Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 oleh Klaus Schwab (Review & Summary)

Spread the love

Revolusi Industri 4.0 adalah topik yang sedang naik daun di industri. Tidak hanya berhenti di sektor bisnis, bahkan revolusi ini ramai dibicarakan dalam institusi pendidikan.

Buku ini ditulis oleh Klaus Schwab, presiden dari World Economic Forum, sebuah organisasi independen dengan visi memajukan kondisi dunia dengan cara mempertemukan pemimpin dari bidang industri, bisnis, dan pendidikan.

Berbekal dengan pandangan yang kaya dari berbagai sektor, buku karangannya ini membahas efek dari revolusi industri secara komprehensif. Bagian pertama membahas mengenai konteks historisnya, bagian kedua tentang penggerak utamanya, lalu bagian ketiga yang paling panjang membahas tentang dampak dari revolusi ini.

Definisi Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri keempat dimulai pada awal abad ini dengan revolusi digital. Karakteristiknya adalah lewat maraknya internet, sensor yang semakin kecil dan murah, serta munculnya Artificial Intelligence (AI). Namun, penanda revolusi kali ini bukan hanya dari jejak digital; jangkauan dan efeknya lebih luas dibanding sebelumnya.

Premis dari buku ini ialah bahwa teknologi dan digitalisasi akan merevolusioner segalanya. Kecepatan dari inovasi pada zaman ini jauh lebih cepat, seperti yang kita bisa lihat dari kekuatan bisnis yang mendisrupsi dunia saat ini: Airbnb, Uber, Alibaba, dan Amazon).

Hal ini mengakibatkan banyak integrasi dan penemuan dari berbagai disiplin. Para penggerak di bidang industri dan perusahaan seharusnya tidak lagi bertanya “apakah saya akan mengalami disrupsi?” tetapi: “ketika disrupsi datang, seperti apa bentuknya dan bagaimana hal ini memengaruhi saya dan organisasi ini?” (Scwhab, hal. 13)

Fourth Industrial Revolution

Penggerak Utama

Didukung dengan penelitian di World Economic Forum dan Forum’s Global Agenda Councils, Klaus Schwab melihat beberapa teknologi yang harus kita amati. Ia menganalisis tiga tren besar yang menggerakan revolusi industri ini.

Yang pertama secara fisik: bentuk teknologi ini mudah dilihat karena naturnya. Perkembangan transportasi yang bergerak secara otonomi adalah salah satunya. Setelah itu adanya 3D printing juga memudahkan banyak perusahaan untuk berinovasi. Riset saat ini sedang mengembangkan teknologi 4D yang mampu merespon terhadap perubahan lingkungan seperti panas dan kelembapan.

Penggerak kedua adalah teknologi digital. Salah satu jembatan antara benda fisik dan aplikasi digital adalah internet of things (IoT). Hal ini menggambarkan hubungan antara benda-benda (produk, servis, tempat) dan manusia yang memungkinkan oleh karena teknologi yang saling terhubung (Schwab, hal. 18).

Revolusi ini secara radikal menciptakan cara baru bagaimana individu dan institusi berhubungan dan berkolaborasi. Dengan adanya blockchain misalnya, menciptakan sarana terpercaya bagi individu yang tidak mengenal satu sama lain. Hal ini membuka jendela baru bagi birokrasi untuk menciptakan media pencatatan sipil seperti akta kelahiran dan kematian, akta pernikahan, sertifikat, ijazah, serta klaim asuransi – segala hal yang dapat diekspresikan lewat kode.

Terakhir, inovasi dalam dunia biologi juga menjadi penggerak yang kuat dalam revolusi industri 4.0. Human Genome Project adalah riset besar di USA yang bertujuan membuat mapping DNA manusia agar dapat dikembangkan untuk riset di kemudian hari. Proyek ini berlangsung lebih dari 10 tahun dan memakan lebih dari 2,7 milyar dollar. Hal ini akan memberi efek tidak hanya secara medis, tapi juga secara agrikultus dan biofuels.

Sains bergerak dengan sangat cepat sehingga tantangan kita di masa ini bukan lagi secara teknis tetapi secara legal dan etis. Efek sosial, medis, dan psikis yang tercipta dari penemuan semacam ini harus diresolusi, atau setidaknya didiskusikan dengan bijak.

Dampak dari Revolusi Industri 4.0

1. Ekonomi

Efek revolusi industri terhadap perekonomian dapat terasa dari berbagai sektor. Bisnis berubah oleh karena banyaknya disrupsi dari para startup.

Perusahaan dan negara seharusnya mengedepankan inovasi dalam segala bidang. Strategi mengurangi pengeluaran akan berkurang efektivitasnya dibandingkan mereka yang memasarkan produk dan layanannya dalam bentuk yang inovatif.

Selain ekonomi secara makro, revolusi industri kali ini juga mengubah tatanan skill (kemampuan) yang dibutuhkan untuk bisa maju. Menurut Carl Benedikt Frey dan Michael Osborne dari Oxford Martin School, sekitar 47% dari total pekerjaan di USA berisiko tinggi untuk hilang.

Orang-orang dengan kognitif tinggi dan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas akan terus bertumbuh, sedangkan pekerjaan middle income yang repetitif akan hilang.

Dengan adanya perubahan yang sangat cepat, revolusi kali ini menekankan kemampuan para pekerja untuk dapat beradaptasi dan mempelajari skill serta pendekatan yang baru dari berbagai konteks.

Proses ini dapat membuat banyak orang kehilangan makna dari bekerja. Mereka tidak hanya mau hidup dan pekerjaan yang seimbang tetapi juga integrasi yang harmoni antara hidup dan pekerjaan.

2. Bisnis

Ada empat efek besar dari revolusi ini terhadap kehidupan bisnis. Yang pertama adalah penggeseran ekspektasi pelanggan. Ekpektasi dari para pembeli telah berubah menjadi pengalaman pembeli (customer experience). Apple, misalnya, telah mengubah pengalaman membeli produknya dengan mengubah arah branding-nya.

Yang kedua adalah peningkatan kualitas produk oleh data. Hal ini terlihat dari cara perusahaan Tesla meningkatkan kurun waktu penggunaan mobilnya. Dengan keterikatan (dan update) perangkat lunak dan database-nya, mobil Tesla dapat dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama.

Ketiga, banyak partnership mulai terbentuk karena perusahaan mulai melihat pentingnya kolaborasi. Banyak perusahaan seharusnya berpikir bagaimana benda-benda offline dan online dapat bekerja bersama.

Terakhir, cara beroperasi yang lama telah berubah menjadi model yang digital. Model bisnis pada revolusi kali ini harus berfokus pada pemakaian teknologi agar lebih efektif, agar menjaga resource, mengurangi pengeluaran, dan juga dampak yang baik untuk lingkungan.

Klaus Schwab Revolusi Industri 4.0

3. Nasional dan Global

Pemerintahan mendapatkan efek yang besar dari revolusi industri 4.0 oleh karena sistem yang transparan dan sifat kekuasaan yang sementara. Moisés Naím berkata: “in the 21st century, power is easier to get, harder to use, and easier to lose.” Efek digital ini mengurangi benteng yang sebelumnya ada oleh karena publik menjadi lebih tahu banyak dan memiliki ekspektasi yang tinggi.

Pembuat kebijakan akan dipaksa untuk mengubah pendekatan mereka ketika membuat dan menggalakan regulasi baru. Proses yang dahulu lebih top-down dan linear tidaklah lagi bekerja. Dunia sekarang mengharuskan pemerintah, bisnis, dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam menyeimbangkan keadilan, keseimbangan, hak cipta yang inklusif, serta keamanan.

Maraknya teknologi juga membuka medan perang baru di dunia cyber. Seperti yang dijelaskan di atas, teknologi dalam dunia biologis juga membuka banyak celah dalam regulasi yang lama. James Giordano, seorang neuroethicist dari Georgetown University Medical Center berkata, “The brain is the next battlespace”.

4. Masyarakat

Dampak dari revolusi ini terhadap komunitas adalah munculnya masyarakat yang “me-centered” (hal. 94). Berbeda dengan sebelumnya, orang-orang akan merasa dalam komunitas ketika mereka memiliki barang-barang, nilai pribadi, dan kepentingan pribadi dibandingkan dengan grup, pekerjaan, dan keluarga.

Adanya kebebasan memakai teknologi memberikan kesempatan bagi para individu untuk menyuarakan pendapat mereka dan berpartisipasi dalam debat serta pengambilan keputusan. Namun, secara counterintuitive, adanya media teknologi yang sangat banyak berarti sumber informasi seseorang menjadi pendek dan terpolarisasi. Psikologis klinis dari MIT, Sherry Turkle, menyebutnya sebagai “spiral of silence”.

The Fourth Industrial Revolution

5. Individu

Revolusi Industri 4.0 berdampak tidak hanya pada apa yang kita lakukan tetapi mengubah siapa diri kita. Adanya logaritma dari media sosial menjadikan teknologi sebagai teman terbaik kita yang lebih mengetahui apa yang kita suka dibandingkan teman, keluarga, atau bahkan pasangan kita.

Ini mengakibatkan kita menjadi kesulitan untuk mengambil keputusan. Apakah kita lebih percaya pada algoritma atau nasihat keluarga dan sahabat? Jika perilaku kita dalam segala situasi menjadi mudah dibaca, berapa besar kebebasan yang kita miliki ketika kita keluar dari prediksi tersebut? Apakah perkembangan ini menyebabkan manusia menjadi bertingkah laku seperti robot?

Adanya hubungan erat dengan teknologi memengaruhi kemampuan sosial kita secara negatif. Penelitian pada tahun 2010 di University of Michigan memperlihatkan adanya penurunan kadar empati sebanyak 40% persen di antara mahasiswa dibandingkan 20-30 tahun lalu.

Banyaknya ekspos secara digital membuat kemampuan kognitif kita semakin dangkal karena kita tidak pernah mengontrol perhatian kita. Herbert Simon pada tahun 1971 mengatakan bahwa “A wealth of information creates a poverty of attention.” Dalam dunia digital ini akan semakin sulit untuk mundur dari efeknya, akan tetapi hal itu tidak mustahil.

To read or not to read?

Secara keseluruhan, buku ini pendek dan tidak sulit untuk dibaca. Pengarangnya memberikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah untuk dicerna. Selain itu, buku ini juga melihat dari berbagai sudut pandang dan efeknya terhadap berbagai sektor di industri.

Meskipun begitu, jika kalian mencari sesuatu yang dalam dan komprehensif, mungkin buku ini akan mengecewakan. Klaus Schwab hanya menawarkan pembahasan yang dangkal dan singkat sehingga tidak ada banyak kedalaman dalam narasinya.

Saya sarankan bagi setiap pemimpin ataupun pembuat kebijakan untuk dapat membaca buku ini agar memiliki pemikiran yang terbuka. Revolusi Industri 4.0 bergerak cepat dan lebih sistemik dari revolusi sebelumnya. Oleh karena itu dibutuhkan revolusi mental dari setiap stakeholder-nya.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *