Mempertahankan jati diri dalam hubungan

Pentingnya mempertahankan jati diri dalam suatu hubungan

Spread the love

Manusia adalah makhluk sosial. We have heard that a lot. Hal ini berarti kita membutuhkan orang lain untuk bisa bertahan hidup. Memiliki hubungan yang baik adalah tanda kehidupan yang sehat.

“It is not good for a man to be alone,” God said. Desain awal dari Tuhan adalah bahwa manusia tidak baik hidup sendiri.

Tetapi, pernahkah kalian juga merasa butuh “me time”? Waktu untuk berpikir sendiri. Tanpa dipenuhi keributan opini orang lain?

Atau bahkan kita merasa seakan-akan hidup kita diatur orang lain? Bahwa kita harus mengikuti semua yang didiktekan oleh mereka. Kita berpikir bahwa kita tidak memiliki pilihan.

Sebenarnya hidup berdampingan dengan orang lain itu dibutuhkan. Tetapi pada saat yang sama kita juga tidak boleh kehilangan diri kita. Kita membutuhkan jarak dari orang lain.

Who we are is different than who they are.

Mengenal diri kita lebih baik

Ada banyak sekali tes psikologi mengenai kepribadian.

Berdasarkan sumber energi, kita dibagi menjadi ekstrovert dan introvert. Ada lagi yang lebih dalam dengan melihat segala sisi pengambilan keputusan kita seperti MBTI (Myers Briggs Type Indicator).

Meskipun hal itu baik, tetapi mengetahui sumber energi, apa bahasa kasih kita, dan cara berpikir kita itu baru menyelesaikan setengah dari permasalahan.

Mengetahui perbedaan kita dengan orang lain adalah satu hal. Namun, mengakui dan menunjukkan perbedaan itu kepada orang lain adalah hal yang berbeda.

What I’m trying to say is:

Kita terkadang tahu apa yang kita sukai dan tidak kita sukai.

Kita tahu prinsip hidup kita.

Kita bisa mengatur tujuan hidup kita.

Tapi….

Terkadang ada aja orang yang tidak mampu mengetahui batasannya. Mereka menyebrang batas teritori kita dan berusaha membuat kita merasa buruk. Ada yang persuasif, defensif, and the worst type of all: manipulatif.

Memberi batasan dalam suatu hubungan

Dr. Henry Cloud dalam bukunya, Changes That Heal, menyarankan empat langkah praktis agar kita dapat mencapai kebahagiaan. Salah satunya adalah menetapkan batasan dalam hubungan kita.

Boundaries define us. Kita tahu ada beberapa perbedaan antara kita dengan orang lain. Selain wajah dan bentuk fisik lainnya, ada banyak hal yang mendefinisikan diri kita sendiri dan harus dipertanggungjawabkan.

Jiwa, tubuh, dan pikiran kita adalah milik kita. Sudah seharusnya kita memaknainya dengan lebih dalam. Jika kita memilih untuk tidak berpikir tentang diri kita, pada akhirnya kita akan bertanggung jawab atas pilihan orang lain atas hidup kita.

Kenapa kita yang harus bertanggung jawab?

Embed from Getty Images

Karena di akhir nanti, kita yang akan mempertanggung-jawabkan hidup kita di hadapan Tuhan. Kita yang akan menjawab pertanyaan-Nya mengenai pilihan kita. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan milik kita akan dimintai pertanggungjawabannya.

Why we need boundaries?

Terkadang kita tidak tahu dimana bagian dari diri kita yang sesungguhnya, atau yang kita lakukan karena diminta orang lain. Over-responsible untuk orang lain membuat kita kehilangan jati diri kita.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” – Matius 16:26.
 

Di sini kita bisa melihat bagaimana nyawa adalah sesuatu yang berharga. Kita bisa saja disukai semua orang, memiliki segala harta, dan umur yang panjang. Namun, penting juga membuat jiwa dan identitas yang sehat untuk diri kita dalam setiap hubungan.

Mungkin kita pura-pura suka merokok hanya untuk diterima oleh geng yang populer di sekolah. Kita ikut-ikutan seks sebelum menikah agar tidak diputusin sama pacar kita. Kita menguruskan badan agar terlihat lebih ideal di foto media sosial.

Jiwa, tubuh, dan pikiran kita adalah milik kita. Sudah seharusnya kita memaknainya dengan lebih dalam. Jika tidak kita memilih untuk berpikir tentang diri kita, pada akhirnya kita akan bertanggung jawab atas pilihan orang lain dalam hidup kita.

Tubuh jiwa dan pikiran adalah milik kita

Batasan seperti apa yang kita perlukan?

Sekarang kita tahu bahayanya tidak membuat batasan dalam suatu hubungan. Memiliki batasan justru menguatkan hubungan kita. Menjadi dewasa berarti berani bertanggung-jawab atas segala pilihan di hidup kita.

 

Berikut adalah beberapa aspek dalam diri kita yang harus diperhatikan:

1. Bertanggung jawab atas tubuh kita

Tubuh kita adalah milik kita. Ketika kita berbicara mengenai memberi batasan untuk tubuh kita, itu berarti kita mengambil tindakan untuk orang-orang yang berusaha melukainya.

Bayangkan tubuh kalian sebagai halaman rumah kalian. Kalian tidak akan membiarkan tetangga sebelah mengotorinya bukan? Kita harus menjaga agar yang baik saja yang masuk dan yang buruk tetap di luar. 

Ini berarti berani berkata tidak ketika ada orang lain yang menyentuhmu dengan tidak sopan. Berani menolak ketika pacar kita berusaha menyakiti kita. Memilih makanan yang lebih sehat. Pergi olahraga secara rutin.

Take control of your own body.

Menjaga Tubuh Kita Sendiri

2. Memiliki kontrol terhadap setiap perilaku

Segala tindakan kita memiliki konsekuensinya. Pada akhirnya kita akan menerima efek dari pilihan kita.

 

Ketika kita main ngebut di jalan, ada kemungkinan kita akan menabrak mobil atau orang lain. Ketika kita bermalas-malasan, kita tidak akan menjadi sukses. Kalau kita tidak berhenti menyalahkan orang lain, kita tidak akan maju.

 

Sama halnya juga ketika kita tidak melakukan sesuatu. Ketika kita tidak mendekatkan diri dengan Tuhan, kita tidak akan bertumbuh. Ketika kita tidak menghormati orang tua, kita akan menyesalinya.

 

Berhati-hati terhadap segala perbuatan yang kalian lakukan. Pada akhirnya kita akan meraup “buahnya”, baik itu manis ataupun pahit.

3. Mengendalikan pikiran

Kita harus memisahkan opini, pemikiran, dan nilai-nilai yang kita pegang dari pandangan orang lain. Bahaya sekali ketika kita tidak mampu berpikir untuk diri sendiri. Pada akhirnya kita hanya seperti textbook berjalan, yang selalu berusaha menjawab benar tetapi tidak memercayainya.

Ada banyak orang yang berusaha memanipulasi pemikiran kita. Mereka berusaha membuat kita berpikir bahwa kita tidak berguna, tidak cocok di tempat ini, dan tidak layak hidup. Tetapi ingatlah bahwa pikiran kita adalah milik kita.

Orang lain bisa berkata apapun terhadap diri kita, tetapi yang bisa memengaruhi perbuatan, reaksi, dan tindakan kita adalah diri kita sendiri.

Hal lain yang penting juga untuk diperkuat adalah iman kita. Jangan-jangan agama yang kita pegang hanyalah sekedar warisan orang tua kita. Kita pergi beribadah, membaca kitab suci dan berdoa tiap hari tetapi jiwa kita tidak menyembah. Apa yang kita yakini tentang Allah tidak pernah kita rasakan lewat pengalaman hidup kita.

4. Menguasai keinginan yang ada dalam diri

Memiliki pemikiran sendiri berefek pada keinginan yang mandiri. Seringkali kita mengatakan “ya” untuk sesuatu yang tidak kita sukai. Kita berkata “terserah” ketika ditanya mau makan dimana.

Sebenarnya baik adanya untuk mengikuti keputusan orang lain, tetapi kita perlu juga menyuarakan keinginan kita (off course you don’t have to shout it out loud like a baby). Ketika kita menjadi dewasa, kita perlu mengetahui apa yang kita suka dan apa yang kita tidak sukai.

Hubungan yang kuat hanya bisa dibangun oleh dua pribadi yang kuat. Dua pribadi yang mengetahui prinsip hidupnya dengan kuat dan tahu apa yang menjadi keinginan mereka. Setelah itu mereka membicarakannya dan bekerja sama menuju komitmen yang telah disepakati.

Bayangkan memiliki seorang suami yang ketika ditanya hubungan kita mau kemana, jawabnya hanya “gak tahu”. Atau memiliki seorang pemimpin yang tidak tahu apa tujuan dan keinginannya.

A strong person knows his/her likes and dislikes.

kunci dari hubungan adalah memiliki prinsip

5. Bertanggung jawab atas segala pilihan kita

Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak memiliki pilihan dalam hidup. Padahal sebenarnya adalah kita takut menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Mereka memberi alasan seperti, “nanti dia akan meninggalkan saya” atau “nanti saya dipecat”. They play the victim.

Tentu saja tidak bisa dipungkiri ada beberapa hal buruk yang dilakukan orang lain. Ada dosa dari orang lain yang kemudian berefek terhadap hidup kita. Tetapi perlu diingat kembali, ada konsekuensi untuk setiap pilihan yang kita buat. Even not making a choice is making a choice.

Ketika pacar kita meninggalkan kita karena kita menolak untuk berhubungan intim dengannya, kita memiliki pilihan untuk menangisinya atau memperbaiki diri kita lebih baik. Kita juga akan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan di kemudian hari. Kita kemudian bangkit dan mengembangkan hobi kita. Kita mencari support dari orang-orang terdekat kita agar bisa maju lagi.

Kita mampu membuat pilihan. Sekecil apapun pilihan itu, pada akhirnya hidup kita bergantung padanya. Jangan sampai kita menyesal ketika nanti kemampuan itu diambil daripada kita.

Jika kita tidak mengambil keputusan untuk kehidupan kita, orang lain akan memutuskannya untuk kita. If we don’t use our power, people will have control over us.

Not making a choice is making a choice

6. Mengenali kemampuanmu

Sama juga dengan kemampuan kita sendiri. Kita harus tahu dengan benar apa talenta kita, karena pada akhirnya Tuhan akan meminta pertanggung-jawaban akan hal itu (Matius 25:14-30)

Banyak orang akan mengatakan apa kelebihan kita. Orang tua kita juga mungkin akan mendesak kita untuk mengambil salah satu jurusan yang mereka pikir adalah yang terbaik. Tetapi hanya Tuhan yang mengetahui isi hati kita yang paling dalam. Kita harus bertanggung jawab untuk Tuhan, dan bukan untuk dunia.

On the other hand, kita juga tidak boleh memikirkan hal yang lebih tinggi daripada apa yang kita punya.

Roma 12 ayat 2-5 mengatakan:

“For by the grace given me I say to every one of you: Do not think of yourself more highly than you ought, but rather think of yourself with sober judgment, in accordance with the faith God has distributed to each of you. For just as each of us has one body with many members, and these members do not all have the same function, so in Christ we, though many, form one body, and each member belongs to all the others.” (NIV, dengan penebalan pribadi)

Janganlah berpikir mengenai diri sendiri terlalu tinggi dari yang seharusnya. Tetapi ingatlah bahwa setiap anggota tubuh Kristus memiliki bagiannya masing-masing….

Which brings us to our last number:

7. Menerima ketidakmampuan kita

Kita terkadang buta oleh ketidak-mampuan kita dan kemudian kelewat batas. Seringkali kita mengatakan “ya” untuk komitmen yang ditawarkan. Kita mau menyenangkan semua orang.

Well that isn’t going to work. Pada akhirnya kita memiliki waktu, energi, dan kemampuan yang terbatas. Kita akan burnout ketika kita mendorong diri kita terlalu jauh. (Baca juga: Tiga hal yang kamu perlukan untuk sembuh dari burnout).

Knowing who we are not actually can make us know who we are better. Knowing our limits means getting closer to know who we are.

knowing who you are not

Our boundaries define who we are

Yesus berkata, “woe to you when everyone speaks well of you” (Luke 6:26, NIV). Kita tidak dapat menjalani hidup kita untuk menyenangkan orang lain. Jangan mau diperhamba lagi oleh manusia, tetapi hanya hidup untuk Tuhan. Berhenti menganggap Tuhan kecil dan manusia besar.

Ketika kita membiarkan hidup kita diatur oleh kepuasan orang lain, kita dikontrol oleh mereka dan bukan oleh Tuhan. Belajar untuk berkata tidak. Ambil batasan dan definisikan siapa diri kalian.

Ketika kita berkata tidak untuk ketidak-benaran, ada banyak orang egois yang akan membencimu. Ketika kita menolak ajakan untuk berbuat onar, kita akan ditinggalkan oleh orang yang jahat.

Somebody doesn’t like you? Good, that means you’re doing the right thing. Kita perlu mengingat bahwa Tuhan Yesus datang bukan untuk membawa perdamaian, tetapi pedang (Matius 10:34).

Mulailah membuat definisi yang jelas mengenai siapa diri kamu. Berani berkata tidak dan berhenti memfokuskan diri kepada apa yang orang lain pikirkan. Jadilah orang yang aktif dan bukan reaktif.

Ingatlah bahwa pada akhirnya kita akan mempertanggung-jawabkan hidup kita masing-masing dengan Tuhan.

Soli deo gloria,

Delicia Mandy


Spread the love

2 thoughts on “Pentingnya mempertahankan jati diri dalam suatu hubungan

    1. Betul banget sis. Terkadang orang itu gak enakkan dan kemudian berkata “ya”untuk komitmen yang sebenarnya mereka gak mau ambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *