Post Cover All the Light We Cannot See

Pelajaran Hidup dari “All the Light We Cannot See”

Spread the love

Seperti layaknya fiksi historis lainnya, All the Light We Cannot See didasarkan pada suatu peristiwa dalam sejarah. Berlatar belakang di tahun 1940an, novel ini menceritakan tentang Marie Laure, seorang remaja yang buta sejak umur enam tahun dan Werner, seorang yatim piatu yang kemudian menjadi bagian dari Hitler Youth.

Diceritakan dengan kerangka waktu yang cukup unik, Anthony Doerr membuka rahasia dari kisah ini dengan lambat.

Bagaikan serial drama TV,  cerita ini maju dan mundur dalam waktu, membuat setiap pembacanya tak sabar untuk mencari tahu bagaimana akhirnya.

All the Light We Cannot See book cover

Buy here: amazon.com

bookdepository.com (free shipping)

Ada beberapa hal yang saya pelajari dalam buku pemenang Pulitzer di tahun 2015 ini. Tidak hanya untuk pengembangan diri, tetapi juga untuk memahami rahasia kekuatan Nazi pada pertengahan abad ke-19 yang membuat mereka (hampir) berjaya.

Review dan posting ini tidak ada spoiler, jadi aman bagi kalian yang belum baca bukunya 🙂

Anthony Doerr Quotes

Peran Ideologi dalam Pendidikan

Tidak ada edukasi yang netral.

Mungkin kalimat di atas terdengar aneh bagi beberapa orang. Bagaimana mungkin sistem pendidikan tidak netral? Bukankah itu adalah hak setiap manusia? 

Bagaimana dengan ilmu eksakta? Pastinya ilmu matematika dan sains adalah sesuatu yang netral dan dipahami sama oleh setiap manusia.

Salah.

Bahkan ilmu mengukur sains-pun didasari oleh suatu ideologi dari penciptanya.

Sejarahpun dikisahkan berdasarkan pemikiran dari sang penulisnya.

Teori mengenai keberadaan manusia misalnya, tidak mungkin teori penciptaan yang dipegang umat Kristiani dan teori Big Bang dapat dua-duanya benar. 

Yang satu berpegang kepada adanya pencipta, yang kedua memercayai bahwa alam semesta terjadi dengan begitu saja.

Kedengarannya simple, tetapi dasar pemikiran keduanya dapat memengaruhi kepercayaan dan teori saintifik lainnya.

Note: If you’re interested in finding more about the myth of neutral education, listen to R.C. Sproul’s teaching series here

"Decency doesn't matter to them."

Demikian kata salah satu pelatih di dalam kamp ketika ada seorang tahanan yang dibawa. Para kadet diwajibkan menyiram air dingin ke hadapannya hingga ia meninggal kedinginan.

Dalam All the Light We Cannot See, Anthony Doerr menyingkapkan bahwa salah satu kunci kekuatan dari Nazi adalah pendidikannya. Mereka membuat sistem edukasi begitu rupa sehingga setiap anak laki-laki mulai dari remaja (umur 14-18 tahun) sudah dipaparkan oleh ideologinya.

“We are the tip of the sword”, nyanyi para kadet yang baru.

Sejak masuk ke dalam kamp pelatihan, mereka didoktrinasi bahwa hanya ada satu ras yang unggul di dunia. Ras yang lainnya tidak layak untuk dikasihani ataupun diberikan hak.

Dengan dasar pemikiran seperti itu, anak-anak Jerman tumbuh dengan menganggap pembunuhan ras lain adalah hal yang biasa dan mati adalah kebanggaan.

Suka baca buku?
Suka dapetin buku murah?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk dapetin diskon dan promosi buku impor terbaru:

Melihat edukasi di Indonesia

Berkaca terhadap kekuatan grup Nazi tersebut, kita perlu merefleksikan sistem edukasi kita. Apakah yang kita ajarkan mencerminkan harapan kita untuk masa depan?

Sejak tahun 2016, presiden Joko Widodo mewajibkan agar setiap institusi pendidikan dalam negeri memiliki mata kuliah Pancasila. Ini merupakan gerakan yang besar.

Dengan maraknya proklamasi mengenai kebencian yang memecah persatuan bangsa, ideologi Pancasila wajib diajarkan kepada pemegang tonggak sejarah di masa depan.

Anthony Doerr Quotes

Konsekuensi dari pilihan

Kita tahu bahwa kita harus memetik hasil dari pilihan yang diambil. Entah itu kecil seperti memilih baju atau makan siang, atau besar seperti siapa yang kita akan nikahi.

 

Dalam All the Light We Cannot See, kita bisa melihat bahwa masa perang dunia kedua ini bukanlah kondisi yang ideal. Setiap pilihan adalah jembatan antara hidup ataupun mati.

 

Marie Laure dengan keterbatasan fisiknya membuatnya harus bergantung pada orang lain. Ia dan ayahnya lari dari Perancis ke kota Saint Malo, dimana pamannya berada. Dengan bantuan model kota Saint Malo yang dibuat oleh ayahnya, Marie Laure menghafal setiap jalan dan seluk beluknya.

 

Keadaan mereka semakin dipersulit ketika pemerintah menyuruh mereka untuk mengumpulkan setiap radio dan menjatah makanannya. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa ayahnya dititipkan berlian 133 karat yang sangat langka. Kehidupan Marie Laure adalah bom waktu berjalan.

 

Hal yang tidak lebih baik juga terjadi pada Werner Pfennig. Direkrut sebelum umur 15 tahun, ia melihat banyak penyiksaan terjadi di kamp Hitler Youth. Baik itu terhadap sahabatnya, Frederick, maupun terhadap orang non-Jerman yang ditangkap dan dibawa ke situ.

 

Berada dalam tekanan fisik dan mental yang berat, Werner harus memilih: mengikuti aturan dan hidup, atau mengikuti hati nuraninya dan risking death?

Jujur terhadap diri sendiri

Don’t you want to be alive before you die?

Salah satu bagian favorit saya dalam novel ini adalah pada perjumpaan terakhir antara Werner dan adiknya, Jutta. Dalam percakapan mereka, Jutta dalam hatinya tidak ingin kakaknya pergi. Ia takut Werner akan berubah dan menjadi sama seperti prajurit lainnya yang tidak mengenal belas kasihan.

 

“Apakah dibenarkan”, tanyanya, “untuk melakukan sesuatu oleh karena semua orang melakukannya?”

 

Werner menghiburnya dengan berjanji ia akan menulis setiap minggu. Siapa tahu ia dapat mengemudikan pesawat dan mengajak adiknya ke tempat yang diimpikan. Namun, Jutta melihat Werner lebih dalam daripada dirinya sendiri.

 

Don’t tell lies. Lie to yourself, Werner, but don’t lie to me.”

 

Waktu demi waktu berlalu, dan Werner akhirnya diperhadapkan dengan pilihan yang sulit.

 

Ia seringkali memilih jalan keluar yang mudah.

 

Diam.

 

Mencari aman.

 

Dibandingkan mengambil konsekuensi hukuman mati –atau lebih buruk lagi: penyiksaan-, ia memilih untuk menjalankan status quo. Tidaklah ia tahu, bahwa dengan mengikuti perintah mayor jenderalnya, ia sebenarnya membunuh dirinya sendiri.

 

Hal ini juga membuat saya berkaca: apakah saya seringkali melakukan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya? Apakah saya mencari jalan keluar yang populer? Atau bahkan tidak memihak sama sekali?

 

Further reading: pentingnya mempertahankan jati diri dalam suatu hubungan

All the Light We cannot see quotes 3

Cahaya yang tidak dapat kita lihat
(All the light we cannot see)

Kita sebagai manusia diberikan kepekaan dan hati yang berbeda-beda. Kepekaan tersebut berguna untuk memutuskan setiap pilihan dalam hidup kita.

Namun, seringkali kita berlindung di balik kata-kata: “aku tidak punya pilihan.” Entah itu memilih untuk berdiri di atas kebenaran atau menolak mengikuti arus ekspektasi orang lain.

Bisa jadi kita tidak menganggap hal itu sebagai pilihan oleh karena konsekuensinya yang besar.

Kita dibutakan oleh ketakutan.

Inilah yang saya rasa menjadi salah satu pesan utama dari novel ini: meskipun cahaya itu bersinar dengan sangat terang, namun seringkali tidak kasat mata. Bukan karena tidak dapat kita lihat, tetapi kita tidak mau melihatnya.

Bukalah hatimu dan lihat semuanya dengan lebih dalam, sebelum ia dibutakan oleh hal-hal yang tidak kamu persiapkan sebelumnya.

Atau, dalam quotes terkenal dalam novel ini: “Open your eyes and see what you can with them before they close forever.”

Want more like this?

Mau artikel seperti ini gratis setiap minggunya? Taruh email kalian di bawah ini untuk mendapatkan review dan artikel serupa serta promosi buku-buku terbaru. Atau mau kenalan dan ngobrol-ngobrol tentang topik serupa? Email saya ke contactme@deliciamandy.com


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *