Arti Kebahagiaan Menurut Mitch Albom dalam bukunya, “Have a Little Faith”

Spread the love

Dalam hidup manusia, ada beberapa pertanyaan besar yang terus dicari kebenarannya dalam hidup manusia: Mengapa saya hidup di dunia ini? Bagaimana saya mencapai kebahagiaan?

Pertanyaan tersebut juga ditanyakan oleh Mitch Albom, sang penulis buku “Have a Little Faith”. Dalam buku ini, ia menceritakan mengenai pengalamannya mewawancarai dua pendeta dengan latar belakang yang sangat berbeda: Albert Lewis dan Henry Covington. Di kesempatan yang langka ini, kita mendapatkan posisi terbaik dalam menyimak apa yang mereka perbincangkan mengenai arti dari kehidupan kita yang singkat ini,

[A]s is often the case with faith, I thought I was being asked a favour, when in fact I was given one – Mitch Albom.

A Case for God

Mitch Albom sedang dalam pergumulan mengenai kenapa dengan banyak perkembangan sains, penemuan, dan teknologi, masih ada orang yang percaya mengenai keberadaan Tuhan. Di saat banyak hal sudah dapat dijelaskan dengan sains, mungkin keberadaan tentang Tuhan sudah tidak valid dan dibutuhkan lagi.

Tetapi, Rabbi Albert Lewis mengatakan bahwa di saat banyak hal sudah dapat dijelaskan dan di saat sains sudah semakin maju, pasti masih ada banyak hal dalam dunia ini dimana sains dan kepintaran manusia tidak dapat menjelaskannya lagi. Kemudian di saat dimana kehidupan kita sudah mencapai titik akhirnya, di situlah Tuhan mulai bekerja.

Ada banyak artis, orang tersohor, dan penemu yang terkenal di dunia ini yang tidak mengakui akan keberadaan Tuhan. Tetapi, mereka semua mengakui ketiadaan Tuhan ketika sedang berada puncak kehidupan, posisi teratas, dan ketenaran yang luar biasa. Sungguh mudah jika Anda sedang berada di dalam hidup yang tidak bergantung pada orang lain – dan semua keinginan Anda dapat terkabulkan dengan cepat – untuk kemudian berkata bahwa Tuhan itu tidak ada.

Akan tetapi, ketika kehidupan para orang-orang tersebut berada sedikit lagi menuju kematian dan dalam kesunyian tersebut, apakah mereka masih menolak untuk percaya kepada Tuhan? Atau mereka berteriak dalam hatinya kepada Sang Pemilik Hidup itu sendiri?

What it Takes to be Happy

Kebanyakan orang memiliki persepsi bahwa kebahagiaan hanya dapat dicapai ketika sudah memiliki segalanya: uang, kekuasaan, dan pernikahan yang sempurna. Mereka bekerja dengan keras agar dapat meraih kebahagiaan yang diimpikan. The American Dream sendiri juga menyatakan bahwa kita harus mengejar passion kita dengan gigih dan ketika mimpi kita menjadi kenyataan maka disitulah letak kebahagiaan berada.

Tetapi ketika mereka terus mencari dan mendapatkan apa yang mereka mau, kenyataannya adalah bahwa kebahagiaan itu tidaklah datang, Kita terus menerus menuntut untuk mendapatkan barang yang lebih baik, lebih mahal, rumah yang lebih besar, dan pekerjaan yang lebih cocok. Hal itu hanya berputar di dalam siklus yang tidak ada habisnya. Pada akhirnya mereka diperhadapkan dengan kekayaan yang banyak tetapi kebahagiaan yang semu.

Having more does not keep you from wanting more. And if you always want more…I can tell you from experience, happiness will never come.– Albert Lewis.

Ketika manusia datang ke dunia dalam bentuk bayi yang kecil, tangan kita mengepal dengan sangat keras seakan-akan berkata bahwa ia ingin meraih segalanya. Tetapi pada saat kita meninggal, kita melepaskan genggaman tersebut dan membuka tangan kita seakan-akan menandakan bahwa kita tidak dapat membawa apapun ke dalam liang kuburan kita. Di sinilah letak kebahagiaan tersebut.

Semakin kita menyadari bahwa kita akan meninggal sendirian dan dengan tangan yang kosong, semakin cepat kita menemukan arti dari kebahagiaan tersebut: rasa cukup. Kita mensyukuri atas apapun yang terjadi dalam dunia ini -baik ataupun buruk- dan merasa cukup atas apa yang kita punya.

Saya rasa hal ini juga memengaruhi terhadap kualitas hubungan kita dengan orang lain: teman, orang tua, atasan, dan bahkan pasangan kita. Bagaimana cara pikir kita terhadap kebahagiaan juga memengaruhi cara kita berhubungan dengan orang-orang terdekat kita. Jika kita merasa cukup dengan apa yang kita punya, otomatis kita juga tidak akan menuntut banyak hal terhadap pasangan/teman/keluarga kita.

Manusia tidak ada yang sempurna, segala sesuatu yang sempurna hanya ada di dalam TV atau film bukanlah realita. Setiap pernikahan memiliki pengalaman baik dan buruknya, tetapi ketika kita selalu mensyukuri hal-hal baik yang terjadi, sekecil apapun itu, kita baru menyadari bahwa berkat itu selalu ada. Kebahagiaan ada di ujung tombak pernikahan di mana kedua belah pihak terus berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk pasangannya.

Pasangan yang sudah merasakan cukup dengan dirinya sendiri akan berhenti menuntut dan lebih banyak memberi. Ia akan lebih setia dan berfokuskan pada hal-hal baik yang telah dimilikinya, dibandingkan mencari-cari apa yang tidak dipunyainya.

It’s Up to Us

Di dalam kisah penciptaan, tidak ada satupun kata “buruk” yang diutarakan dalam Alkitab. Setiap penderitaan dan hal yang buruk terjadi di dunia ini, kurang lebih disebabkan oleh karena pilihan manusia yang sudah tercemar oleh dosa. Tuhan membiarkan manusia menjadi pengelola alam semesta ciptaan-Nya, tetapi manusia seringkali memilih untuk merusak, memonopoli, dan menyalah-gunakannya.

Begitu juga dengan kehidupan kita, apakah kita mau ambil bagian dalam rencana-Nya yang sungguh amat baik, atau mau mengusahakan kebahagiaan dengan definisi kita sendiri?

Kita tidak bertanding dengan orang lain untuk menjadi lebih kaya, lebih elok rupa, lebih berhasil, dan lebih beriman. Tuhan memakaikan perbandingannya untuk kita dengan kita sendiri. God is measuring you against you. Jadi, mulailah dengan rasa cukup dan syukuri apa yang Anda miliki di dunia ini. Karena pada akhirnya, kita tidak dapat membawa apapun juga ke dunia yang selanjutnya.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *