Becoming by Michelle Obama

Pelajaran Hidup dari Memoar Michelle Obama

Spread the love

Terkadang, belajar dari orang lain membuat kita dikuatkan untuk menghadapi segala macam tantangan.  Memiliki sosok yang pernah di posisi yang sama denganmu dan berkata, “semuanya akan baik-baik saja”, membuat kita merasa dikuatkan.

I’m glad I picked up Michelle Obama’s new book, Becoming. Menjadi seorang First Lady di Amerika Serikat bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang menjadi pergumulannya. Mulai dari mendukung suaminya melewati proses election yang begitu sulit, hingga menyeimbangkan perannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Ternyata bahkan seorang figur publik seperti dia juga memiliki permasalahan yang sama dengan kita. Banyak pilihan yang sulit yang harus diambil. Banyak cercaan dan fitnah yang diberikan kepadanya, baik secara langsung maupun lewat tabloid dan media sosial. Tetapi dari kisahnya, banyak hal yang bisa kita pelajari untuk kehidupan kita secara pribadi juga.

Embed from Getty Images

1. Your degree doesn't determine your career

Semua orang tahu bahwa Michelle Obama merupakan lulusan dari Princeton dan Harvard. Dua-duanya merupakan universitas terbaik di dunia. Ia mengenyam pendidikan hukum dan kemudian memulai karirnya sebagai pengacara. Ia memiliki pekerjaan yang stabil dan masa depan yang cerah.

 

Tetapi di tengah-tengah kehidupannya yang terlihat sempurna tersebut, ia menuliskan dalam jurnalnya betapa ia menggumuli arah hidupnya. Ia merasa bingung terhadap siapa dirinya dan kontribusi apa yang mau diberikan kepada dunia.

 

Ia menyadari bahwa ia membenci karirnya sebagai pengacara. Hal tersebut tidak menggambarkan dirinya. Meskipun ia sangat sukses, tetapi perasaannya tetap kosong ketika melakukannya. Ini yang membuatnya berbalik arah dan memutuskan untuk bekerja di ranah politik, sebagai seorang asisten di City Hall.

 

Awalnya ia tidak pernah mau masuk di ranah politik karena terlihat sangat kasar dan kotor. Plus, pekerjaan barunya ini memiliki gaji hanya separuh dari apa yang ditawarkan dari pekerjaan lamanya. Tetapi Michelle Obama menyadari bahwa ada banyak hal kebaikan yang dapat dilakukan dengan posisinya. Ia juga mulai mencari panggilan dalam hidupnya (baca juga tiga langkah praktis untuk menemukan panggilan hidup kamu)

Michelle Obama quote about career

Sacrifice temporary comfort for long-term happiness

Mungkin kita juga secara pribadi sekarang memiliki pergumulan yang sama. Kita merasa bosan dengan pekerjaan kita. Kita merasa tidak berkontribusi apapun terhadap dunia. Tetapi pada saat yang sama, kita tidak berani mengambil keputusan untuk memutar balik arah hidup kita. Rasa nyaman terhadap stabilitas dan uang yang ditawarkan dari pekerjaan lama ini membuat kita tidak berani mengambil resiko.

Michelle Obama mengambil salah satu keputusan terbesar di dalam hidupnya dan hal itu tidak selalu sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Mulai menata karir kembali dari awal dengan gaji yang rendah bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi ia tahu bahwa memiliki dampak bagi dunia ini lebih penting daripada ketenaran yang sementara.

Terkadang kita juga perlu diingatkan bahwa mengorbankan kenyamanan, uang, dan stabilitas untuk sementara waktu itu jauh lebih penting daripada merasa tidak bahagia untuk seumur hidup kita.

2. Marriage is about supporting

Membaca memoir Michelle Obama menyadarkan saya bahwa memiliki pasangan yang visioner dan pekerja keras itu tidaklah mudah. Sebagai seseorang yang tidak menyukai politik, ia pada awalnya tidak sepenuhnya men-support ide Barack Obama untuk menjadi seorang politikus. Ia melihat bahwa dunia politik itu kotor dan tidak sehat.

Tetapi pada akhirnya ia menyadari bahwa jika suaminya ingin maju ke dalam dunia politik dan percaya diri akan berhasil, maka yang ia bisa lakukan adalah mendukungnya. Saya yakin bukanlah hal yang mudah baginya untuk dapat duduk diam ketika Barack Obama banyak difitnah dan dijatuhkan oleh lawan politiknya.

Pertandingan paling sulit yang harus ia lewati adalah ketika suaminya berniat untuk mencalonkan diri sebagai presiden USA. Barack Obama memberikan jawaban diplomatis seperti, “I’m still thinking about it. It’s a family decision.” Ia tahu bahwa Michelle Obama masih belum memberikannya lampu hijau untuk maju sebagai calon presiden.

Menjadi istri seorang calon presiden berarti menjaga image-nya di hadapan semua orang setiap waktu.  Ia harus menjaga penampilannya dan anak-anaknya untuk terlihat selalu bahagia dan rapih di setiap proses kampanye.

Embed from Getty Images

Namun, seperti yang kita tahu, Michelle Obama akhirnya menyetujui pilihan suaminya. Ia percaya bahwa suaminya adalah orang yang baik dan dapat memberikan perubahan. Tetapi pada awalnya ia tidak percaya bahwa suaminya akan menang. Ia masih memiliki keraguan bahwa seseorang dengan kulit hitam dapat menjadi presiden Amerika Serikat.

Mungkin di saat ini kita juga memiliki keraguan terhadap impian/pilihan karir pasangan kita. Tetapi ini bukan berarti kita tidak dapat mendukungnya. Michelle Obama terus memberikan pertanyaan dan pernyataan yang membawa suaminya ke ranah yang lebih realistis, tetapi ia terus menjalankan perannya sebagai istri yang suportif. Sangat suportif hingga Barack Obama bisa menjabat sebagai presiden USA dari 2009 hingga 2017.

3. Bad things happen to strengthens us

Pada masa kampanye suaminya, ada satu kejadian yang Michelle Obama ceritakan mengenai kekotoran politik yang terjadi. Di kisah tersebut, ia sedang berbicara mengenai perubahan yang terjadi oleh karena inisiasi dari suaminya. “Untuk pertama kalinya dalam hidup saya,” katanya, “saya benar-benar bangga terhadap negara saya.”

Kalimat tersebut dipotong dari konteksnya dan kemudian diberikan nada sinis yang mengatakan bahwa Michelle Obama bukanlah patriot. Ia membenci negaranya. Ini adalah gambaran dirinya yang sebenarnya, selebihnya hanyalah tempelan.

Dari sini, Michelle belajar bahwa meskipun niat kita baik, akan ada banyak orang yang akan merendahkan dan memperburuk image kita. Akan ada orang yang memotong perkataan kita dari konteksnya dan memutar-balikkan fakta.

Tentu kejadian ini sangat memberatkan hati Mrs. Obama. Ia merasa terluka dan bahkan seringkali menjatuhkan amarahnya dan menimpalkan kesalahan ini kepada suaminya. Semua ini tidak akan terjadi kalau saja ia hanya duduk diam di rumah dan tersenyum jika dibutuhkan.

Akan tetapi, dari kejadian ini akhirnya staff kampanye Obama memutuskan untuk membantu Michelle dalam kampanye. Ia akan dilatih dan dipersiapkan dalam berbicara, persentasi, dan menyiapkan kata-kata dalam pidatonya.

Hal ini mengajarkan saya juga bahwa ketika kesulitan terjadi, itu bukanlah suatu tanda untuk kita berbalik arah dan menyerah. Mungkin ada strategi lain yang perlu kita ubah. Mungkin kita butuh merendahkan diri dan meminta pertolongan orang lain.

4. Change needs patience

Kebanyakan orang menganggap bahwa memiliki posisi atau kekuatan yang lebih besar itu berbanding lurus dengan perubahan. Memang, pada dasarnya dengan posisi yang lebih tinggi kita bisa membuat kebijakan yang mengubah banyak orang. Tetapi efek dari kebijakan tersebut tidaklah selalu kelihatan secara instan.

Dalam perjalanan Barack dan Michelle Obama dalam gedung putih, banyak kasus yang penembakan yang terjadi di Amerika Serikat. Melihat pemandangan dan kisah yang menyedihkan tersebut tentu membuat mereka bergerak untuk membuat perubahan dari peraturan negara. Akan tetapi, bahkan bagi seorang presiden pun, tidak segala hal semudah kelihatannya.

Michelle mendeskripsikan keadaan Nelson Mandela yang dipenjara oleh karena prinsip yang dipegangnya. Setelah dua puluh tujuh tahun mendekam di penjara, ia tidak menjadi pahit dan berubah pikiran. Ia tetap percaya bahwa visinya terhadap negaranya sendiri akan terjadi. Ia menanti, bekerja, bernegosiasi, dan akhirnya menjadi presiden pertama di Afrika Selatan.

Memoir Michelle Obama juga mengajarkan kita bahwa kemajuan dan perubahan dalam hidup berubah secara perlahan. Mungkin bahkan tidak hanya dalam dua tahun, satu dekade, atau bahkan dalam kehidupan kita. Kita hanya menaruh bibit-bibitnya saja dan mungkin kita tidak pernah melihat buahnya. Tetapi ini bukan berarti kita menjadi mudah menyerah dan berhenti berjuang untuk nilai yang benar di dunia ini.

Changes need patience

Spread the love

One thought on “Pelajaran Hidup dari Memoar Michelle Obama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *