyone is creating their own startup so they think they can do that. They quit they’re perfect job that is very suitable for them to boost their ego.  Kita tahu bahwa hal ini tidak sesuai dengan kehendak Allah. Akhirnya kita menjadi burnout dan depresi (baca: tiga hal yang diperlukan untuk menghindari depresi dan burnout)

Sooo… before you quit your job or say yes to that new position, do number two:

Rendah hati dan melihat panggilan secara jujur

2. Think with sober judgment

Paulus di sini menyatakan bahwa kita harus berpikir mengenai apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita. Ini adalah langkah yang aktif, bukan sesuatu yang hanya kita rasakan. Arti kata sober di sini berarti kita berpikir secara serius, sungguh-sungguh, dan tenang. Kita harus mampu memikirkan secara bijaksana tentang kekuatan dan kelemahan kita.

Penting bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri sebelum mencari tahu karir mana cocok bagi kita. Dr. Sproul dalam pesannya tersebut merekomendasikan sistem M.A.P dalam melihat ke dalam diri kita. M.A.P. adalah singkatan dari “Motivated Ability Pattern”, dimana isinya menekankan tidak hanya pada bakat tetapi juga minat kita juga.

Seringkali kita memiliki bakat untuk melakukan sesuatu, tetapi sebenarnya kita tidak minat melakukannya. Misalnya ada seorang anak yang pintar sekali bermain piano karena orang tuanya memaksanya untuk latihan terus menerus, tetapi dia sendiri tidak menyukainya. Kita pasti tahu ada beberapa contoh di sekitar kita dimana teman-teman kita mahir sekali melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak tidak terlalu suka melakukannya.

Di lain sisi, ada juga hal yang kita ingin banget kita kuasai, tetapi tidak memiliki keterampilan untuk melakukannya. Misalnya: kita ingin sekali jago main basket, tetapi meski berlatih bertahun-tahun ternyata kita tidak memiliki kemampuan untuk menjadi pemain yang kuat. 

Atau kita mungkin sangat terpukau dengan salah satu idola kita yang jago ngomong dan memiliki bisnis yang sukses tetapi kita tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Tiap kali kita berkata di depan orang kita rasanya mau mati saja. Oleh karena itu carilah sesuatu yang kita minati dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. 

Meskipun begitu, tidak selalu hidup ini sesempurna itu. Tidak selalu job-desc di kantor atau di tempat kita melayani cocok 100% dengan kemampuan dan minat kita. Oleh karena itu yang bisa kita lakukan adalah menegosiasi dengan atasan kita mengenai

Discuss about the possibility of making up a new job desc or a new position that fits for you. Di dalam gereja, kalian bisa memulai suatu bidang pelayanan yang cocok dengan minat dan bidang yang ingin kalian perjuangkan. Mungkin mulai membuat perkumpulan orang senior, paduan suara anak, atau pelatihan finansial untuk orang awam.

Memikirkan panggilan hidup berdasarkan minat bakat

3. In accordance with faith

When God calls, He provides. Ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu, Ia memberikan kita iman untuk melakukannya. Ini penting karena poin pertama mengingatkan kita untuk tidak meninggikan diri. Poin kedua membuat kita harus berpikir secara jernih apa minat bakat kita. Poin terakhir ini mengajak kita untuk tidak lupa sama Tuhan.

Ketika ia menaruh kita di dalam suatu bidang pelayanan, Ia akan memampukan kita melakukannya. Ia memberikan kita iman untuk berserah kepada Dia dalam melakukan perjalanan hidup kita. 

Kita sekarang tahu bahwa setiap dari kita memiliki panggilan dan tempatnya masing-masing di dunia ini. Ini sendiri merupakan anugerah dari Tuhan. Fakta ini menguatkan kita kembali bahwa kita tidak boleh meninggikan diri dan memikirkan diri kita lebih dari yang seharusnya.

Our faith is only by His grace. Oleh karena itu tidak layak kita berbangga terhadap apa yang kita miliki, yang merupakan pemberian dari Tuhan itu sendiri. 

Kita diingatkan bahwa setiap dari kita masing-masing memiliki porsi dan posisi kita masing-masing. Ini merupakan rencana Tuhan di dalam hidup kita dan juga dalam kehidupan manusia. Ketika kita diberikan talenta dan kerinduan untuk bekerja sepenuh hati, itu berarti kita membuat dunia ini menjadi lebih baik.

John Piper menggambarkan bagian ini dengan relasi hubungan kita di dalam tubuh Kristus. Allah telah memberikan kepada diri kita masing-masing ukuran iman yang berbeda-beda di setiap orang. Mungkin ada orang yang masih muda tetapi memiliki perjalanan iman yang sangat banyak dengan Tuhan sehingga pemahamannya terhadap Tuhan berbeda dengan seseorang yang tidak pernah mengenal-Nya.

Pemahaman ini mengajak kita untuk terus menerus belajar dan memiliki kerinduan untuk berjalan bersama Tuhan di setiap langkah hidup kita dan tidak mudah iri terhadap orang lain. Tuhan memberikan kepada kita ukuran iman masing-masing sesuai kemampuan kita.

Panggilan hidup sesuai dengan ukuran iman

Our gifts in the body of Christ

Di dalam beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris, bagian ayat 3-8 memiliki judul di atasnya. Pada NIV memiliki judul “Humble Service in the Body of Christ”. Sedangkan pada ESV memiliki judul “Gifts of Grace”. Ini menunjukkan pentingnya melihat ayat 3 tersebut secara keseluruhan dengan ayat-ayat setelahnya:

For just as each of us has one body with many members, and these members do not all have the same function, so in Christ we, though many, form one body, and each member belongs to all the others. We have different gifts, according to the grace given to each of us. If your gift is prophesying, then prophesy in accordance with your faith;  if it is serving, then serve; if it is teaching, then teach; if it is to encourage, then give encouragement; if it is giving, then give generously; if it is to lead,do it diligently; if it is to show mercy, do it cheerfully. (Romans 12:4-8 NIV, bold is mine)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa dengan kemampuan serta kemampuan iman yang berbeda-beda di setiap orang, kita harus menggunakannya untuk kepentingan tubuh Kristus. Ada yang bisa bernubuat, mengajar, ataupun berbagi dengan sukarela.

Ketika kita memiliki panggilan untuk menjadi guru, mengajarlah dengan kesungguhan hati untuk kepentingan banyak umat. Ketika kita memiliki panggilan untuk berbagi, bantulah para organisasi atau institusi agama yang memiliki tujuan mulia.

Our gifts are not ours to enjoy. Setelah mengetahui minat atau bakat kita, penting untuk kita juga bertanya: bagaimana cara saya berkontribusi untuk kebaikan orang lain? Dengan demikian, kita berperan di dalam membangun tubuh Kristus yang membawa semakin banyak orang menjadi murid-murid-Nya yang sejati.

 

 

Soli deo gloria,

Delicia Mandy


Spread the love

One thought on “Sedang bergumul dengan panggilan hidup? Tiga langkah ini dapat kamu lakukan untuk mencari panggilanmu

  1. Salam kenal mbak. Saya akhir-akhir ini juga sedang bergulat meyakini apa panggilan hidup saya sebenarnya. Semoga kita selalu bermanfaat untuk orang sekitar kita ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *