Perjalanan Menyusui

Pengalaman Menyusui (Berhasil Relaktasi)

Spread the love

Menyusui dan memberi ASI ekslusif pastinya adalah impian kebanyakan Ibu yang punya anak. Pada saat anak lahir, saya juga memiliki komitmen untuk setidaknya menyusui selama tiga bulan pada saat cuti melahirkan. 

Saya orang yang tidak suka kejutan, jadi beberapa bulan sebelum anak lahir, saya mempersiapkan diri dengan membaca banyak buku dan menonton video tutorial tentang memandikan anak, tips mengurus newborn, cara mengganti popok, dan lain-lain.

Tentu saja tidak lupa membuat checklist untuk barang-barang yang perlu dibeli serta persiapan untuk melahirkan. Saya melahirkan secara caesar terencana, sehingga saya juga mempersiapkan mental serta fisik untuk menghadapi operasi besar tersebut. Banyak orang-orang juga saya tanyakan mengenai pengalaman mereka untuk pemulihannya.

Baca juga: Five Lessons from “Little Women” that Make You A Better Women!

Dari begitu banyak persiapan, tidak ada satupun Ibu ataupun orang tua yang memperingati saya mengenai perjalanan menyusui dan drama yang akan muncul. Buku “What to Expect the First Year” memiliki hampir 200 halaman yang meng-cover tentang topik menyusui, itu berarti seperempat dari total 800 halamannya!

Belajar MengASIhi

Saya melahirkan anak saya, Ethan Manuel Kristanda, di pagi hari dan menghabiskan banyak waktu setelahnya untuk pemulihan sementara bayi saya ditaruh di kamar bayi. Pukul 14:00, bayi saya baru dibawa ke kamar kita untuk rooming in sebelum divaksin pada sore harinya.

Hari itu saya belum bisa diajarkan untuk menyusui karena masih pemulihan pasca operasi. Saya masih merasa kebal di bagian kaki sehingga belum bisa duduk ataupun baring ke samping. Oleh karena itu tenaga kesehatan di rumah sakit berkata bahwa besok baru akan diajarkan untuk menyusui.

Keesokan harinya suster membawa bayi saya ke ruangan sekitar pukul 09:00. Kemudian kita langsung belajar menyusui. Ia membantu mengasistensi posisi tangan dan posisi duduk saya agar nyaman. Secara mengejutkan, bayi saya langsung mau menghisap dan terlihat bahwa ASI saya sudah keluar di hari kedua pasca melahirkan!

Perjalanan Menyusui

Saya melahirkan anak saya, Ethan Manuel Kristanda, di pagi hari dan menghabiskan banyak waktu setelahnya untuk pemulihan sementara bayi saya ditaruh di kamar bayi. Pukul 14:00, bayi saya baru dibawa ke kamar kita untuk rooming in sebelum divaksin pada sore harinya.

Hari itu saya belum bisa diajarkan untuk menyusui karena masih pemulihan pasca operasi. Saya masih merasa kebal di bagian kaki sehingga belum bisa duduk ataupun baring ke samping. Oleh karena itu tenaga kesehatan di rumah sakit berkata bahwa besok baru akan diajarkan untuk menyusui.

Keesokan harinya suster membawa bayi saya ke ruangan sekitar pukul 09:00. Kemudian kita langsung belajar menyusui. Ia membantu mengasistensi posisi tangan dan posisi duduk saya agar nyaman. Secara mengejutkan, bayi saya langsung mau menghisap dan terlihat bahwa ASI saya sudah keluar di hari kedua pasca melahirkan!

Rasanya mengejutkan, bahagia, campur haru karena saya bisa menyusui. Beberapa teman saya ada yang tidak keluar ASInya dari hari pertama, ataupun kesulitan menunggu anaknya untuk menyusui (menghisap payudara) secara instan.

Hari itu saya menyusui baby Ethan beberapa kali hingga malam hari ketika suster mengambilnya kembali. Suster menawarkan apakah saya mau ditelpon untuk menyusui di tengah-tengah malam jika anak saya menangis. Tanpa keraguan lagi saya langsung mengiyakan.

Dari sepanjang malam saya hanya ditelpon dua kali, pertama sekitar pukul 23:00 dan yang kedua pukul 02:00. Setelah itu kita bertemu lagi di pagi hari, sekitar pukul 08:00. Saya sekarang menyadari bahwa selama dua hari tersebut ternyata saya jarang sekali menyusui, padahal biasanya anak baru lahir akan merasa haus atau lapar setiap satu atau dua jam.

Hari Pertama Kembali ke Rumah

Tiga hari pasca operasi, akhirnya kita diperbolehkan pulang ke rumah. Keadaan di rumah tidak semudah yang dibayangkan karena baby Ethan semakin sering lapar, menangis, dan mau terus menerus menyusu. Hal ini mengakibatkan keletihan yang sangat bagi saya dan suami.

Belum lagi ditambah drama kesakitan yang dihadapi karena saya masih belum mahir dalam memposisikan bayi untuk menyusui dan juga mengenal apa itu pelekatan yang benar. Hal ini mengakibatkan drama puting yang luka dan berdarah cukup sering.

Saya berpikir, “Apakah perjalanan menyusui akan selalu sesakit ini? Jangankan dua tahun, apakah saya bisa menjalaninya selama 3 bulan ini (selagi cuti melahirkan)?”

Saya juga menyadari bahwa Ethan hanya mau menyusui di satu payudara saja, sedangkan ketika menyusui di payudara kiri ia suka rewel dan hanya mau menyusu sebentar saja. Alhasil payudara yang kanan semakin banyak lecet dan nyeri.

Stress dan cukup lelah karena kurang tidur, ditambah dedek bayi yang terus menerus menangis tidak mau tidur, malam itu saya berkata ke suami, “Besok pagi kita beli susu formula saja ya, buat jaga-jaga”.

Menyusui itu...sakit?

Malam itu akhirnya kita lewati dengan tidur kurang dari dua jam karena baby Ethan tidak berhenti menangis dan kita tidak tahu bagaimana cara agar ia mau tidur.

Keesokan harinya, rumah sudah bagaikan kapal pecah karena pakaian kotor dari rumah sakit belum dicuci dan kita banyak berganti-ganti cara (dengan panik) untuk menghadapi kebutuhan si bayi kecil yang baru lahir ini. Hari itu berlangsung dengan tidak terlalu banyak drama, mungkin karena kita sedikit banyak sudah tahu ritme mengganti popok dan memandikan si bayi.

Namun, saya masih merasa kesakitan dalam menyusui dan memiliki luka yang menyakitkan sehingga menyusui itu memberikan rasa trauma tersendiri. Baby Ethan masih belum mau menyusui di payudara sebelah kiri, sehingga payudara kanan saya yang maju “berperang” sendiri.

Saya selama hari itu mengira karena puting di sebelah kiri lebih datar dan alirannya kecil sehingga ia tidak mau menyusu di sebelah itu. Akhirnya saya mencari-cari jawaban di google untuk membantu permasalahan yang saya coba diagnosa sendiri.

Beberapa komunitas Ibu menyusui dan artikel parenting menyebutkan bahwa penggunaan nipple shield bisa membantu puting yang datar sehingga anak bisa menyusu lebih baik. Akhirnya saya langsung beli pakai kurir same day supaya cepat sampai. Sorenya saya cuci dan kemudian disterilisasikan, besok saya akan coba memakainya.

Bengkak, Sakit, dan Demam

Malam itu saya coba pompa payudara sebelah kiri karena terasa kencang dan bengkak, dengan harapan akan lebih nyaman dan lembek. Tapi setelah 30 menit pompa, ASI yang keluar hanya membasahi bawah botol saja. Saya mencoba tidur sekitar pukul 12:00, dengan menyadari bahwa badan saya juga sudah sedikit demam.

Saya yang tidak berpengalaman dan tidak tahu apa-apa langsung berpikir, apa yang salah? Saya hanya menangis menahan sakit dan tidak tahu solusinya. Puji Tuhan, ada teman suami yang punya pengalaman menyusui dan merekomendasikan salah satu bidan senior di Rumah Sakit ternama di Jakarta Pusat untuk pijat laktasi. Kami langsung mengatur waktu untuk dapat bertemu beliau.

Setelah menceritakan kesulitan dan kesakitan yang saya alami, saya langsung menangis ketika beliau bersedia datang keesokan harinya (karena saya masih tetap ingin menyusui, tetapi tidak tahu apa permasalahannya!). Rasanya ia seperti seorang malaikat yang Tuhan kirimkan tepat pada waktunya.

Besok pagi kami bertemu dengan beliau di rumah dan beliau menjelaskan beberapa mitos-mitos tentang menyusui yang ada. Setelah itu ia mengecek cara saya menyusui dan masalah yang ada.

Ternyata permasalahannya ada pada penyumbatan yang sangat banyak pada payudara kiri, sehingga ketika disentuh (belum dipijat!) sudah nyeri sekali. Beliau berkata bahwa pijat ini akan terasa sakit sekali, jadi gapapa kalau menangis.

She’s definitely not kidding! Rasa sakitnya itu rasa tersakit yang pernah saya rasakan di hidup saya (I’m not exagerating). Momen itu merupakan 30 menit yang paling menyiksa karena tidak ada cara lain selain memperbaiki sumbatannya. Jika sumbatannya tidak dibenarkan maka akan berakibat fatal.

Beliau mengajarkan bahwa saya harus rajin-rajin pijat laktasi sendiri di rumah, lebih bagus kalau dua kali sehari supaya tidak terjadi sumbatan lagi. Ternyata setelah sumbatannya sudah hilang (dan saya meringis menangis kesakitan), payudara saya terasa lebih lembek dan tidak sakit lagi. Baby Ethan juga sudah mau menyusui di kedua payudara.

Bingung Puting

Sudah beberapa minggu lewat dan saya mulai terbiasa menyusui. Puting sudah tidak pernah luka lagi, payudara juga sudah tidak pernah lecet atau bengkak lagi. Saya dengar dan baca dari berbagai sumber, bahwa bayi jangan diberikan dot hingga teknik menyusui sudah benar, yaitu setelah 4-6 minggu post partum. Oleh karena itu, kita mulai mengenalkan Ethan ke dot pada akhir Maret, tepat setelah sebulan ia lahir.

Baru tiga hari menggunakan dot, saya kemudian jatuh sakit dan harus diopname selama beberapa hari. Mungkin karena sibuk menyusui dan sering telat makan, saya terkena diare akut di tanggal 1 April.

Saya diopname di rumah sakit selama 3 hari penuh dan akhirnya hanya bisa memompa saja selama diopname, karena tidak berani bawa si kecil ke RS yang gabung dengan pasien covid. Syukurnya di rumah ada ART dan orang tua yang bisa menginap sehingga Ethan minum susu dari ASI perah yang pernah saya bekukan sebelumnya.

Ethan menyusu memakai dot karena sakit saya datang secara mendadak dan tidak ada waktu untuk persiapan belajar memakai media lain (sendok, gelas sloki, feeder cup, atau pipet). Lebih parahnya lagi, sewaktu di RS supply saya terus turun dari hari ke hari. Awalnya masih bisa mendapat 120 ml lebih tetapi di hari ketiga turun menjadi 50 ml dari kedua payudara.

Meskipun rajin memompa setiap 3 jam, tetapi mungkin karena kondisi tubuh yang lemah (dehidrasi karena diare), sempat berselisih paham juga dengan suami, dan juga stress harus berpisah dengan baby, sehingga supply saya turun. Hal ini membuat saya khawatir karena Ethan sekali minum bisa 120 ml, jadi sehari ia bisa menghabiskan hampir 1 liter ASIP. Apakah perjalanan menyusui saya harus berakhir di sini?

ASIP pakai botol

Puji Tuhan stok ASIP saya sebelum-sebelumnya masih cukup untuk membantu kekurangan hasil pompaan saya. Tetapi hal ini berarti saya memiliki PR untuk menaikkan supply dengan cepat setelah kembali dari rumah sakit. Hari Minggu sore saya kembali dari RS dan langsung menyusui si Ethan secara rutin.

Selama beberapa hari menyusui, saya menyadari bahwa hisapan Ethan melemah, dia tidak lagi memiliki kekuatan seperti sebelum saya tinggal. Ia menjadi sering rewel dan tidak puas hanya dari payudara saja, dan membutuhkan suplemen ASIP lagi

Relaktasi

Setelah saya riset-riset sendiri, saya akhirnya menyadari kalau Ethan itu bingung puting parsial. Kondisinya ia masih mau menyusu, tapi hisapannya tidak sekuat dulu. Hal ini membuat saya stress dan down sekali, apakah saya tidak bisa menyusui lagi?

Memang saya tidak berpikir untuk sampai dua tahun menyusui, tetapi minimal selama cuti melahirkan tiga bulan itu Ethan bisa ASI ekslusif. Saya mencari apakah di dekat tempat saya ada konselor laktasi yang bisa membantu, dan ternyata semasa pandemi ini banyak yang tutup dan tidak melayani lagi. Ada juga yang melayani via online tetapi jadwal mereka sudah full.

Saya menyadari situasi ini butuh penanganan cepat karena stok ASIP saya sudah tinggal tiga kantong lagi, jadi mau tidak mau Ethan harus dapat nutrisi dari menyusui langsung saja. Di sela-sela pada saat Ethan tidur, saya memompa agar memberikan stimulasi untuk meningkatkan ASI.

Saya juga mencari-cari cara untuk relaktasi agar hisapan Ethan normal lagi. Ada salah satu alat relaktasi yang sering digunakan agar si bayi bisa mendapat asupan yang normal dengan langsung menyusui di payudara. Nama alatnya SNS (Supplemental Nursing System), bentuknya seperti selang tipis yang tersambung ke botol berisi ASIP atau formula. Di Indonesia, merk yang biasa dipakai ada dari Medela

Supplemental Nursing System

Alatnya diisikan ASI perah beberapa mililiter (tergantung kebutuhan), kemudian disambungkan ke selang yang memiliki variasi kecepatan aliran (ada yang deras, sedang, dan kecil). Selang tersebut kemudian ditempel ke puting mamanya sehingga pada saat si bayi menyusu, ia mendapat supply lebih banyak.

Alat ini berguna sekali karena hisapan bayi menstimulasi produksi ASI di payudara, dan dia juga tidak rewel karena aliran ASInya menjadi lebih deras daripada biasanya. Awal-awal saya isi 40ml dan ternyata ia hanya minum setengahnya. Setelah itu saya isi 30 ml dan ia tetap hanya minum 20 ml saja. Akhirnya saya kurangi lagi terakhir menjadi 20 ml dan itu sisa 5 atau 10 ml.

Di percobaan terakhir, saya merasa payudara saya masih berisi jadi saya lepas SNSnya dan menyusui langsung saja untuk periode selanjutnya. Jadi setelah tiga kali mencoba, Ethan berhasil menyusui langsung secara penuh tanpa tambahan ASIP lagi!

Hal ini juga didukung dengan membuang dot jauh-jauh sehingga Ethan tidak bingung puting lagi. Puji Tuhan akhirnya setelah rajin menyusui setiap 2-3 jam sekali, tambah pompa setelah menyusui, dan memakai alat SNS membuat Ethan setelah seminggu bisa memiliki hisapan yang baik lagi.

Perjalanan Menyusui Belum Selesai

Sejak saat itu, tidak ada permasalahan menyusui lagi yang muncul hingga bulan ketiga. Cuti melahirkan saya sudah berakhir dan saya harus kembali bekerja di kantor dari jam 7 hingga jam 4. Saya jadi harus rutin memompa di kantor agar bisa memberikan ASIP tersebut untuk diminum dedek bayi keesokan harinya. Stok ASIP saya sekarang sudah berlebih sampai harus punya freezer khusus karena sudah tidak muat lagi di kulkas.

Banyak barang-barang menyusui yang ternyata esensial dalam perjalanan Ibu menyusui seperti BH menyusui, baju busui friendly, dll. Ini akan membantu agar menyusui anak lebih nyaman juga.

Tiga bulan adalah waktu yang masih tergolong singkat, perjalanan menyusui masih panjang kalau mau ASI Ekslusif hingga dua tahun. Saya bersyukur diberikan kesempatan dari Tuhan untuk bisa mensupply dedek Ethan hingga tiga bulan ini tanpa tambahan sufor.

Setelah ini saya bertekad untuk rajin pompa di kantor agar supply hariannya tidak turun, tetapi kita tidak tahu hari esok bukan? Stress dan keadaan hormonal sang ibu bisa berpengaruh terhadap supply ASI, dan pekerjaan kantor saya bukanlah hal yang mudah. Jika Tuhan berkenan, saya mau memberikan ASI Ekslusif minimal hingga satu tahun, karena setelah itu Ethan sudah bisa makan dan minum menu keluarga.

Baca juga: Pengalaman saya vaksin COVID sebagai Ibu menyusui


Spread the love

One thought on “Pengalaman Menyusui (Berhasil Relaktasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *