Review Buku Steve Jobs

Review Buku Steve Jobs: Pelajaran Hidup dari CEO Apple

Spread the love

Judul Buku: Steve Jobs

Penulis: Walter Isaacson

Penerbit: Simon & Schuester

Tahun: 2011

Rating: 5/5 (beli hardcovernya dan simpan selamanya!)

Beli di: Book Depository (link afiliasi)

Sukses dengan buku best-sellernya: Leonardo da Vinci dan Einstein, kini Walter Isaacson meneliti satu sosok populer yang kekinian. Di blog post ini saya akan berusaha memaparkan review buku Steve Jobs yang keluar tahun 2011.

Review Buku Steve Jobs

Minat Steve Jobs terhadap benda-benda elektronik dikenalkan oleh ayah angkatnya, Paul Jobs. Ia sering memperbaiki mobil dengan membeli spare part secara terpisah.

Sikap Jobs yang pemberani sudah terlihat sejak ia masih muda. Zaman itu seluruh nomor telepon dapat ditemukan di buku kuning, sehingga pada saat ia membutuhkan spare part, ia menelepon Bill Hewlett dari Hewlett-Packard di rumahnya untuk me-requestnya.

Ketertarikannya terhadap elektronik inilah yang membuatnya cocok dengan Stephen Wozniak. Mereka berdua langsung cocok secara instan dan kemudian merintis produk komputer yang hingga sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Tentu perusahaan Apple menjadi sesukses sekarang juga membutuhkan banyak kerja keras dan kedisiplinan. Tapi tidak hanya itu, berikut ada beberapa strategi manajemen bisnis Steve Jobs yang bisa kita tiru untuk kehidupan kita juga:

1. Kelilingi diri kalian dengan orang-orang Excellent

Steve Jobs selalu memastikan ia memiliki orang-orang terbaik di perusahaannya. Kultur tersebut membuat hanya orang-orang “A-list” saja yang bisa bertahan.

Steve Jobs Terkenal dengan reality distortion field-nya, yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya terpesona dengannya dan tidak berpikir realistis. Namun, itulah justru yang mendorong rekan-rekannya untuk bekerja lebih keras demi membuat mimpi Steve menjadi kenyataan.

Memiliki orang-orang hebat tidaklah cukup. Steve Jobs juga memastikan orang-orang yang bekerja dengannya adalah orang yang bisa dipercaya.

Sekitar tahun 1997, ketika Steve Jobs kembali ke Apple, ia memberikan tantangan yang mengubah arah perusahaan ini selanjutnya: ia meminta seluruh board of advisor untuk mengundurkan diri.

Steve memastikan bahwa orang-orang yang akan bekerja dengannya adalah orang yang bisa dipercaya. Hal ini merupakan momen bangkitnya Apple. Pada Agustus 1997, saham Apple melonjak 33%, menambah nilai perusahaan tersebut sekitar 830 juta US Dollar.

Suka artikel ini?

Subscribe ke blog saya untuk mendapatkan artikel serupa secara gratis di inboxmu:

2. Berani Berinovasi

Produk-produk yang membuat Apple berbeda dari yang lainnya adalah oleh karena inovasi. iPhone yang diperkenalkan oleh Steve pada 2007 disebut “the Jesus Phone” oleh para blogger.

HP sebelum zaman iPhone memiliki layar dan keyboard untuk mengetik. Teknologi untuk menciptakan touch screen sebenarnya sudah ada, namun masih perlu menggunakan stylus.

Apple berinovasi menggabungkan tiga produk revolusioner dalam satu barang: iPod dengan sensor sentuh, HP yang revolusioner, dan alat komunikasi yang tergabung dengan internet.

Review Buku Steve Jobs

Tidak banyak juga yang tahu bahwa Steve Jobs juga menyelamatkan Disney dengan inovasi yang dilakukannya dengan Pixar. Sepuluh tahun setelah The Lion King, Beauty and the Beast, dan Aladdin, Disney tidak memproduksi film yang kuat.

Sedangkan Pixar (yang dipimpin oleh Steve Jobs pada saat itu) mulai memiliki nama di pasar oleh karena film-filmnya yang berkualitas: Toy Story, Toy Story 2, Monster’s Inc., dan A Bug’s Life.

Pixar pada awalnya bukanlah perusahaan animasi, tetapi fokusnya adalah memproduksi komputer dan software untuk animasi. Steve Jobs, yang tertarik pada pertemuan kreativitas dan teknologi, membeli Pixar dan membuatnya hidup kembali.

Pada tahun 1991, Disney dan Pixar membuat perjanjian untuk bekerja sama dalam pembuatan film animasi. Dari sinilah Toy Story, film pertama yang menggunakan komputer untuk memproduksi animasinya, lahir.

Kalian bisa nonton di Youtube mengenai betapa bangganya Steve Jobs ketika membandingkan kecanggihan Toy Story dengan film Blockbuster Star Wars dan Jurassic Park.

 

Steve Jobs and Pixar

3. No Detail is Too Small

Salah satu spirit of excellence Steve Jobs yang unik adalah filosofinya mengenai perancangan produk. Ia memperhatikan detail-detail kecil yang bahkan tidak terlalu penting dan tidak dilihat oleh konsumer dan memastikan semuanya terlihat indah.

Misalnya: ia mau supaya papan sirkuit di dalam Macintosh terlihat indah dan rapih. Para engineer awalnya tidak peduli dan menentang ide ini (karena ini berarti pekerjaan lebih berat untuk mereka!).

Tetapi Jobs berargumen bahwa lemari pun memiliki bagian belakang yang rapih, meskipun tidak ada orang yang melihatnya.
 
Setelah itu ia juga mau supaya Mac memiliki tepian yang melengkung. Akhirnya ia menyuruh para engineers untuk jalan berkeliling melihat contoh desain kotak dengan tepian melengkung sejauh tiga blok (di rambu-rambu lalu lintas, lampu merah, jendela mobil).
 
Memang, perhatiannya terhadap detail seringkali membuatnya bertengkar dengan banyak orang. Ada testimoni dari pekerja Whole Food dekat rumah Steve Jobs bahwa ia pernah melihat Jobs duduk di mobil dan berteriak dalam telepon: “Not.F*cking.Blue.Enough!”.
 
Rupanya Steve Jobs sedang bertengkar dengan para desainer marketing Apple karena warna birunya kurang “biru” (whatever that means).
 

Contoh lain adalah pada acara launching Macintosh di tahun 1984. Jobs meminta Sculley untuk berpindah-pindah tempat duduk di teater tempat presentasi itu akan dilakukan untuk memberikan opini terhadap penataan cahayanya.

Filosofi Steve Jobs

4. Fokus!

Setelah Steve Jobs dikeluarkan dari Apple, perusahaan itu kehilangan arah. Ia berkata bahwa Apple lebih mementingkan profit daripada menciptakan produk yang bagus.

Apple mengerjakan beberapa versi untuk produk yang sama untuk menyenangkan beberapa retailer. Tim yang mediocre mengerjakan beberapa produk yang pada akhirnya tidak berguna.

Pada saat ia kembali ke Apple, Jobs mereview kembali lini produknya dan tidak menemukan jawaban yang puas untuk pertanyaan simpel seperti: “Produk mana yang saya akan rekomendasikan kepada teman-teman saya?”

Ia kemudian memotong 70% dari produk yang sedang dikerjakan. Banyak orang tidak suka dengan keputusan ini, sehingga banyak yang keluar.

“You are bright people, you shouldn’t be wasting your time on such crappy products”

Pada tahun pertamanya kembali, Steve Jobs mengeluarkan lebih dari 3000 karyawannya. Apple rugi sebesar US$1.04 milyar di tahun 1997 pada saat Jobs kembali menjadi interim CEO.

Setelah dua tahun merugi, Apple akhirnya mencicipi kwartal pertama yang menguntungkan, meraip US$45 juta. Sepanjang tahun 1998, Apple meraup keuntungan sebanyak US$309 juta

Menjadi sukses berarti berani berkata tidak untuk hal-hal yang tidak penting. Kemampuan Steve Jobs untuk memisahkan produk mana yang patut dilanjutkan dan harus diterminasi membangkitkan kembali visi Apple.

Review Buku Steve Jobs

Review buku Steve Jobs: Final Verdict

Memang benar katanya: tak kenal maka tak sayang. Buku ini adalah semacam A-Z guide untuk mengenal Steve Jobs. Setelah membaca buku ini saya menjadi semakin mengaguminya.

Walter Isaacson menjalin ceritanya dengan baik, setiap bab memiliki satu topik tertentu sehingga enak untuk dibaca. Ia juga berusaha menyeimbangkan antara komentar positif tentang Jobs dan juga pandangan negatifnya.

Jika saya harus memberikan satu kata untuk review buku Steve Jobs ini, saya akan memakai kata “komprehensif”. Kehidupan Steve Jobs dirangkum secara lengkap (dari kepribadiannya, keluarganya, serta pencapaiannya) dalam buku setebal 600 halaman ini.

Hal yang mungkin membuat saya kurang suka membacanya lebih kepada bentuk buku daripada isinya. Bukunya yang berat dan font-nya yang kecil membuatnya capek untuk dibaca lama. Selain itu, tidak mungkin membawa kemana-mana karena bentuknya besar.

Tapi selebihnya, saya akan merekomendasikan kalian baik yang mau tahu tentang Steve Jobs ataupun yang mau belajar tentang strategi bisnisnya yang revolusioner.

Follow akun instagram saya untuk review buku lainnya: @deliciamandyreads


Spread the love

One thought on “Review Buku Steve Jobs: Pelajaran Hidup dari CEO Apple

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *