Review Buku Filosofi Teras Header

Tips Memperkuat Mental – Review Buku Filosofi Teras

Spread the love

Hallo semuanya, kali ini saya ingin menulis review buku Filosofi Teras. Buku ini cukup populer di kalangan para bookstagram, jadi saya penasaran dan mencoba bikin review-nya.

Buku ini gak terlalu tebal dan bacaannya dibawa dengan ringan dan menarik, sehingga tidak sulit untuk menyelesaikannya kurang dari seminggu (kalau rutin membaca).

Dari buku ini, gw belajar bahwa “Kita gak bisa mengontrol apa yang diluar kendali kita. Jadi jangan stress sama hal-hal eksternal”.

Review Buku Filosofi Teras

Takut, Stress, atau Khawatir?

Sebelum itu, kita perlu tahu dulu apa perbedaannya takut, stress, sama khawatir:

Takut : kita tau sumbernya (takut setan, takut gelap)

Stress : tekanan, sampai mengganggu keseimbangan hidup kita

Khawatir : tidak jelas penyebabnya, sehingga ada diagnosis bernama “gangguan cemas menyeluruh” yaitu orang yang suka khawatir berlebihan tentang segala sesuatu di dalam hidupnya.

Nah, tapi mengetahui artinya bukan berarti kita bisa membuatnya hilang begitu saja. Oleh karena itu, Henry Manampiring –sang pengarang buku- mengatakan bahwa penting untuk kita punya Dikotomi Kendali.

Dikotomi Kendali

Some things are up to us, some things are not up to us. Banyak orang berpikir kekayaan, reputasi, kesehatan adalah dibawah kendali kita (contoh: kita bisa jaga makan terus sakit juga karena virus, atau orang menyerang reputasi kita dengan cara yang tidak sehat).

Menurut Filosofi Stoa (yang disebut sebagai Filosofi Teras dalam buku ini) yang di bawah kendali kita adalah:

  1. Pertimbangan, opini atau perspektif kita
  2. Keinginan kita
  3. Tujuan kita
  4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran kita dan tindakan kita sendiri

Bagi para filsuf stoa, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan adalah tidak rasional.

Baca juga: Tiga hal yang kamu perlu lakukan untuk menghindari depresi

Ingatlah bahwa tubuh kita bisa terjepit atau terpenjara, tetapi pikiran dan persepsi kita tetap bebas. Basically freedom of thoughts! Jadi jangan biarkan hidup kita terpenjara karena persepsi kita.

Freedom of Thought ini sulit untuk dimiliki karena seringkali tanpa sadar kita berencana dan bertindak demi mengikuti pendapat orang lain. Padahal, kalau kita hidup hanya berdasarkan apa kata orang, kita tidak akan pernah sukses/kaya.

Quotes Filosofi Teras

Salah satu contoh yang paling gw ingat dari buku ini adalah kisah tentang Bapak dan anaknya, Adi:

Adi: “Paaaaa, Adi dikatain mirip monyet sama temen-temen!!”

Bapak: “Adi merasa mirip monyet gak? Mau papa ambilin foto monyet??”

Adi: “Enggak Pa, Adi gak mirip monyet.”

Bapak: “Terus, masalahnya dimana?”

Suka baca buku?
Mau dapetin review buku seperti ini?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk dapetin review, artikel, dan promosi buku impor terbaru:

Pola Pikir S-T-A-R

Filosofi Teras memberikan satu tips mujarab untuk mengubah persepsi kita. Ketika mendapat situasi apapun, kita harus menerapkan pola pikir STAR:

STOP – Ketika merasakan emosi karena satu hal kita harus STOP.

THINK – Sesudah berhenti coba kita pikiran secara rasional apa yang terjadi didepan kita.

ASSESS – Ini yang paling penting menurut gw: apakah yang kita pikirkan setelah kejadian itu adalah fakta objektif atau hanya personal judgment. Misalnya kita ulang tahun kemudian seseorang tidak mengucapkan selamat ultah.

Pikiran kita bisa berkembang kemana-mana, mungkin dia tidak peduli, tidak sayang, atau bahkan benci sama kita. Padahal fakta objektifnya adalah tidak mengucapkan ulang tahun. Opini ini menjadi sangat berbahaya.

RESPOND – kita harus hati-hati dalam merespon. Hal yang dipegang oleh kaum stoa dalam merespon adalah menjadi bijak, adil, menahan diri, dan berani.

Tidak ada situasi yang terlalu berat sampai kita tidak mampu mengendalikan interpretasi kita

Memperkuat Mental

Kita memiliki kebiasaan untuk membesar-besarkan masalah sehingga hal itu terasa sangat sulit dan memberatkan, padahal hal tersebut hanya ada di perspektif kita aja.

 

“Satu hal yang penting untuk selalu diingat : tingkat perhatian kita harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kamu tidak memberikan kepada hal-hal remeh waktu lebih banyak dari selayaknya” – Marcus Aurelius (Meditations)

Jangan berpikir bahwa filosofi stoa berarti hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi stoa memiliki arti jika kamu melukan kebaikan dan tidak dibalas, ya gapapa! Woles saja.

Baca juga: Seni untuk bersikap bodo amat

Kamu sudah melakukan apa yang sudah diminta oleh alam dan tidak perlu menuntut hal lainnya, “dan ketika kita sudah membantu sesama, kita sudah melakukan apa yang menjadi tugas kita. Kita melakukan fungsi kita.”

Kamu tidak akan dihina orang lain, kecuali kamu sendiri yang pertama-tama menghina dirimu sendiri

Quotes Review Buku Filosofi Teras

Latihan Menderita

Sempatkan dalam setahun kalian memakan makanan yang paling murah atau pake baju terburuk atau hal-hal paling sederhana lainnya kemudian katakan pada dirimu sendiri: “inilah kondisi yang saya takuti. Justru dalam kondisi seperti ini jiwa saya harus diperkuat untuk menghadapi kesulitan yang lebih besar

 

Jika kamu ingin seseorang tak goyah saat krisis menghantam, maka latihlah ia sebelum krisis itu datang”

Kenapa kita perlu melatih diri menderita?

Sebuah survei menunjukkan bahwa setiap orang yang memenangkan lotre di Amerika setelah 18 bulan, perasaannya akan menjadi biasa saja ketika mendapatkan hal yang menurut orang lain itu luar biasa.

Misalnya mereka dapat promosi, naik gaji, baju baru, mobil baru, dan lain-lain itu akan jadi biasa aja. Sebaliknya, saat kita memakai hal-hal yang sederhana, kita akan sangat menikmati menggunakan barang-barang “mewah” kita lagi.

Nilai Akhir: 3.5/5

Pada akhirnya, meskipun gw suka banget sama ide-ide dari buku ini, tapi gw kurang suka dengan gaya penulisannya. Terkadang cara pembawaannya terlalu cheesy dan terlalu santai. Ini tentu tergantung pada selera kalian sebagai pembaca.

Baca juga: How I Rate My Books

Namun, buku ini saya rekomendasikan bagi kalian yang struggling dengan anxiety atau terlalu berlebihan menilai pandangan orang lain, karena poin-poinnya bagus banget untuk mengubah cara berpikir.

Buku ini juga bagus buat yang kalian suka sama tipe penulisan “The Subtle Art of Not Giving A F*ck”, karena konsepnya ada yang mirip-mirip. Soo, buat gw kalau kalian suka sama topik dan gaya penulisannya, beli bukunya! Kalau kalian suka yang lebih serius, mendingan pinjem aja bukunya (kontak gw aja kalau mau pinjem, hehehe…)


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *