Mengajar Murid Millenial: Tiga Hal yang Bisa Anda Terapkan dalam Kelas

Spread the love

Kita tahu sekarang bahwa murid generasi milenial ini butuh pendekatan khusus untuk di-approach. Selain kemampuan mereka untuk memberi perhatian berkurang, mereka juga memiliki keinginan untuk segala hal menjadi instan. Mereka mau segala sesuatu cepat dan relevan dengan kehidupan mereka.

Itu berarti model pengajaran kita yang lama sudah tidak lagi relevan. Kita tidak bisa mengajar hanya dengan memberi tahu informasi lalu meminta mereka untuk menghafalnya.

Di tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar satu kelas musik berbahasa Inggris. Kelas ini diikuti oleh beberapa mahasiswa dari berbagai negeri. Ada beberapa cara yang saya coba agar mereka dapat lebih perhatian di dalam kelas, dan berikut beberapa hal yang tidak terlaluberhasil:

Three Things that DIDN'T Worked

The class that I’m teaching is an international college degree consists of students from different countries. So, I still feel that they should be better (and proactive) in learning, right? RIGHT??

NO.

Ternyata students are still students, no matter where they came from. Especially when we’re dealling with Millenial Students. Mereka juga bisa gak ada semangat, bosenan, dan gak fokus. Akhirnya dari pengalaman kali ini saya belajar bahwa ada beberapa model pembelajaran dan pengajaran zaman dahulu yang udah gak berlaku lagi di zaman sekarang:

1. Lecture 

For us as teachers, this is the easiest way to teach. It’s just a matter of copying and pasting information into our powerpoint presentation. Setelah itu kita tinggal klik dan baca dari slide tersebut sambil berharap para mahasiswa mencatat dan menghafal.

It’s easy for us, but it’s not fun for them.

They easily get bored and then they continue doing something else.

Moreover, sebenarnya cara ini juga agak sedikit terkesan merendahkan para murid. They can get all the materials from the textbooks, google, and even youtube. Do not try to compete with technology. The point of education is make humans more human. Kita harus berinovasi agar memberikan suatu warna yang baru dibanding dengan teknologi.

Dengan workload dosen dan guru yang sangat banyak, memang sulit ketika kita harus berpikir dua atau tiga kali lipat dalam mencari: 1) informasi, 2) cara mengajar yang tidak membosankan, dan 3) mempersiapkan bahan tersebut lewat teknologi/bahan presentasi yang menarik. Tetapi jika kita memfokuskan diri terhadap apa yang mahasiswa dapat ingat dan terapkan hingga mereka lulus dan bekerja nanti, menghindari pengajaran dengan cara lecturing ini harus kita hindari.

2. Student’s Presentation

Di dalam kelas, saya mencoba untuk mixing things up. Salah satunya adalah memberikan topik bagi mereka dalam kelompok untuk berdiskusi. Kemudian setelah mereka berdiskusi dan menemukan jawabannya, mereka akan maju ke depan dan memberikan presentasi kepada teman-temannya yang lain. Topik yang diberikan sangat singkat dan sebenarnya sudah ada di dalam buku cetak yang mereka pegang, sehingga fokus diskusi menjadi lebih teratur.

The upside of this is that the students will remember the topics much more clearly, karena didapat dengan cara active learning: berdiskusi. Sehingga ada waktu bagi mereka untuk mencatat dan memproses informasi secara sendiri dan berkelompok.

The downside of this adalah ketika para kelompok maju satu per satu untuk menerangkan topik dan hasil penelitian mereka. It’s not that they are BAD at communicating, tapi tipe kali ini justru membuat kita kembali lagi kepada passive learning. Teman-temannya yang hanya duduk mendengarkan kemudian perlahan-lahan ZONING OUT dan akhirnya tujuan pembelajaran kita tidak tercapai. Kelompok di depan merasa tidak nyaman, dan kelompok yang duduk juga merasa bosan.

Ada beberapa hal yang mungkin dapat saya atur ke depannya untuk hal ini:

A. Memberikan prompt bagi anggota kelompok lain untuk mencatat. Saya bisa memberikan kisi-kisi atau tabel atau aktivitas yang harus dilakukan kelompok lain dalam mendengarkan agar mereka tetap fokus dan mengerti bahannya.

B. Memberikan kebebasan bagi para mahasiswa yang memberikan presentasi untuk membuatnya sekreatif mungkin. Maybe give it as their group project dan masukkan komponen kreativitas sebagai salah satu bagian penilaian. Instead of just lecturing, give them freedom to present it in other ways: vlogging, tutorial youtube, role-playing, etc.

3. Reading Assignments

Berdasarkan penelitian dari CCSU (Central Connecticut State University), literasi orang Indonesia merupakan peringkat kedua terbawah. Sehingga ketika saya mengajar mahasiswa internasional, saya berharap tingkat minat membaca mereka lebih tinggi.
 

Or so I thought..

Ternyata memang tidak semua mahasiswa memiliki inisiatif yang sama ketika harus berhadapan dengan Reading Assignments. Dari 15 mahasiswa yang saya ajar, hanya 5 yang benar-benar membaca tugas belajar/membaca mandiri mereka. Kemudian ketika saya mulai membuka topik diskusi dan pergi lebih dalam lagi ke dalam topiknya, hanya dua orang yang dapat menyimak dan menjawab pertanyaan saya. It turns out that even those who read their assignments doesn’t really learn very much. Reading Assignments is a NO GO.

Baca terus hingga akhir artikel ini mengenai cara saya memperbaiki sistem reading assignments agar mahasiswa mengerti apa yang harus mereka baca, pelajari, dan ingat.

Three Things that DID Worked

Dalam kelas ini, saya mengadaptasi berbagai cara untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam belajar. Here are some of the things that worked for my class:

1. Role-Playing/Problem Solving Games

Salah satu cara dalam memberikan informasi agar dapat diserap oleh orang banyak adalah bermain dengan rasa penasaran mereka (curiosity). Chris Anderson, dalam bukunya TED Talks: The Official TED Guide to Public Speaking, ia berkata:

Do you feel a little spark of curiosity? That’s the first step to a successful explanation. Once a mind is intrigued, it opens up. It wants new ideas.

Dalam salah satu topik yang saya bawakan, murid-murid saya perlu belajar mengenai teori Developmental Stages in Children’s Drawing oleh Viktor Lowenfeld. It was a relatively interesting theory. Sebenarnya saya bisa saja membuat tabel perbandingan mengenai perkembangan anak SD dalam menggambar, tetapi saya membuat sebuah permainan detektif untuk membangun rasa penasaran mereka.

Sebelum saya memberi tahu topik dan penjelasan apapun mengenai teori itu, saya memberi tahu mahasiswa saya bahwa kita akan bermain sebagai detektif. Saya akan menampilkan beberapa gambar (yang merepresentasikan satu tahap perkembangan menggambar) dan mereka perlu menebak siapa kira-kira pelakunya (suspect/age group), alat apa yang digunakan (crayon, colored pencils, etc.), serta kira-kira merepresentasikan apa (apakah hanya oret-oretan, gambar yang jelas, tiga dimensi, dua dimensi, dll).

THE STUDENTS LOVED IT

They actually remember most of the details and the materials, and there are NONE of them that are playing with their phones or ZONING OUT.

I personally think that one of the best ways to learn is through game and role playing:

A. Let them imagine that they are someone else (the teacher, detective, students, taking on field trips).

B. Give them a problem to solve and prompts/clues to guide them

C. Discuss what they have found and correct their mistakes (if there are any)

2. Reading Assignments with Quiz

Instead of giving them Reading assignments, saya (agak sedikit) memaksa mereka untuk membaca materi minggu itu dengan memberikan kuis. So, saya memberikan mereka bahan membaca (biasanya hanya satu sampai dua bab), kemudian memberikan kuis dalam 
online learning platform (we use moodle). Jadi dengan cara seperti itu, mereka (terpaksa) harus membacanya, dan sekaligus mereka tahu bagian mana yang harus lebih diperhatikan. Fungsi dari kuis  online tersebut sebenarnya berfungsi sebagai guidelines dalam belajar. Kebanyakan dari para murid tidak tahu apa yang harus dicerna, digarisbawahi, dan diperhatikan ketika membaca.

Memang cara ini tidak mudah bagi kita para guru, karena itu artinya kita harus mempersiapkan banyak sekali bahan kuis hampir setiap minggunya agar para murid dapat rajin dan serius membaca. Tetapi ini merupakan cara efektif yang saya lihat cukup bermanfaat bagi para mahasiswa yang malas membaca.

 

3. Weekly Journals

Hal ketiga yang saya coba terapkan adalah membudayakan menulis jurnal dalam tiap akhir sesi. Berikut salah satu jurnal dari murid saya:

 

Jadi setiap minggunya para murid diharuskan untuk mengisi jurnal dan menulis tiga hal berikut:

 

A. Hal yang dipelajari (AHA! Moment)

Diharapkan mereka dapat menceritakan momen-momen AHA (ketika mereka mendapatkan ide/pengetahuan yang baru) dalam setiap sesi. Hal ini bertujuan agar saya memastikan para murid mengetahui dengan benar apa yang diajarkan dengan kelas dan juga sekaligus menjadi bahan self-assessment bagi saya. Jangan sampai apa yang saya ajarkan itu ternyata ditangkap secara berbeda oleh murid-murid saya!

B. Hal yang Mereka Ingin Tanyakan Lebih Lanjut

Mungkin karena adanya keterbatasan waktu dalam kelas sehingga mereka tidak sempat bertanya atau ada materi pengajaran yang ingin mereka pelajari lebih lanjut. Sehingga kolom ini menjadi peran penting bagi kelas kita, agar saya dapat juga membagikan resources baru dari youtube, google, buku-buku, atau jurnal yang bermanfaat bagi para murid. Mereka juga dapat bertanya lebih dalam mengenai hal-hal yang mereka kurang mengerti dan mungkin mengetahui tips/trik mengenai cara praktis dalam mengajar/mengaplikasikan teori yang baru saja dipelajari.

C. Feedback For Lecturer

This is probably my favorite section. Alasan yang pertama adalah karena ini merupakan salah satu sarana mahasiswa dapat memberi saran dan kritik yang jujur bagi saya agar dapat lebih baik lagi dalam mempersiapkan materi. Ada beberapa masukkan dari mereka yang lumayan mengejutkan dan juga berguna bagi saya seorang pribadi, misalnya: ada mahasiswa yang merasa saya berbicara terlalu cepat, saya kurang memberi contoh, atau saya memberi materi yang terlalu berat di satu sisi tapi kurang menyeluruh (komprehensif). Off course, salah satu yang menyenangkan juga ketika murid-murid saya mengapresiasi apa yang saya kerjakan dan mereka menyukai berbagai metode pengajaran yang saya terapkan dalam kelas ini.

Jadi, itu dia tiga cara yang berhasil (dan yang kurang efektif) dalam menyampaikan lecture dan mengajar untuk para murid-murid millenial. Silahkan bagikan link ini kepada teman-teman guru di luar yang sedang mencari cara agar dapat engage ke murid-muridnya. Jika ada tips dan trik lain dari kalian yang pernah kalian terapkan, boleh taruh komentar di kolom di bawah ini.

Love,

Delicia Mandy


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *