Galatia 2

Pilih mana: Tradisi atau Kebenaran? Sebuah perenungan dari Galatia 2:4-5

Spread the love

“Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.”

Galatia 2:4-5

Paulus menulis ayat ini kepada jemaat di Galatia dan tertulis bahwa pada waitu itu ia sedang bersama-sama dengan Titus. Titus berasal dari Yunani, dan sepertinya ada jemaat-jemaat lain di antara mereka yang kemudian menghasut Paulus agar Titus mau disunat, seperti layaknya tradisi orang Yahudi.

Bagian dari surat Paulus ini membuat saya bertanya: mengapa hal ini menjadi suatu hal yang penting untuk dituliskan?

Yang paling penting esensinya kan???

Pertama, sebenarnya disunat atau tidak, yang penting kabar baik yang diberitakan kan? Yang paling esensial adalah bagaimana banyak orang kemudian akhirnya mendengarkan berita baik yang Titus sampaikan kan?

Just get on with it and move on, that’s what I thought.

Paulus menekankan pada kebebasan pada keterikatan pada hukum Taurat, termasuk bebas untuk tidak disunat. Hal ini memang simpel, tetapi menyangkut kebenaran Injil (ayat 5). Jika pada akhirnya Titus disunat juga, maka Paulus mengiyakan terhadap tradisi orang Yahudi dan yang nantinya menjadi contoh. Contoh bahwa tradisi memang perlu dan wajib dilakukan oleh semua orang non-Yahudi juga, untuk menjadi anggota orang gereja. Paulus dan Titus, sebagai seorang pemimpin jemaat, harus memberikan batasan yang jelas mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Ketika mereka memberitakan mengenai penebusan Kristus yang membebaskan, mereka benar-benar harus mewartakannya lewat perbuatan mereka.

Adanya "urgensi"

Kedua, ada kata “desakan” di sana. Desakan berarti sesuatu yang genting. Itu berarti orang-orang di sana memaksa secara terus menerus agar Titus disunat. Hal yang terus menerus didesak oleh banyak orang berarti adalah sesuatu yang harus dilakukan kan? So it must be the truth, right?

 

Kita sebagai orang Kristen harus berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dipandang baik oleh semua orang tetapi nyatanya tidak memiliki kolerasi dengan kebenaran Injil. Ini mengajarkan saya agar lebih menelusuri kembali apa yang dipandang baik oleh banyak orang, lalu kemudian membandingkannya dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan.

Dari orang-orang terdekat...

Ketiga, Paulus menyebut bahwa yang mendesak adalah “saudara-saudara”. It’s interesting Paul calls them brother, not strangers. Ayat ini menarik sekali untuk dilihat, karena yang mendesak mereka bukanlah orang asing dan orang yang jauh, tetapi orang yang dekat dengan mereka. Mungkin jemaat? Mungkin orang-orang percaya? Mungkin juga pengikut Kristus itu sendiri. Menarik bagaimana terkadang kita percaya terhadap suatu hal hanya karena orang-orang terdekat kita memercayainya. Newsflash: just because everybody believes in it doesn’t make it true.

Paulus tidak main-main dengan segala keputusan yang diambilnya. Paulus mengetahui dengan benar bahwa hanya dengan perbedaan sunat tersebut maka hal tersebut dapat memperhamba semua orang. Kebenaran Injil menjadi tidak relevan lagi karena hukum Taurat menjadi lebih daripada segalanya.

Tidak ada sesuatu yang kecil di mata Tuhan. Penyelewangan satu derajat pun jika ditarik garis yang panjang akan sangat terlihat bedanya. Ini membuat kita semua harus hati-hati terhadap setiap keputusan yang kita buat. Tuhan meminta keseluruhan hidup kita. Oleh karena itu setiap hal yang kecil maupun besar, harus dipertanggung-jawabkan di hadapan-Nya.


Spread the love

One thought on “Pilih mana: Tradisi atau Kebenaran? Sebuah perenungan dari Galatia 2:4-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *