Metode Montessori Toddler

Mengenal Metode Montessori lewat Montessori Toddler

Spread the love

Semenjak punya baby, list buku bacaanku berubah menjadi buku-buku tentang bayi atau parenting. So hari ini aku mau share tentang salah satu buku yang menurutku wajib dibaca untuk semua orang tua: The Montessori Toddler karya Simone Davies

 

Kalau kalian belum pernah mendengar yang namanya Maria Montessori, pendekatan Montessori, atau tentang sekolah Montessori itu seperti apa, buku ini adalah pengenalan yang bagus.

Kalau kalian memang suka dengan filosofi dan metode dari Montessori, buku ini perfect banget karena mengenalkan banyak tips dan langkah praktis yang bisa dilakukan di rumah. Mulai dari dekorasi rumah, kegiatan aktivitas yang menyenangkan, hingga tipe mainan yang baik untuk diinvestasi.

Metode Montessori Montessori Toddler

Sebelum membaca buku ini, aku gak pernah tahu mengenai pendekatan Maria Montessori dan tipe pendidikannya. Makanya pas baca buku ini lumayan kaget juga. Ada beberapa pendekatannya yang bagus dan berguna ketika membesarkan anak.

Berikut ada beberapa hal yang menurutku bagus dan bisa diaplikasikan ke dalam hidup kita sebagai orang tua:

Child-Centered

Tema yang terus diulang-ulang dan terlihat dalam aplikasi metode Montessori adalah fokusnya pada anak. Daripada mencoba mengubah anak, pada dasarnya mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan kemampuan belajar yang baik.

Oleh karena itu, fungsi dari guru atau orang tua sebenarnya adalah sebagai supervisor dan memberikan batasan-batasan untuk anak agar dapat “berjalan” ke arah yang benar.

1. Banyak Melihat dan Memperhatikan

Metode Montessori lebih menekankan bahwa anak adalah fokus dari perhatian dan respons kita. Kita sebagai orang tua harus melihat dan menerima anak kita apa adanya dengan tetap memelihara koneksi dengan mereka.

 

Tugas kita adalah menyiapkan ruang dan tempat yang aman bagi anak untuk eksplorasi. Seakan-akan sedang menanam bunga, kita menaruh bibit dan memeliharanya tetapi kita membiarkan mereka berkembang dan beradaptasi terhadap apa yang mereka butuhkan.

Metode Montessori

Anak-anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, oleh karena itu tugas kita adalah memberikan lingkungan yang memberikan rasa cinta untuk belajar. Mereka tidak perlu disuruh-suruh untuk mau menjelajahi lingkungannya.

Oleh karena itu, ketika anak sedang melakukan suatu kegiatan, hindari ikut campur tangan dan membetulkan tekniknya. Banyaklah melihat dan memperhatikan apakah mereka butuh bantuan atau tidak.

2. Tidak banyak interupsi

Dalam melakukan segala sesuatu, kita membiarkan anak kita yang memimpin. Biarkan mereka mengambil waktu untuk memilih sesuatu dan bermain sesuai waktu yang mereka mau.

Hindari memburu-buru anak, meskipun ada anak yang sedang menunggu untuk bermain juga. Repetisi adalah hal yang bagus karena memberikan ruang bagi mereka untuk bisa fasih melakukan sesuatu.

Secara idealnya kita tidak menginterupsi fokus sang anak. Tunggu hingga mereka minta feedback dan bantu ketika mereka mulai merasa frustasi.

Metode Montesssori Toddler

3. Berikan Pilihan pada Sang Anak

Salah satu hal menarik yang saya pelajari dari buku ini tentang metode Montessori adalah tips tentang mempersiapkan ruangan atau rumah kita menjadi “montessori friendly”.

 

Pertama-tama adalah menyediakan beberapa pilihan mainan atau aktivitas yang sesuai dengan kemampuan mereka. Kemudian duduk di lantai untuk melihat eye level mereka dan meng-adjust barang-barang yang dibutuhkan.

 

Ini juga berlaku untuk aktivitas lainnya, seperti memberikan pilihan baju untuk dipakai, makanan snack yang ia mau, atau buku yang mau dibaca. Bukan berarti kita membebaskan apapun yang anak kita mau, tetapi membatas pilihannya selama hal itu aman dan cocok untuk usianya.

4. Jadilah "translator" mereka

Anak-anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara logika. Mereka adalah manusia dimana perasaan mereka bermain lebih besar daripada logika mereka. Oleh karena itu mereka belum bisa mengambil keputusan dengan baik.

 

Kita bisa membantu mereka tumbuh kembang dengan baik dengan membantu mengenali perasaan mereka. Salah satu tips dari buku ini adalah dengan memulai mengatakan “Are you trying to tell me…?”

 

Mulailah belajar “menamakan perasaan” seperti: “sepertinya kamu sedang marah. Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa kamu tidak suka kalau teman-temanmu menyentuh mainanmu?”

 

Kita membiarkan mereka memiliki berbagai perasaan, tetapi tetap membatasi perilaku mereka. Kita menghargai bahwa mereka sedang marah, tetapi tidak membiarkan mereka memukul kakak/adiknya.

Meniru Orang Tua

Anak adalah peniru ulung. Makanya ada istilah: “children see, children do.”  Mereka akan mencoba meniru kebiasaan dan perilaku kita tanpa kita sadari.

Makanya penting untuk kita dapat memberikan contoh yang benar, tidak hanya dalam perbuatan tapi juga dalam melakukan kegiatan sehari-hari juga.

Baca juga: Cara membangun kebiasaan yang baik – Review buku Atomic Habits

1. Berikan instruksi yang spesifik

Salah satu cara agar anak belajar adalah mengeksplor dengan tangan mereka. Kita memberikan mereka akses untuk berbagai barang untuk dibuka/ditutup, belajar memasak, memotong buah, atau mengupas pisang.

 

Metode Montessori mengajarkan kita untuk memberikan contoh cara penggunaan tersebut dengan se-spesifik mungkin. Kita membantu mereka belajar dengan menceritakan langkah demi langkah untuk melakukan sesuatu.

 

Seperti misalnya ketika anak ingin minum, kita memegang gelas dengan dua tangan (karena anak belum bisa mengontrol tangan mereka dengan baik dan butuh waktu untuk bisa menjaga keseimbangannya). Setelah itu kita berkata, “pegang dengan dua tangan”.

Lalu kita memeragai mengangkat kedua tangan kita hingga gelasnya menyentuh bibir kita. Hal ini kita lakukan dengan pelan-pelan agar anak dapat melihat dengan jelas. Lakukan hal ini dengan langkah yang sama agar ia dapat belajar jika melakukan kesalahan.

 

Setelah itu, kita minum sambil diperhatikan oleh sang anak. Harapannya adalah dengan ini ia akan belajar memegang gelas dengan baik (dan tidak tumpah-tumpah lagi!).

Baca juga: Cara Mengajar yang Efektif | Ringkasan buku Powerful Teaching

The Montessori Toddler

2. Ikut sertakan dalam kegiatan sehari-hari

Anak-anak suka mengikuti model orang tuanya. Misalnya pada saat makan malam, tidak jarang sang anak mengambil makanan dari piring orang tuanya, meskipun itu adalah makanan yang sama!

 

Anak juga lebih suka bermain dengan apa yang sering dipakai orang tuanya. Tidak jarang mereka lebih suka bermain dengan laptop, tissue, atau pena, daripada mainan mereka yang berwarna-warni.

 

Ini juga berhubungan dengan mempersiapkan rumah kita supaya mudah untuk anak ikut terlibat di dalamnya. Kita menaruh tempat piring, sendok, garpu di tempat yang mudah diraih. Kita memberikan tangga agar anak bisa mencuci tangan sendiri.

 

Kita memberikannya beberapa pilihan baju yang sesuai musimnya untuk dipakai. Kita menyediakan sapu atau alat kebersihan lainnya yang sesuai dengan ukurannya agar dia bisa “membantu” mengerjakan pekerjaan rumah.

 

Hal ini akan sangat bermanfaat jika anak kita semakin dewasa. Ia akan belajar bahwa setelah main harus membereskan mainannya. Kita sebagai orang tua memberi contoh dengan mengangkat mainan yang berat dan ia membantu membawa mainan yang lebih ringan.

3. Berikan umpan balik yang jelas

Salah satu hal menarik yang dikatakan dari buku ini tentang metode Montessori adalah bagaimana kita harus berhenti mengatakan “good job”. Seringkali kita memberikan label “anak pintar”, “cerdas”, atau “anak baik”.

 

Anak kita tidak mengerti apa itu artinya menjadi anak yang pintar, cerdas, ataupun kualifikasi untuk menjadi anak baik. Ini akan berbahaya karena dapat digunakan untuk memanipulasi mereka nantinya. Anak-anak juga dapat termotivasi melakukan sesuatu hanya jika dipuji nantinya.

Baca juga: Tips Memperkuat Mental – Review Buku Filosofi Teras

 

Daripada mengatakan sesuatu atau seseorang “baik”, “pintar” atau “nakal”, sebaiknya kita memberikan umpan balik yang lebih spesifik dengan:

  1. Mendeskripsikan apa yang kita lihat: “Kamu menaruh piring sendiri ke dapur”
  2. Menyimpulkannya dengan satu kata: “Itu yang disebut mandiri”
  3. Mendeskripsikan perasaan kita: “Mama senang melihatnya”

Siap Menerapkan Metode Montessori?

Pendekatan Montessori mungkin tidak ideal untuk semua orang, namun tidak ada salahnya dicoba dan melihat efeknya secara jangka pendek. Apalagi soal membeli/mempersiapkan peralatan rumah yang khusus untuk anak kecil agar mereka bisa membantu pekerjaan rumah.

Aku menyukai filosofinya bahwa anak adalah pembelajar yang cepat, sehingga peran orang tua atau guru sebaiknya untuk mengkultivasi sifat itu (dan bukan menghilangkannya!).

Ada satu hal yang saya kurang suka setuju mengenai pendekatan ini yaitu menolak membacakan cerita fantasy pada anak di bawah enam tahun. Fantasi di sini bukan hanya Harry Potter atau Disney dan teman-temannya, tetapi buku cerita tentang binatang yang bisa berbicara juga termasuk fantasi.

Alasannya adalah karena anak-anak belum bisa membedakan antara yang riil atau imajinasi, jadi mereka men-suggest buku-bukunya juga realistis yaitu mengenai manusia yang bekerja, menggosok gigi, atau mencuci tangan.

Bagaimana dengan kalian? Tertarik untuk baca bukunya lebih lanjut? Dia juga sudah ada cetakan bahasa Indonesianya yang bisa kalian coba lihat di toko online favorit kalian: Shopee, Lazada, Tokopedia


Spread the love

One thought on “Mengenal Metode Montessori lewat Montessori Toddler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *