Review The Culture Code

Tiga Kunci Membangun Kultur yang Baik – Review buku The Culture Code

Spread the love

Review The Culture Code

Pengarang: Daniel Coyle

Publisher: Bantam Books

Year: 2018

Rating: 3.5/5 (baca: how I rate books)

Saya suka membaca psikologi dalam perusahaan atau organisasi (organizational behavior psychology) seperti karya-karya Adam Grant, sehingga buku ini menarik perhatian saya. Review The Culture Code

Review The Culture Code

The Culture Code adalah buku yang membahas tentang kunci untuk menghasilkan kultur perusahaan yang sukses. Daniel Coyle menyebutkan ada tiga kesamaan di antara seluruh grup yang berhasil melewati keadaan sulit sekalipun.

Successful Group Quotes

1. Bangun Rasa Aman

Ketika kita berada dalam grup yang memberikan rasa aman, otomatis kita tidak ragu untuk memberikan versi terbaik dari diri kita. Grup ini memiliki kualitas yang penuh dengan energi dan sinyal bahwa relasi ini akan bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Pemimpin dalam grup ini memperlihatkan visi yang jelas dan pada saat yang sama mengapresiasi siapapun yang bekerja di sana. Hal ini tidak cukup dilakukan sekali, tetapi tentang membangun hubungan dan bahwa apapun yang dikerjakan adalah dalam konteks tersebut.

Salah satu kisah yang paling saya suka dalam bagian ini adalah mengenai gencatan senjata yang terjadi pada malam Natal tahun 1914 di tengah-tengah Perang Dunia I. Di tengah malam yang dingin dan menegangkan tersebut, ada sebuah lagu yang dinyanyikan.

Tidak ada yang tahu darimana mulainya, tetapi lagu ini membuat suasana menjadi cair dan kedua belahan yang tadinya musuh ini sekarang memberi tepukan kepada intrepretasi lagu Natal atau mars militer yang terbaik.

Interaksi ini berlanjut dalam bentuk makan bersama, bermain sepak bola, memperlihatkan foto-foto, dan menguburkan mereka yang meninggal. Kisah ini kemudian disebut sebagai Christmas Truce.

Cara Implementasinya:

  1. Overcommunicate Your Listening: Coba berikan komunikasi dalam bentuk gestur atau ucapan yang lebih daripada biasanya. Grup yang sukses biasanya memberikan “kode” bahwa kita memahami satu sama lain
  2. Overdo Thank-Yous: berikan ucapan terima kasih yang banyak, terutama jika Anda adalah pemimpin grup tersebut.
  3. Create Safe Spaces: Hal ini bisa terlihat dari desain kantor Pixar. Buatlah kantor/area kerja Anda terbuka untuk berkomunikasi dan tempat untuk menukar ide-ide menarik.

2. Berbagi Kerentanan Psikologis (Vulnerability)

Ada suatu kisah tentang kecelakaan yang terjadi pada pesawat United Airlines pada tanggal 10 Juli 1989. Pada menit ketiga, terdapat ledakan besar dari ekor pesawat. Kemudian seorang pelatih pilot bernama Denny Fitch yang berada dalam pesawat sebagai penumpang kemudian menawarkan dirinya untuk membantu.

Ia memberikan dirinya untuk membantu sang pilot melakukan apapun yang disuruh. Sang pilot, co-pilot, dan Denny Fitch bahu membahu berkomunikasi lewat kalimat-kalimat yang singkat dan cepat.

Cara ini disebut sebagai notifications, dimana para anggotanya memberikan konteks (bukan perintah) tentang apa yang terjadi, mirip dengan seorang anak sedang menunjuk dan berkata, “saya melihat ini!”

Meskipun pada akhirnya mereka menabrak landasan dengan parah, tetapi 185 orang selamat, termasuk seluruh kru di dalamnya. Berbagi kerentanan di antara ketiga pengemudi pesawat itulah yang menyelamatkan mereka.

Sharing Vulnerability mengakibatkan setiap orang mengandalkan satu sama lain dan membuat suatu tim lebih erat daripada sebelumnya. Setiap individu di dalamnya benar-benar mendengarkan dan menanyakan apa yang terjadi, menggali lebih dalam.

Cara Implementasinya:

  1. Make Sure the Leader Is Vulnerable First and Often: kerja sama suatu grup dibangun dari momen kecil berbagi kerentanan tetapi sering. Hal ini memberikan kode bahwa berbagi adalah hal yang wajar dan sangat diterima dalam grup.
  2. Listen like a trampoline: mendengarkan itu lebih dari sekedar mengangguk, tetapi memberikan ide-ide dan menciptakan momen penemuan baru. Orang-orang yang mendengarkan secara aktif merespon juga secara aktif.
  3. Embrace the Discomfort: salah satu untuk maju adalah menerima ketidak-nyamanan. Hal ini bisa berupa luka secara emosional dan hal yang terasa tidak efisien. Kuncinya adalah memahami bahwa sakit itu bukanlah masalahnya, tetapi jalan menuju grup yang lebih kuat.
Review Buku The Culture Code

3. Memiliki Tujuan

Pada tahun 1957, James Burke (presiden dari Johnson & Johnson) memanggil 35 senior manajernya untuk mendiskusikan tentang dokumen selembar berusia 32 tahun bernama Credo.

Credo ini dibuat di tahun 1943 oleh pemimpin sebelumnya dan membicarakan tentang tanggung jawab perusahaan tersebut terhadap “doktor, suster, dan pasien; serta ayah dan ibu dan semua orang yang memakai produk serta jasa” mereka.

Credo ini dipajang di tempat yang mudah dilihat dan diukir di tembok granit di New Jersey. Di tahun 1982, Credo ini menyelamatkan perusahaannya.

Ada enam orang meninggal di Chicago karena meminum Tylenol yang terkontaminasi sianida. Keesokan harinya, korban ketujuh ditemukan. Berita ini membuat geger negara Amerika dan Johnson&Johnson menjadi terkenal sebagai penyuplai racun.

Mengingat Credo dari perusahaannya, Burke memutuskan untuk mencabut seluruh produknya (meskipun FBI hanya menyarankan mengambil supply yang ada di Chicago). Mereka kemudian juga membuat kemasan baru, membangun program untuk refund dan penggantian barang yang sudah dibeli.

Dalam beberapa tahun ke depan, respons Tylenol ini menjadi standar emas dalam menghadapi krisis korporat. Credo tersebut memberi orientasi cara berpikir dan perilaku terhadap ribuan orang yang bekerja di perusahaan itu.

Cara Implementasinya:

  1. Name and Rank Your Priorities: dalam berjalan menuju tujuan, Anda harus terlebih dahulu memiliki tujuan. Mayoritas grup yang sukses hanya memiliki prioritas yang sedikit dan menentukan apa yang menjadi identitas mereka.
  2. Be Ten Times as Clear About Your Priorities: tidak hanya penting memiliki target, tetapi Anda juga harus membicarakannya berulang kali. Salah satu caranya adalah kerap kali mempertanyakan visi dan tujuan grup Anda, sehingga membangun suatu keterbukaan dan kejelasan dalam level yang berbeda.
  3. Measure What Really Matters: salah satu hambatan dalam menunjuk prioritas yang benar adalah dunia yang penuh dengan kebisingan dan tujuan alternatif. Oleh karena itu, penting bagi Anda seorang pemimpin untuk membuat suatu alat pengukur universal yang memfokuskan pada hal-hal yang penting.
Quotes Good Team

Review The Culture Code: 3.5/5

Hal yang saya suka dari buku ini adalah karena sangat mudah dibaca. Pengarangnya tidak memakai istilah-istilah yang sulit dan kisah yang diceritakan adalah pengalaman yang benar-benar terjadi.
 
Buku ini juga didasari oleh penelitian yang baik dan pengarangnya tidak terdengar begitu “sombong”. Selain itu, dalam akhir setiap bagian, Daniel Coyle memberikan beberapa ide praktis bagaimana para pembacanya dapat mengimplementasi ide-ide ini dalam kehidupan sehari-hari.
 
Salah satu hal yang saya kurang suka adalah karena buku ini sepertinya tidak memiliki ide yang original. Isinya hanya berdasarkan beberapa riset dan kisah nyata yang digabung dalam tiga bagian. Jadi kalau kalian mencari sesuatu yang segar dan inovatif, lebih baik cari di tempat lain saja.
 
Tapi overall, buku ini tetap bagus untuk dibaca terutama jika Anda adalah seorang manajer atau wirausaha yang memimpin suatu grup dan ingin tips praktis tentang mengembangkannya. Buku ini memiliki banyak kisah menarik berdasarkan pengalaman nyata yang dapat membuat Anda berpikir secara kreatif. Review the culture code

Suka baca buku?
Mau rekomendasi buku-buku seru?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk subscribe ke newsletter blog ini dan promosi buku-buku terbaru:


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *