Mujizat itu Nyata

Mujizat itu nyata?

Spread the love

Ketika kita mendengar kata mujizat, kita pasti membayangkan sesuatu yang luar biasa…sesuatu yang abnormal…sesuatu yang di luar kebiasaan. Memercayai mujizat tidak semudah menyanyikan “mujizat itu nyata”.

Kita menganggap mujizat itu sangat jauh dari kehidupan sehari-hari kita yang biasa-biasa saja.

Setiap orang punya pandangannya sendiri mengenai mujizat. Ada yang percaya dan menggantungkan seluruh hidupnya pada mujizat setiap hari, ada juga yang skeptis dan berkata bergantung pada mujizat hanyalah bentuk kemalasan manusia.

Lee Strobel dalam salah satu bukunya, The Case for Miracles, membahas mengenai argumentasi berbagai pakar ilmiah dan teolog mengenai mujizat. Ada yang skeptis, ada yang percaya, tapi ada juga hal-hal yang menghambat kita dalam percaya.

The case for miracles

Believe in God = Believe in Miracles?

Memercayai bahwa Allah adalah pencipta segalanya juga secara tidak langsung mengatakan bahwa kita memercayai mujizat itu nyata. Banyak orang masih percaya mengenai teori Big Bang. Mereka sepaham bahwa dunia terjadi secara kebetulan.

Semakin kita belajar mengenai alam dan melihat desain segala sesuatu, seharusnya kita semakin kagum akan pencipta segalanya. Untuk mendapatkan planet lain yang sama seperti bumi ini, para scientist mengkalkulasi bahwa kemungkinannya adalah satu dibandingkan satu milyar triliun triliun triliun triliun triliun triliun… In other words: tidak mungkin terjadi.

Penciptaan adalah bukti keberadaan Allah

Oleh sebab itu alasan paling logis mengenai­ proses penciptaan bumi dan segala isinya adalah memercayai adanya seorang “desainer” di balik segalanya (Lewis and Barnes, A Fortunate Universe). Tidak ada bukti saintifik lain selain bahwa Allah itu benar-benar ada (John Leslie, Universes)

Dengan adanya proses penciptaan dunia yang begitu menakjubkan, seharusnya kita juga memercayai bahwa mujizat itu ada, masuk akal, dan bahkan dinantikan.

The miracle of resurrection

Sebenarnya sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang menggantungkan iman pada kebenaran mujizat yang nyata tertulis di Alkitab. Pion utama dalam iman kita berdiri di atas fondasi bahwa Yesus adalah anak Allah yang mati dan dibangkitkan kembali pada hari yang ketiga, sebagai penebusan atas dosa manusia.

Banyak orang berarguman bahwa Yesus tidak benar-benar mati (apalagi dibangkitkan!). Padahal jika kita menelusuri Alkitab, kita dapat melihat bahwa perjalanan Yesus ke kayu salib sangat tragis dan bahkan menyerupai orang yang hampir mati. Ia melewati hukum cambuk yang sangat brutal yang pada zaman itu terkenal dapat mematikan.

Beberapa sumber (dan bahkan kitab agama lain) menyatakan bahwa murid-murid Yesus berkonspirasi untuk menipu semua orang mengenai berita kebangkitan itu. Tetapi ciri-ciri kisah dan hubungan para murid Yesus mematahkan hal itu.

Untuk konspirasi dapat berhasil, mereka membutuhkan orang yang dekat satu sama lain, teknik komunikasi yang luar biasa, jangka waktu yang pendek, dan tekanan yang sedikit (J. Warner Wallace, The case for Miracles).

Tetapi pada akhirnya kita tahu bahwa seluruh murid-murid Yesus meninggal dengan tidak menyangkal bahwa Yesus benar-benar bangkit.

Oleh karena itu, sebagai orang-orang Kristen kita seharusnya memiliki iman yang melebihi batas hukum alam. Kita percaya bahwa kejadian supranatural bukan hanya dapat terjadi, tetapi justru menjadi landasan iman kita kepada Allah.

Akan tetapi, iman ini seringkali tidak sejalan dengan apa yang diperlihatkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Kita percaya bahwa Yesus bangkit dan mengalahkan maut tapi tidak mau memercayakan seluruh kehidupan kita ke dalam kedaulatan-Nya.

Faith in miracles

Seringkali ada orang-orang yang percaya pada mujizat tetapi tidak berani meminta mujizat. Mereka percaya bahwa mujizat itu nyata dan terjadi di dunia tetapi tidak pernah berdoa meminta mujizat. Kalau di Afrika ada suatu penyembuhan supranatural yang terjadi mereka akan bersyukur, tetapi mereka tidak percaya diri bahwa hal yang sama dapat terjadi di kehidupan mereka.

Doa orang-orang macam ini biasanya “hanya” meminta agar Tuhan memberkati tangan dokter yang melakukan operasi, suster yang merawat, dan obat-obatan yang diminum. Akan tetapi, mereka tidak sampai seberani meminta kanker mereka dihilangkan atau tumor mereka disembuhkan. Meminta mujizat dan hal-hal yang mustahil secara akal pikiran bisa dibilang tidak masuk dalam pokok doa mereka.

I personally have been on this side for so long. Seringkali saya meminta agar Tuhan menguatkan keluarganya, memberkati operasi agar berjalan dengan lancar, tetapi tidak memiliki niat untuk meminta kesembuhan total secara luar biasa. Seakan-akan kepercayaan saya bahwa Tuhan dapat membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang lumpuh itu tidak ada.

Tidak percaya mujizat itu nyata

Tidak hanya dalam meminta mujizat penyembuhan, banyak orang-orang yang berpendidikan tinggi juga tidak bergantung pada Tuhan karena mereka lebih menyukai untuk mempersiapkan segalanya.

Mereka percaya bahwa dengan belajar lebih keras, bekerja lebih banyak, dan memiliki back-up plan yang baik adalah jawaban dari setiap permasalahan.

Mereka tidak sepenuhnya memberikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Apalagi dalam hal berdoa untuk mujizat-Nya.

Scared of the supernatural

Saya disadarkan mengenai hal ini ketika bertemu dengan banyak orang dan bergabung dengan beberapa komunitas. Dari beberapa aliran gereja, doa yang diucapkan oleh mereka sangat berani dan lugas. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam meminta sesuatu dalam doa. Suara mereka lantang dan pemilihan kata mereka sangat tegas: “berikan kesembuhan yang total kepada saudara kami!”.

I was so surprised in how they pray. Off course in the end God has the FINAL say, tetapi kita sebagai anak-anak-Nya harus berani meminta dan ngomong secara jujur di hadapan Tuhan, dengan iman serta perspektif yang benar.

Banyak orang Kristen mainstream yang percaya bahwa “doa tidak mengubah keadaan, tetapi mengubah diri saya sendiri.” Ajaran ini diadopsi dari pemikiran Friedrich Schleiermacher, bapa dari teologi liberal modern.

Kita ingin terlihat bahwa kita self-sufficient and self-reliant, oleh karena itu kita mengagungkan self-love dan ­self-respect. Semakin kita aman, nyaman, dan sukses, kita tidak perlu bergantung pada kemurahan dan mujizat Allah. Kita berpikir segalanya masih ada dalam pegangan kita.

Quotes Mujizat

The case against miracles

Banyak hal yang terjadi di kehidupan kita yang mungkin dapat masuk ke dalam mujizat. Misalnya saja mendapatkan pertolongan tidak terduga dari orang yang tidak kita kenal, mendapat kesempatan masuk ke universitas/perusahaan terkenal, atau bahkan menemukan pasangan hidup yang dapat membahagiakan kita.

Atau bahkan orang terdekat kita mengalami mujizat: kesembuhan total, mendapat pertolongan, keselamatan, dll. Tetapi meskipun mujizat berada di dekat kita tidak menjadikan kita menjadi seorang yang percaya. Bisa saja dari awalnya kita menolak akan adanya mujizat.

David Hume (filsuf abad ke-18) berargumen dalam diskusinya mengenai mujizat. Ia mendefinisikan mujizat sebagai pelanggaran hukum alam. Lalu, ia mendefinisikan hukum alam sebagai prinsip yang tidak bisa dilawan. Jadi pada akhirnya ia tidak memberi ruang untuk mujizat sama sekali.

Baca juga: Buku Sapiens: melihat dunia dari kacamata ateis

Ini yang disebut dengan circular reasoning, dimana ia sudah berasumsi untuk sesuatu yang ia akan buktikan. Oleh karena itu argumennya sebenarnya dipatahkan oleh asumsinya sendiri.

Seeing doesn't mean believing

Contoh lain mengenai kesulitan seseorang menerima mujizat adalah melalui kisah Nabeel Qureshi dalam buku “Seeking Allah, Finding Jesus”. Nabeel adalah seorang muslim yang berpindah menjadi seorang Kristen. Dalam bukunya ini, ia menceritakan pengalamannya merubah konsep berpikirnya dan beriman kepada Kristus.

Sebagian besar pengalamannya mengenal kekristenan adalah melalui teman dekatnya, David. Lewat percakapannya kita bisa melihat bahwa setiap argumen Nabeel dapat terpatahkan dan fakta menyatakan yang sebenarnya. Namun, meskipun seseorang mengetahui kebenaran, itu tidak menjami mereka dapat percaya.

Nabeel meminta kepada Allah untuk memberikannya tanda apakah ia harus berpindah agama atau tetap bertahan pada Islam. Pada akhirnya Allah memberikan tiga mimpi yang menjamin bahwa pesannya adalah agar Nabeel harus menerima Kristus sebagai juruselamatnya.

Di sini sebenarnya kita bisa belajar bahwa meskipun secara konsep berpikir, fakta, dan kebenaran itu berbanding lurus, bukan berarti kita sebagai manusia memiliki kepercayaan yang dapat berubah begitu saja. Butuh suatu “mujizat” lain agar seseorang dapat percaya terhadap sesuatu. This brings me to my last point:

Our faith is our miracle

Alkitab menyatakan bahwa “tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus! dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.” (1 Korintus 12:3).

Ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk mencari Allah dan bahkan memiliki iman saja adalah perbuatan Allah Roh Kudus.

Menarik sekali untuk melihat bahwa iman yang kita miliki adalah campur tangan dari Tuhan. Iman yang membuat kita punya pengharapan, berpikir positif, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah adalah mujizat. Mujizat itu nyata bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hal ini seharusnya membuat kita lebih bersyukur lagi. Kemampuan kita mengampuni orang yang membenci kita, menerima kembali pasangan kita setelah bertengkar, dan memiliki harapan setelah berkali-kali gagal adalah sesuatu yang luar biasa.

Ketika sesuatu yang luar biasa itu terjadi…itulah mujizat dari Tuhan buat hidup kita.

Our Faith is our miracle

Spread the love

2 thoughts on “Mujizat itu nyata?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *