Tiga Hal yang Kamu Perlukan untuk Menghindari Depresi dan Burnout

Spread the love

Bulan Mei 2019 lalu, WHO telah menetapkan “burnout” sebagai penyakit medis. International Classification of Diseases (ICD) menyebutkan bahwa sindrom burnout itu diakibatkan oleh stress akut dalam pekerjaan. Stress tersebut sifatnya berkepanjangan dan tidak ditangani dengan baik.

WHO menyebutkan bahwa ada tiga karakteristik dari sindrom ini. Salah satunya adalah perasaan negatif dan sinis terhadap pekerjaan. Hal ini menyebabkan kendurnya semangat kerja. 

Pada Oktober tahun lalu, saya juga sempat merasa burnout terhadap pekerjaan saya.

Bangun pagi menjadi suatu perjuangan. Bawaannya gak pengen berangkat kerja. Sesampainya di kantor juga gak mau masuk ke dalam ruangan.

I had a private room for my office. But I feel very nauseous just to be there.

I hated my office. I hated what I do.

I don’t know why I’m there in the first place.

Believe me, it was not laziness. I was still productive and doing my job. Tapi bawaannya di kantor itu pengen nangis terus. Saya kerap kali melihat jam dan berharap office hour segera berakhir. 

 

It was a very dark phase.

Fast forward a couple of months and I’m feeling a lot better. Adanya support dari orang-orang terdekat membuat saya menjadi semangat lagi. Peristiwa ini mengubah mindset dan prioritas saya.

Sekarang saya sedang membaca “Changes That Heal” oleh Dr. Henry Cloud.

Buku ini berisikan aplikasi praktis dalam merubah hidup. Pada saat saya membacanya saya menyesal. I wish I found this book sooner 

This book feels like going into therapy without even going into therapy.

Buku ini mendeskripsikan perjalanan perubahan hidup saya dalam kata-kata yang tepat. Hampir semua halaman memiliki highlight karena isinya begitu bagus. 

Ia mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang semua orang butuhkan untuk berubah:

1. GRACE

Grace artinya anugerah. Anugerah berarti sesuatu yang tidak layak kita dapatkan. Meskipun begitu, hal itu tetap diberikan kepada kita. In short, anugerah adalah kasih yang tidak bersyarat.

 

Setiap manusia membutuhkan kasih. Kasih yang tidak bersyarat dan tidak memandang status. Kasih yang menerima kita apa adanya.

 

Waktu saya sedang mengadakan persekutuan mingguan dengan beberapa teman, ada kesaksian unik yang saya dapatkan. Salah satu dari kami adalah perokok berat. Berulang kali ia mencoba untuk berubah tapi gagal.

 

Teman-teman gerejanya terus menerus menasehatinya. “Merokok itu gak baik”, katanya. “Kamu harus stop merokok”, nasihatnya. Dia merasa sebagai seorang yang gagal karena tidak bisa berubah.

 

Namun, setelah ia bergabung dengan grup persekutuan kami, dia mulai berubah. Dia mulai merasa diterima. Tidak ada yang menghakiminya lagi.

Pentingnya Peran Komunitas

Di Amerika, ada program yang bernama AA (Alcoholic Anonymous). Sekitar 2,1 juta orang mengikuti program ini setiap tahun. Sampai sekarang ada 10 juta pecandu alkohol yang sudah mencicip kesuksesannya. (Duhigg, hal. 28)

Dalam bukunya The Power of Habbit, Charles Duhig menjelaskan bagaimana kita bisa merubah kebiasaan buruk kita. Ada tiga hal yang membentuk sebuah habbit. Ketiga hal tersebut adalah cue, routine, dan reward.

Cover Buku The Power of Habit

Ketika seseorang memiliki masalah, ia merasa buruk (cue). Untuk menghilangkan simptom tersebut ia berbalik kepada alkohol (routine). Di akhirnya alkohol memberikan relaksasi, perasaan lega, dan menghilangkan kecemasan (reward).

Dengan kelompok AA, sang pecandu memiliki cue dan reward yang sama. Tetapi, dia mengubah rutinitasnya mengkonsumsi alkohol dengan berbicara dengan orang lain. Mereka akan menelepon mentor mereka atau pergi ke pertemuan AA untuk merasa lebih lega.

Kesuksesan program ini adalah adanya dukungan dari orang lain.

Mungkin kalian pernah merasakan kasih tipe seperti ini. Kasih dimana kita merasa kita bisa menjadi diri kita sendiri. Tempat dimana kita merasa diterima.

Anugerah seperti ini diberikan meskipun kita berdosa dan tidak mampu berbuat baik. Mau kita sebandel apapun, kita tetap diampuni. Mau kita se-“ndableg” apapun kita tetap diterima.

 

It feels good, right?

 

Maybe in the first time. Jikalau kita diberikan ruang maklum yang sangat besar, apa yang terjadi? Jika kita terus menerus dibiarkan sesuka-suka hati kita, akan jadi seperti apa?

We become like children. Kita tidak menjadi dewasa. Kita tidak mengenal apa artinya tanggung jawab. Grace is taken for granted. Kepribadian kita tidak berkembang. Kita terus menerus jatuh dalam dosa.

It turns out grace isn’t enough. Ada esensi kedua yang dibutuhkan untuk bertumbuh:

2. Truth

Kalau anugerah adalah seseorang yang terlihat sangat baik, maka kebenaran akan terlihat sangat jahat. Kebenaran tidak pandang bulu. Dia menyatakan hal-hal yang kurang enak didengar. Dia mendeskripsikan sesuatu apa adanya.

Anugerah adalah aspek relasional dari karakter Allah. Sedangkan kebenaran adalah aspek struktural dari karakter-Nya. Kebenaran menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya dilakukan.

Pada tahun 2016 yang lalu, Oxford Dictionaries Menentukkan kata “post-truth” sebagai word of the year. Tahun tersebut ini bertepatan pada masa kampanye pemilihan presiden Amerika.

Kata ini sering dipakai untuk mendeskripsikan ketika perasaan lebih bermain dalam membentuk opini publik. Emosi lebih menang ketimbang fakta-fakta. 

Post-truth society memandang bahwa setiap orang memiliki kebenarannya sendiri. Mereka digerakkan oleh perasaan mereka sendiri. If it make sense then it must be true.

Mereka berpikir bahwa selalu ada dua sisi kebenaran. Standar kebenaran zaman sekarang menjadi subjektif. Padahal, kebenaran sama sekali tidak berpihak. (Sorry Oprah, there’s no such thing as “your truth” or “my truth”).

Balance between truth and grace

Pada dasarnya, kebenaran adalah sesuatu yang baik. Namun, ia seringkali tidak peka terhadap segala sesuatu. Ia tidak peduli perasaan orang lain. Ia hanya peduli pada keakuratan.

Oleh sebab itu, suatu hubungan yang hanya didasarkan oleh kebenaran akan membuat kita merasa bersalah. (Baca juga: Mengubah Mindset seorang Perfeksionis). Kebenaran yang berdiri sendiri menghasilkan penghukuman.

Kalian pasti bisa membayangkan keadaan dimana kebenaran menjadi standar baik atau benarnya suatu hubungan. Mungkin orang tua kita seringkali menghukum kita ketika kita berbuat salah.

Sedikit-sedikit salah. Lakuin apa saja serba salah. Kita menjadi marah terhadap diri sendiri karena tidak bisa berbuat benar. Kita memandang rendah diri sendiri karena tidak sempurna.

Mungkin komunitas tempat kita berada juga menjunjung tinggi kebenaran di atas segalanya. Mungkin gereja kita seringkali mementingkan kebenaran dan tidak memberikan toleransi apapun terhadap kesalahan.

Persekutuan dimana kita terlibat di dalamnya juga tidak berlandaskan kasih. Yang ada hanyalah penghakiman.

Oleh karena itu, kita membutuhkan keseimbangan antara kebenaran dan anugerah. Kebenaran memastikan kita berada di koridor yang benar. Sedangkan anugerah mensuplai kita dengan kasih dan rasa penerimaan.

3. Time

Kita sering mendengar frasa, “Time heals everything”. Meski dengan adanya anugerah dan kebenaran, kita tetap membutuhkan waktu.

 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Kita seringkali ingin jalan pintas. Tetapi jalan pintas tidak dapat membuahkan hasil yang permanen.

Di dalam dunia ini, si jahat menggoda manusia dengan solusi yang cepat. Ia menggantikan cinta dengan seks. Alkohol menjadi jawaban atas permasalahan. Ia memberikan kenikmatan sementara dari makanan siap saji sebagai ganti kesehatan.

Seperti pohon yang ditanam, hubungan kita juga membutuhkan waktu untuk berbuah. 

Apalagi ketika keluarga/komunitas kalian terlalu mengedepankan aspek anugerah/kebenaran tanpa keseimbangan. 

Luka hati memerlukan masa untuk sembuh.

Time must be joined with Grace and Truth

Untuk itu, jika memang dalam saat ini sepertinya permasalahan kalian seakan-akan tidak membaik. Carilah komunitas yang dapat memberikan perhatian dan kasih.

Di tempat yang sama, pastikan landasan hubungannya adalah kebenaran. Itu berarti kalian saling men-support satu sama lain. Memberi kritik yang membangun tanpa menghakimi.

Di saat-saat terburuk hidup saya, suami saya ada untuk duduk mendengarkan dan men-support saya. Inilah yang membuat saya bangkit dan bisa melewatinya. Peran seorang pasangan hidup sangat penting untuk produktivitas kita.

Telepon teman terdekatmu untuk mengobrol. Jikalau memang keadaannya sangat buruk, seek for help.

Pergi ke konseling. 

Find a counselor.

Ingatlah bahwa pertumbuhan hanya dapat bekerja seiring berjalannya waktu lewat hubungan/komunitas yang mengedepankan kasih dan kebenaran.

 

Fellow Survivor,

Delicia Mandy

June 2019


Spread the love

One thought on “Tiga Hal yang Kamu Perlukan untuk Menghindari Depresi dan Burnout

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *