Tiga Hal yang Menjadi Kunci Kesuksesan Elon Musk

Spread the love

I was looking for another biography and this one stands out from the rest. Not (just) because the cover was straight up his face, but because Elon Musk has been a really prominent figure these days in the news. With all of his (brutal) tweets and the news about his move to close down some Tesla Motors stores to make his product cheaper.

 

It was a relatively slow read for me, karena beberapa istilah yang digunakan dalam buku yang kurang dapat dimengerti oleh kaum awam (seperti saya, hehehe). There were a lot of technology jargons that is described in this book, so I do skip some of those pages (guilty as charged!). But overall, I was completely dumb-founded by how this very person could withstand all of the stress for the sake of something that is possibly impossible to achieve (well at least that part about us humanity living in Mars).

 

Musk has his version of the truth, and it’s not always the version of the truth that the rest of the world shares – Ashlee Vance

Ada tiga poin besar yang saya pelajari dari etika dia bekerja, visinya, dan kesulitan yang dia harus hadapi untuk mencapai titik kesuksesan dia sekarang.

Embed from Getty Images

1. School Does Not Equal Education

Elon Musk berada di posisi sekarang ini bukan karena ia merupakan TOP of his classes. Bahkan jika membaca mengenai keterangan dari teman-temannya, ia terlihat sebagai seorang yang aneh, suka menyendiri, dan sering di-bully. Tidak ada seorang pun yang mengira ia akan menjadi bilyuner.

Read Books

Keinginan dia untuk terus belajar terlihat dari hobinya yang suka membaca. Dari kecil, orang tuanya kerap kali kehilangan dia ketika sedang jalan-jalan dan tempat dimana ia selalu menemukannya adalah di toko buku terdekat. Ia dapat membaca satu buku per hari dan dalam weekend ia mampu membaca dua per hari.  Suatu waktu, ia kehabisan bahan bacaan di perpustakaan sekolahnya karena sudah membaca semua buku yang ada. Akhirnya ia mulai membaca Encyclopaedia Britannica dan karena ia memiliki photographic memory, ia menjadi seperti kamus berjalan.

“I ran out of books to read at the school library and the neighborhood…So then, I started to read the Encyclopedia Britannica. That was so helpful. You don’t know what you don’t know. You realize there are all these things out there.” – Elon Musk

Pada waktu ia hampir berumur 10 tahun, ia mendapatkan komputer untuk pertama kalinya dan mulai mempelajari bahasa programming. Hal ini biasanya dilakukan dalam rentang waktu enam bulan, tetapi Elon tidak tidur sepanjang tiga hari dan mengutak-ngutik komputer tersebut sendirian.

Dia menunjukkan sisi ambisiusnya pada saat dia mulai di level universitas: belajar bisnis, masuk kompetisi debat, dan bahkan membuat paper pada tahun 1994 berjudul “The Importance of Being Solar“. Dalam start-up-nya yang pertama, ia belajar banyak hal mengenai bagaimana menjadi pemimpin dan mengatur ulang kebiasaannya yang suka mengkonfrontasi orang lain. Ia berani memasuki bisnis yang sangat kompleks dan tidak peduli bahwa ia tidak mengetahui apapun mengenai nuansa industri tersebut.

Embed from Getty Images

Learn Outside Your Major Field

Pada waktu ia mulai membangun spaceX, ia belajar secara otodidak mengenai industri  aerospace tersebut dengan membaca beberapa teks-teks yang sedang berkembang, seperti: Rocket Propulsion Elements, Fundamentals of Astrodynamics,  dan Aerothermodynacmics of Gas Turbine and Rocket Propulsion. Just because he didn’t have the degree for it, doesn’t mean he stopped trying. Ia juga merekrut orang-orang terkenal dalam industri tersebut untuk membantunya menjalankan misinya.

Kesuksesannya dan jejak karirnya jelas menjadi suatu bukti bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk menimba ilmu. Dengan banyak membaca, belajar dari banyak orang, serta terus memiliki keingin-tahuan, kita bisa melakukan dan menciptakan banyak hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

2. No Shortcut to Success

Ketika membaca biografi Elon Musk, saya belajar bahwa tidak ada yang namanya jalan pintas menuju kesuksesan. Dari awal ia masih merintis start up, ia mengorbankan banyak sekali kenyamanan agar dapat menginvestasikan seluruh waktu dan uangnya untuk perusahaannya, Zip2. Ia tinggal di kantornya yang sangat kecil, toiletnya seringkali tidak berfungsi sehingga ia dan adiknya harus mandi di YMCA, dan makan fast food untuk menghemat uang dan waktu. Seringkali ia menyuruh karyawan-karyawannya untuk menendang dia ketika ia tertidur pada saat mereka datang di pagi hari agar Musk dapat kembali bekerja.

Untuk berada dalam posisi dia sekarang, Elon Musk juga melewati banyak tantangan dan komentar yang merendahkan dirinya. Pada saat ia pergi ke Russia untuk mengadakan perjanjian mengenai pembelian roket (untuk mimpinya membangun SpaceX), ia diludahi oleh salah satu chief designer di sana. Mereka mereka berpikir Elon Musk hanyalah bercanda dan tidak terlihat kredibel dalam melakukan pembelian sebesar itu.

Musk juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat menuntut banyak hal. Ia hanya mempekerjakan orang-orang yang baik dan tahan terhadap sikapnya yang sangat keras. Jika ada orang yang tidak bekerja secara cepat dan dapat menyelesaikan masalah dalam batasan waktu yang diberikannya, maka ia tidak segan-segan akan memecatnya. Ia memiliki visi yang besar untuk setiap perusahaannya dan energinya itu kemudian menular kepada setiap karyawannya di setiap divisinya.

When the Going gets Tougher…

Jalan menuju kesuksesan juga bukanlah jalan yang mudah. Seringkali ia harus mengalami masa-masa berat yang membuatnya depresi. Investasinya kepada SpaceX juga sering berada di ambang kehancuran karena beberapa kali mereka meluncurkan roketnya dan hanya berakhir dengan ledakan oleh karena malfunction. Pada peluncurannya yang keempat ia sangat depresi karena SpaceX tidak memiliki uang yang cukup untuk membuat yang kelima. Ia sudah menaruh $100 milyar ke dalam perusahaan ini dan tidak memiliki sisa apapun karena perusahaanya yang lain, Tesla, juga memiliki banyak masalah.

“There were always all these negative articles about Tesla, and the stories about SpaceX’s third failure. It hurt really bad. You have these huge doubts that your life is not working, your car is not working, you’re going through a divorce and all those things…I didn’t think we would overcome it.” – Elon Musk

Kemampuannya mengatasi berbagai krisis pada saat yang sama tidak dimiliki oleh semua orang. Kebanyakan orang akan menyerah dan berbalik arah ketika menemukan kesulitan yang besar, tetapi tidak begitu dengan Elon Musk. Meskipun di dalam emosi yang mendalam, ia tetap mampu mengambil keputusan yang rasional dan berpikir jauh ke depan.

Embed from Getty Images

3. Ultimate Goal: Save Humanity, not More Money

Hal terakhir yang saya pelajari dari figur seorang Elon Musk adalah visinya yang besar bagi dunia dan the whole human species. Tidak pernah sekalipun saya membaca mengenai keinginannya untuk menjadi kaya dan memiliki banyak perusahaan. Mimpinya bukanlah untuk membangun perusahaan yang seharga milyaran dollar, tetapi bagaimana mengubah hidup manusia menjadi lebih baik di masa depan. Entah itu memikirkan caranya bagaimana manusia dapat pergi ke Mars, membangun mobil yang tidak bergantung pada energi fosil, maupun dalam membangun jalan transportasi yang lebih efisien dan bebas macet.

Musk came to see man’s fate in the universe as a personal obligation. If that meant pursuing cleaner energy technology or building spaceships to extend the human species’s reach, then so be it. Musk would find a way to make these things happen – Ashlee Vance, hal. 24.

Not your usual CEO

Pada saat karyawan-karyawannya di SpaceX mendorong dia untuk mengajukan IPO (initial public offering – semacam pembagian kepemilikan yang dapat diraih oleh publik berupa saham) agar mendapatkan banyak suntikan dana, Musk mengirimkan email yang memperlihatkan pandangannya  dan visinya terhadap perusahaan itu. Ia menganggap bahwa dengan membuka IPO, karyawan-karyawannya akan lebih berfokus terhadap natur saham itu daripada berlomba-lomba menciptakan produk yang baik. Visi dari SpaceX adalah untuk menciptakan teknologi untuk pergi ke Mars dan hal apapun yang dapat mengurangi terjadinya mimpi itu haruslah ditunda ataupun dieliminasi.

He wasn’t just sniffing out trends, and he wasn’t consumed by the idea of getting rich. “I like to make technologies real that I think are important for the future and useful in some sort of way” – Elon Musk, hal. 55.

Saya rasa hal inilah yang membuat Elon Musk berbeda dengan kebanyakan orang seperti kita, karena visi besarnya bagi dunia ini membuatnya bekerja lebih keras dan mengorbankan banyak hal, hingga mengorbankan emosi dan miliknya sendiri. Seringkali orang-orang ingin cepat kaya, mengubah dunia, dan memiliki perusahaan yang besar namun tidak sanggup menahan dirinya di tengah kesulitan yang ada. Seringkali orang-orang ingin memiliki ketenaran tetapi tidak tahan ketika banyak komentar negatif dilemparkan ke arah dirinya. Banyak orang mau maju tetapi tidak mau terus belajar.

Dari Elon Musk, saya belajar bahwa menuju ke dalam panggung ketenaran dan kekayaan berarti mengorbankan banyak hal. Tidak hanya uang, waktu, dan energi, tetapi banyak kesulitan di dalam perjalanan hidup juga dapat menguras emosi yang dalam. Sanggupkah kita melewati itu?


Spread the love

One thought on “Tiga Hal yang Menjadi Kunci Kesuksesan Elon Musk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *