One Year Wedding Anniversary – A Personal Reflection

Spread the love

Pada tanggal 26 Mei tahun lalu, I was married to my best friend. Pernikahan itu seharusnya menjadi kerinduan setiap wanita di dunia. We all want that happy ending. We want that grand wedding. Kita mau media sosial kita berkelimpahan dengan foto-foto keren nan unyu.

And then reality hits.

You weren’t wearing those glass slippers anymore.

And he’s not the prince charming in the white horse.

Kehidupan pernikahan diisi dengan kaos kutang belel dan wajah tanpa make-up. Keseharian kita tidak seindah yang dilihat di pre-wedding pictures. Beberapa kali kita pernah berantem. Several arguments, three big fights. Memang dari awal berpacaran kita suka banget berargumen. Bukan berantem, tapi berargumen.

What’s the difference?

Easy.

If you’re fighting, winner takes it all. If you’re arguing, you’re trying to have the same perspective. Ketika kita sedang bertengkar, pasti kita maunya menang sendiri dan berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan lawan bicara kita. Akhirnya adalah bukan ada pemenang dan yang kalah, tetapi ada yang (merasa) menang dan ada yang akhirnya tersakiti.

Ketika kita berargumen, kita mendalami salah satu topik/permasalahan dan berusaha mencari jalan keluar. Kita fokus terhadap solusi dan bukan permasalahannya. Kita mungkin memiliki intonasi yang meninggi, tetapi pada akhirnya kita mencapai suatu kesepakatan.

Terkadang kesepakatan itu juga bukanlah suatu pandangan atau visi yang sama. Sometimes it’s even okay if you agree to disagree. Memang manusia diciptakan unik, tidak seharusnya kita berusaha menjadikan pasangan kita sama persis dengan diri kita. Itu bukanlah tujuan dari pernikahan.

Dari beberapa pertengkaran dan hasil satu tahun menikah, ada beberapa hal yang saya pelajari agar pernikahan itu berjalan dengan sakit yang lebih sedikit dan lebih sedikit lagi percekcokkannya.

1.     Know Your Spouse’s Love Language

I find this really helpful and apparently not everyone knows it. Setiap orang memiliki bahasa kasihnya masing-masing. Argumen inilah yang dikumandangkan oleh Gary Chapman dalam bukunya, 5 Love Languages”. Setiap manusia memiliki caranya sendiri dalam mengungkapkan kasihnya dan bagaimana ia merasa dikasihi. Misalnya, ada orang yang sangat suka ketika diberikan hadiah, sedangkan ada juga yang suka ketika dipuji lewat kata-kata. Ada yang sangat suka menghabiskan waktu yang berkualitas lewat pasangannya, tetapi ada yang lebih merasa disayang ketika diberi pelukan penuh kasih.

Sentuhan fisik, hadiah, waktu berkualitas, kata-kata, dan perilaku kita dapat mencerminkan bahasa kasih terhadap pasangan. Jika pasangan kita merasa sayang ketika dipeluk, maka memberikannya hadiah tidak akan meningkatkan perasaan berharganya. On the other hand, jikalau kita tahu apa bahasa kasih pasangan kita, kita akan lebih memfokuskan diri terhadap hal-hal tersebut dan tidak membuang terlalu banyak waktu/uang untuk hal yang lain.

This is what happens with me and my spouse. Ada suatu kali saya pergi berlibur bersama orang tua saya ke Eropa. Di sana ada banyak sekali barang-barang bermerk yang berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Oleh karena itu saya membelikannya satu tas yang berharga hampir setengah gaji saya. It was a really pricey bag. Harapan saya adalah pasangan saya menyukainya dan kemudian merasa disayangi. 

Betapa terkejutnya ketika dia membukanya karena dia merasa barang mahal tersebut tidak berguna (karena terlalu mahal sehingga dia takut bawanya) dan tidak merasa disayang karena pemberian tersebut. I can be really pissed of, but I decided to let it go. Sekarang tas mahal itu hanya bertenger di lemari kita dan hanya dipakai kalau aku memaksa suami saya untuk memakainya, hahaha.

So, coba ikuti tes lima bahasa kasih tersebut di sini dan kemudian cari tahu apa bahasa kasih suami kamu supaya menghindari perasaan tidak dihargai dari sang pemberi dan merasa kurang dikasihi dari sang pasangan.

2.     Communicate Your Role

Salah satu cara supaya your marriage works better adalah knowing your place in the house. Terkadang para pasangan itu tidak menyadari bahwa hal-hal yang kecil dapat menghasilkan pertengkaran/permasalahan yang besar. Dimana tempat sabun, dimana letak sepatu, bagaimana cara merapihkan baju, dan hal-hal kecil lain tersebut dapat berakibat besar jika tidak dikomunikasikan dan diselesaikan dengan baik.

Hal yang sebenarnya penting juga untuk dibahas adalah bagaimana kita sebagai suami istri juga harus mengerti dan berbagi peran untuk segala hal di rumah tangga dari awal menikah. Mulai dari mencuci baju, membayar listrik/air/tagihan kartu kredit, mengepel, menyetrika, dan belanja kebutuhan sehari-hari. Ada baiknya kita membagi tugas rumah tangga secara musyawarah dan mufakat agar di masa yang akan datang hal tersebut tidak menjadi problem yang besar.

Suami saya sangat senang sekali mencuci baju. I’m not exhageratting it, but he really loves it. Jadi setiap kali pakaian kotor menumpuk pasti dia yang paling pertama mencuci baju. Tapi dia tidak suka menyetrika karena menurutnya beberapa baju tidak perlu disetrika sudah layak dipakai di depan publik. Jadi akhirnya saya yang bertugas melipat dan menyetrika baju-baju

Kemudian saya juga kurang suka mengorganisir barang-barang di rumah, tetapi suami saya suka banget ngerapihin barang dan dikategorikan di tempatnya masing-masing. Akhirnya saya yang kebagian cuci piring meanwhile he’s away categorizing our wedding picture albums.

Kalian mungkin perlu duduk bersama dan bernegosiasi mengenai pekerjaan rumah tangga ini, atau bisa juga kalian seperti kita yang sudah tahu posisinya masing-masing dan saling beradaptasi along the way. Saya bersyukur kami sudah melakukan hal ini di tahap awal pernikahan sehingga memberikan ruang lebih sedikit untuk bertengkar.

3.     Differences Strengthens You

Last but definitely not the least, pernikahan membuat saya belajar bahwa saya dan pasangan saya adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Kami memiliki kebutuhan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, cara pikir, dan cara pandang yang berbeda. Satu peristiwa dapat memiliki dua makna jika kami diskusikan dengan cara proses yang berbeda.

Awalnya memang kami banyak berargumen untuk hal-hal yang kecil, kemudian maju ke hal-hal yang besar. Beberapa kali argumen tersebut lalu berkembang menjadi suatu pertengkaran yang besar. It’s not that because we are bad people, but we are two very different people. Menurut suami saya, kasih sayang yang terutama; tapi menurut saya kejujuran yang paling utama. Sehingga seringkali kami bertengkar karena saya suka berbicara tanpa disortir dan suami saya suka merendahkan standar kehidupan/profesionalitas karena kasihan dan tidak tega.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sulit untuk disatukan tetapi jika kita sebagai pasangan rela untuk merendahkan diri dan mau belajar dari pasangan kita masing-masing, maka ada banyak kebiasaan baik yang kemudian tertular kepada diri kita. Seperti misalnya, saya adalah orang yang sangat introvert dan tekun mendalami satu hal; sedangkan suami saya orangnya sangat spontan dan suka eksplor banyak hal. Tentu keduanya bukan hal yang buruk, tetapi dapat menjadi suatu konflik ketika kami bekerja sama untuk satu hal. Akhirnya lewat beberapa kali konflik, saya kemudian belajar untuk lebih easy going dan suami saya belajar untuk lebih memfokuskan dirinya terhadap satu tujuan.

Perbedaan inilah yang kemudian kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Perbedaan ini membuat kita belajar rendah hati dan mau dikoreksi.

Perbedaan ini membuat kita menjadi lebih kaya.

Kaya akan perspektif, cara pandang, dan nilai-nilai kehidupan.

So, jika kamu dan pasanganmu merasa sangat berbeda satu sama lain, jangan pesimis dulu. Belajarlah mendengar dan menerima kritikan dari pasangan. Belajar untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih halus dan sabar, sehingga kalian sebagai pasangan bisa bertumbuh bersama.

 Saya rasa itulah tujuan dari pernikahan: menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *