Spirit of Excellence

Spirit of Excellence

Spread the love

Semua orang pasti mau punya kualitas excellence. Baik itu dalam pekerjaan, pasangan, karya, maupun status sosialnya.

Namun, spirit of excellence itu sepertinya gampang untuk dikatakan dan sulit untuk dilakukan. Apa sebenarnya kunci dari memiliki semangat dan roh yang luar biasa?

Jika Anda google kata “excellence” dalam Alkitab, beberapa tautan utama yang masuk pasti akan mereferensi ke kitab Daniel. Daniel disebutkan memiliki “excellence spirit, knowledge, and understanding to interpret dreams…” (Daniel 5: 11 ESV) dan “excellent wisdom” (ayat 14 ESV).

Kisah Daniel pasal yang kelima adalah salah satu contoh kasus yang menarik untuk kita pelajari. Bagian ini dimulai dengan Raja Belsyazar di Babel yang mabuk oleh anggur dan minum dari perkakas Bait Suci di Yerusalem (ayat 1-4). Tidak hanya itu, ia juga memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu, dan batu.

Setelah itu tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada dinding istana raja dan hal tersebut membuat raja Belsyazar takut. Ia menyuruh seluruh orang-orang ahli di kerajaannya mengartikan tulisan tersebut (ayat 7).

Tidak ada seorangpun yang bijaksana dapat mengartikan tulisan tersebut. Hingga suatu kali sang permaisuri memberi rekomendasi kepada raja untuk memanggil Daniel, yang dinamai Beltsazar (ayat 10-12).

Pada akhirnya dari seluruh daerah itu, hanya Daniel yang dapat mengartikan tulisan tersebut (ayat 18-28). Sebenarnya apa yang membuat Daniel memiliki roh yang luar biasa tersebut?

Excellence of Daniel

Excellence means above average

Spirit of excellence berarti memiliki kemampuan di atas rata-rata. Daniel disebutkan mampu menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan (ayat 12 TB).

Selain itu, kemampuannya juga dipercaya dan diakui oleh orang. Ini dibuktikan dengan adanya permaisuri yang merekomendasikan dirinya. Roh yang luar biasa butuh untuk menjadi berkat bagi orang lain. Oleh karena itu, skill dan knowledge yang dimiliki Daniel harus diketahui banyak orang.

Tidak hanya itu, excellence juga bergandengan erat dengan hikmat dan akal budi (ayat 14). Daniel masuk kategori di atas rata-rata bukan hanya karena kepintarannya, tetapi karena ia memiliki hikmat dalam bertindak dan berkata-kata.

Tidak cukup memiliki kemampuan dan pengetahuan yang banyak, kalau kita ingin menjadi orang yang excellence, kita harus memiliki hikmat.

Excellence means being holy

Memiliki spirit of excellence berarti memiliki Holy Spirit. Di tengah-tengah para penduduk yang menyembah dewa-dewa tembaga, besi, dan perak, Daniel disebutkan memiliki “roh para dewa yang kudus” (ayat 11).

Menarik untuk disimak karena banyak penduduk Babel tidak mengenal Allah tetapi mereka mengakui bahwa Daniel adalah orang yang kudus.

Seringkali orang mengkonotasikan excellence hanya dengan kepintaran, degree, dan skill. Padahal di Alkitab dituliskan bahwa Daniel tidak hanya excellent, tapi ia dikenal sebagai seseorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus.

Saya sangat menyukai quotes dari C.S. Lewis yang menyatakan:

Education without values, as useful as it is, seems rather to make man a more clever devil – C.S. Lewis

Ini harus membuat kita hati-hati ketika mengejar excellence, jangan sampai kita terjerumus pada kesombongan. Orang yang pintar tetapi memiliki moral yang jahat menjadi semakin berbahaya.

Perlu berkaca juga pada diri sendiri: ketika kita merasa hebat, apakah karakter dan kehidupan kita mencerminkan Allah yang kudus? Atau jangan-jangan malah perilaku yang kudis? Bukannya berpusatkan pada Kristus, kita malah berpusatkan pada achievement.

Education without values

Being excellent doesn't mean being number one

Perhatikan bahwa Daniel bukan orang yang pertama dipanggil oleh raja (ayat 7-8). Semua orang bijaksana, para ahli jampi, para Kasdim, serta para ahli nujum dari seantero negeri sudah dipanggil dan dikumpulkan. Daniel tidak muncul dalam list pertama pilihan raja.

 

Ketika kita memiliki penyakit, pasti mau ke dokter yang paling hebat kan? Gak mungkin kita cari dokter yang abal-abal atau yang baru lulus. Kita mencari dokter yang spesialis, agar diagnosanya tepat.

 

Nah, bayangkan juga betapa besarnya kerajaan Babel pada waktu itu! Sebenarnya banyak orang ahli dan orang pintar. Mereka semua berkumpul dari seluruh penjuru dan itu membutuhkan beberapa waktu untuk mencapai istana raja.

Ingat bahwa di zaman ini belum ada listrik dan alat transportasi masal. Setelah sebegitu lamanya pun Daniel masih belum muncul dalam benak para “staf ahli” di istana.

Tapi Alkitab menyatakan kebenarannya, bahwa seringkali menjadi orang yang excellent-pun, bukan berarti kita menjadi orang nomor satu. Bukan berarti kita selalu berada di posisi paling atas (secara jabatan, karir, dan network).

Padahal pada pasal-pasal sebelumnya Daniel merupakan orang kepercayaan Nebukadnezar (ayah dari Belsyazar) (baca: Daniel 4:8-9, 19). Tapi dari kehebatannya dan track record-nya yang luar biasa tidak membuat Daniel dipanggil paling pertama.

Seringkali orang salah pengertian bahwa menjadi orang yang excellent harus menjadi number one, padahal tidak selalu seperti itu. Excellence is not being number one, but being your best one.

Excellent doesn't mean being number one

Jadi bagaimana untuk bisa mendapatkan spirit of excellence?

1. Menguasai Diri

Daniel adalah contoh yang baik dalam penguasaan diri. Saya yakin ia mencapai dalam tahap kebijaksanaan seperti ini oleh karena ia melatih dirinya.

Dalam Daniel pasal 1 misalnya, kita bisa melihat bahwa ia mampu menahan diri dari godaan kenikmatan dunia. Ketika raja memberikan kesempatan kepada setiap orang cakap untuk menikmati makanan dan minuman yang enak, Daniel menolaknya.

Bayangkan ketika kita diberikan makanan gratis dan berkualitas tinggi! Akan sangat sulit menolaknya, bukan?

Tetapi Alkitab menyatakan bahwa Daniel berkomitmen untuk “tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja” (Daniel 1:8). Ia memilih untuk mengkonsumsi sayur dan air putih.

Pada akhirnya, Daniel dan ketiga orang temannya yang menahan diri tersebutlah yang memiliki kualitas paling baik dibanding orang pintar lainnya.

Ketika kita ada dalam proses menjadi pribadi yang excellence, pasti banyak tantangan dan godaan yang ada agar kita tidak disiplin. Godaan itu bisa berupa menunda-nunda pekerjaan atau mengerjakan sesuatu dengan setengah hati.

The enemy of great

Jim Collins, dalam bukunya “Good to Great: Why Some Companies Make the Leap… and Others Don’t” menyatakan bahwa Good is the enemy of great”. Kita seringkali menginginkan menjadi baik, tetapi tidak mau berusaha lebih lagi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Bisa juga kita mengerjakan segala sesuatu asal-asalan hanya karena kita tidak menyukai atasan kita atau pekerjaan yang kita lakukan. Padahal, salah satu bentuk memiliki spirit of excellence adalah menguasai dan melatih diri kita agar terus memberikan yang terbaik.

Musuh excellence adalah kemalasan; kenyamanan; sesuatu yang instan. Kita mau cepat jadi kaya, mau cepat naik tangga sosial. Padahal lewat proses itulah karakter kita terbentuk.

Untuk menjadi orang yang excellence kita harus berada di atas-rata. Itu artinya juga bahwa kita harus melakukan effort di atas rata-rata.

Good is the enemy of great

2. Dipenuhi Roh Kudus

Seringkali kita mengejar excellence tetapi tidak mencari sumber dari excellence: Roh Kudus.

The fear of the LORD is the beginning of wisdom, and knowledge of the Holy One is understanding. – Proverbs 9:10

Apa maknanya? Mengapa disebutkan bahwa untuk mendapat hikmat kita perlu takut akan Tuhan? Mengapa untuk mendapat pengertian kita perlu pengetahuan akan Roh Kudus?

Mengutip Abraham Kuyper,

“There is not a square inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is Sovereign over all, does not cry, Mine!”

Tidak ada satu incipun di dunia ini dimana Allah yang berdaulat di atas segalanya yang bukan milik Kristus. Ini berarti untuk mengetahui segala sesuatu di atas dunia ini dan ciptaan-Nya, kita harus mengenal sang Pencipta itu sendiri.

Ini bukan berarti orang ateis tidak dapat menciptakan segala sesuatu, tidak bisa mengajar dengan baik, atau tidak bisa pintar. Mereka bisa saja kreatif, pintar, menemukan teori banyak, karena common grace. Semuanya disediakan oleh Tuhan. Alam semesta adalah bagian dari ciptaan Tuhan dan semua orang dapat mengaksesnya.

Bukan berarti kalau ateis gak bisa dapet matahari, gak berlaku hukum gravitasi. Hanya saja, ketika mereka berargumen secara mendasar mengenai asal muasal alam semesta dan tujuan hidup manusia, mereka tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

Darwin & Skepticism

Orang-orang skeptis menyatakan bahwa semuanya tidak memiliki arah dan tujuan. Richard Dawkins mengatakan: “The universe we observe has precisely the properties we should expect if there is, at bottom, no design, no purpose, no evil and no good, nothing but blind, pitiless indifference”

Untuk memiliki arah dan tujuan hidup untuk segalanya, kita harus tunduk pada kekuasaan Allah. Setiap niat untuk belajar, bekerja, dan berkarya haruslah didasari takut akan Tuhan.

Tanpa mengakui bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya, semua pengetahuan akan sia-sia. Semua adalah ciptaan Tuhan, sehingga untuk mengetahui hasil karya-Nya, kita harus mengenal pencipta-Nya.

Baca juga: Tomas, si skeptis yang beriman

3. Berhenti membandingkan dengan orang lain

Orang yang excellence gak perlu mempromosikan dirinya sendiri, orang akan mempromosikan dirinya. Pada Daniel 5:10, permaisuri mempromosikan Daniel kepada raja.

Bayangkan bagaimana perasaan Daniel pada saat semua ahli nujum, orang Kasdim, dan orang bijaksana dipanggil oleh raja tetapi Daniel tidak mendapatkan panggilan sama sekali?

Padahal dia tahu bahwa ia adalah kepercayaan raja Nebukadnezar (ayat dari Belsyazar) dan ia memiliki kemampuan di atas rata-rata. Apakah karena kejadian ini membuat Daniel otomatis menjadi insecure dan ngambek?

Tetapi Alkitab mencatat bahwa Daniel tetap rendah hati dan tenang dalam menjawab panggilannya. Ia bahkan menolak pemberian raja yang sangat extravagant itu (Daniel 5:17).

Meski tidak menjadi yang pertama dan tidak memiliki imbalannya, Daniel tetap mengerjakan pekerjaannya dengan luar biasa. Ia dapat mengartikan mimpi raja dengan akurat.

Daniel tidak pasang harga. Ia tidak peduli ia ada di posisi nomor berapa di list orang-orang kepercayaan si raja. Ia tidak menjadi marah dan iri hati ketika tidak masuk speed dial kerajaan.

Orang yang punya spirit of excellence gak akan membandingkan dirinya dengan lain, tetapi ia akan menampilkan yang terbaik dari dirinya. Ia akan fokus memperlengkapi dirinya dengan hal-hal yang baik.

Orang yang excellence tidak pusing memikirkan standar dan prestasi orang lain, ia fokus terhadap apa yang ia mampu untuk lakukan. Ia fokus terhadap apa yang Roh Kudus mampu kerjakan di dalam dirinya.

Stop membandingkan dengan orang lain

Source:

James C. Collins, Good to Great: Why Some Companies Make the Leap-and Others Don’t (New York: HarperBusiness, 2001).

Richard Dawkins, River Out of Eden: A Darwinian View of Life (New York: Basic Books, 1995).


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *