Powerful Teaching

Cara Mengajar yang Efektif | Ringkasan buku Powerful Teaching

Spread the love

Pernahkan kita bertanya kepada para murid mengenai material yang dibahas beberapa bulan sebelumnya, tetapi mereka tidak ingat hal tersebut sama sekali? Bagaimana memiliki cara mengajar yang efektif dan berbasis pada sains?

Para guru melakukan cara mengajar yang sama selama bertahun-tahun tanpa mengetahui seberapa efektif dan efisien metodenya.

Cognitive scientists sedang mempelajari bagaimana cara kita menghafal cerita, nama-nama, fakta, event penting, dan lain-lain.

Orang-orang sains menyebut tiga tingkat dalam belajar: encoding (menulis sesuatu), storage (menyimpan), dan retrieval (mengambil kembali).

Proses Belajar

Seringkali para guru hanya terfokus pada tahap pertama, yaitu penyampaian informasi. Padahal, banyak riset mengatakan bahwa pembelajaran itu dikuatkan pada saat murid mengingat/mengambil kembali informasinya.

Oleh karena itu, buku ini memfokuskan konsep pengajaran pada empat hal: retrieval practice, spaced practice, interleaving, dan feedback-drive metacognition.

Keempat konsep ini adalah tantangan bagi para murid, tetapi riset selama beberapa dekade menunjukkan bahwa strategi yang mudah hanya membantu pembelajaran jangka pendek (short-term learning), sedangkan strategi yang menantang justru membantu pembelajaran jangka panjang (long-term learning).

Belajar yang efektif

Retrieval practice

Bagian ini mendorong para murid untuk mengingat kembali informasi yang mereka simpan. Strategi ini lebih bermanfaat daripada teknik yang biasa dipakai oleh guru, yaitu mengajar, membaca kembali, atau mencatat.

Lihat hasilnya pada salah satu riset yang dilakukan pada tahun 2006 yang dilakukan oleh Henry L. Roediger, III dan Jeffrey Karpicke di Washington University:

Hasil Retrieval Practice

Pembelajaran dengan metode membaca kembali mungkin dapat mengerjakan tes lebih baik pada jangka pendek, tetapi retrieval practice membantu mereka mengingat dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini penting sekali ketika para murid diajak untuk melatih kemampuan dan pengetahuan mereka.

Strategi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:

1. Brain Dumps

Guru menghentikan pengajaran mereka selama beberapa menit kemudian meminta murid untuk menuliskan apapun yang mereka bisa ingat. Setelah itu lanjutkan pelajaran. Aktivitas ini juga bisa dilanjutkan dengan peer feedback (masukkan dari teman), dimana mereka menukar Brain Dump mereka kemudian meminta teman mereka untuk menambah sesuatu yang belum dituliskan.

2. Two Things

Di bagian manapun pada saat pelajaran, berhenti sebentar lalu tuliskan dua hal: dua hal apa yang mereka belajar hari ini? Dua hal apa yang dipelajari kemarin (atau minggu lalu)? Dua hal apa yang ingin mereka pelajari lebih lanjut?

3. Retrieve-Taking

Dibanding menyuruh murid untuk mencatat, ajak mereka untuk mendengarkan pengajaran tanpa mencatat. Selang beberapa waktu, hentikan pengajaran Anda kemudian murid diberikan waktu untuk menuliskan hal-hal penting yang mereka mau pelajari lebih dalam. Berikan waktu tambahan (jika memungkinkan) bagi mereka untuk berdiskusi mengenai topik tersebut.

Spaced Practice

Cara mengajar yang efektif memiliki retrieval practice secara bergantian dalam jangka waktu yang panjang. Riset membuktikan bahwa ketika mahasiswa belajar sesuatu dalam jangka waktu yang berdekatan (10 pertanyaan dalam satu minggu) dibandingkan yang lebih lebar (5 pertanyaan dalam dua minggu), hasilnya menyatakan bahwa murid lebih mengingat banyak dengan cara belajar yang kedua (Rohrer and Taylor, 2017).

Strategi ini dapat dilakukan dengan retrieval practice yang konsisten setiap akhir minggu:

1. Pre-Test

Sebelum beralih ke topik lain, coba uji pengetahuan mereka dengan pertanyaan mengenai topik sebelumnya. Lebih baik lagi jika pertanyaan tersebut membuat mereka berpikir mengenai hubungannya dengan topik selanjutnya. Misalnya dalam contoh yang diberikan penulis, ia memberi pertanyaan mengenai sungai Nil dan apa persamaan/perbedaannya terhadap sungai Tigris.

2. BBQ (Big Basket Questions)

Setiap akhir minggu, para murid diajak untuk melakukan kuis yang meminta mereka untuk mengingat kembali pelajaran sepanjang minggu itu atau bahkan dari minggu-minggu sebelumnya.

Cara Mengajar yang Efektif

Interleaving

Proses ini dilakukan dengan mencampur beberapa topik yang mirip sehingga para murid dapat melihat persamaan dan perbedaannya. Kesempatan ini dapat meningkatkan (atau bahkan menduplikasi) kemampuan belajar mereka (Rohrer, Dedrick, dan Agarwal, 2017).

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam kelas contohnya:

1. The Dice Game

Para murid diminta mencari pasangan atau bergabung dalam grup kecil. Masing-masing mendapatkan list berisi istilah, konsep, atau soal Matematika. Salah satu murid melempar dadu. Murid tersebut kemudian harus belajar mengingat atau menyelesaikan konsep yang ada di list sebanyak angka yang muncul dari dadu.

2. The lighting round

Para murid diminta mencari pasangan atau bergabung dalam grup kecil. Masing-masing mendapatkan list berisi istilah, konsep, atau soal Matematika. Salah satu murid melempar dadu. Murid tersebut kemudian harus belajar mengingat atau menyelesaikan konsep yang ada di list sebanyak angka yang muncul dari dadu.

Yang penting untuk diingat dari kegiatan ini adalah membuatnya low or no stakes (tidak dinilai atau poinnya rendah). Kegiatan ini seharusnya tidak kompetitif.

Cara mengajar yang efektif

Feedback-Driven Metacognition

Ketika para murid mengetahui tentang apa yang mereka tahu dan yang tidak mereka tahu, proses belajar dapat belajar lebih baik. Oleh karena itu, feedback-driven metacognition merupakan cara mengajar yang efektif untuk meningkatkan pembelajaran. Hal ini memberikan kesempatan pada para murid untuk mengetahui apa yang mereka tahu dan yang tidak tahu.

Ada dua macam ilusi: the illusion of fluency and the illusion of confidence. Pertama, ketika pembelajaran terasa mudah, para murid berpikir mereka sudah mudah mengingatnya di masa depan (Brown, Roediger dan McDaniel, 2014). Yang kedua, murid seringkali terlalu percaya diri dan tidak menyangka bahwa mereka banyak lupa.

Oleh karena itu, penting untuk memberikan feedback agar kemampuan mereka sama dengan kepercayaan diri mereka.

Berikut ini adalah beberapa rekomendasi dari penulis untuk memberikan feedback-driven metacognition:

1. Retrieval cards

Caranya adalah dengan membuat 8-10 kotak dalam selembar kertas. Dalam kotak tersebut, tuliskan definisi dan tempat kosong bagi murid untuk mengisi konsep atau istilahnya.

Contoh Retrieval Cards

Kemudian para murid mengecek pengetahuan mereka. Jika mereka mengetahuinya maka mereka memberikan tanda bintang. Jika mereka ragu atau tidak tahu, mereka taruh tanda tanya.

 

Kemudian ambil waktu bagi mereka untuk mengecek atau mencari jawabannya. Dari kegiatan ini mereka bisa menilai kemampuan mereka dengan lebih akurat. Mereka juga bisa membawa pulang lembar tersebut sebagai bahan belajar sebelum ujian.

2. Metacognition line-up

Dalam aktivitas ini, mereka melakukan proses metakognisi secara bersamaan. Awalnya, setiap murid berdiri di salah satu sudut ruangan. Sang guru kemudian memberikan satu kata, konsep, atau istilah lalu setiap murid diberikan kesempatan (dengan hening) untuk mengingat kembali informasi yang berkaitan dengan hal itu.

 

Murid kemudian diajak untuk pindah berdasarkan metakognisi mereka. Satu sudut bagi mereka yang percaya diri, sudut di tengah yang ragu-ragu, dan sudut di seberangnya bagi mereka yang lupa sama sekali.

 

Para murid berpasangan dengan orang yang dekat dan membahas konsep tersebut secara dua menit tentang apa yang mereka tahu dan apa yang mereka tidak tahu. Setelah itu mereka berpindah ke sudut yang berlawanan untuk mengajar dan mendiskusikan topik tersebut kepada pasangan lainnya.

To read or no to read?

Sebagai pengajar yang memiliki banyak bahan untuk dibagikan, buku ini sangat membantu dalam memikirkan bagaimana cara mengajar yang efektif. Banyak cara dan contoh yang mudah diterapkan di dalam setiap jenis kelas, sehingga membuat buku ini berguna untuk dibaca secara berulang-ulang.

Salah satu kekurangan dari buku ini adalah cara penyampaiannya yang repetitif. Saya secara personal merasa setengah bagian di belakang dari buku ini hanyalah berisi ringkasan dan konsep yang sama dari bagian-bagian awal, sehingga saya hanya membacanya secara cepat.

Akan tetapi jikalau kalian adalah pengajar dan selama ini frustasi dengan kemampuan murid-murid menghafal suatu konsep, buku ini layak dibaca secara mendalam.

Sumber:

  1. Roediger, H. L., and Karpicke, J. D. (2006). Test-enhanced learning: Taking memory tests improve long-term retention. Psychological Science 17: 249-255.
  2. Rohrer, D., Dedrick, R. F., and Agarwal, P. K. (2017). Interleaved Mathematics Practice: Giving Students A Chance to Learn What They Need to Know. University of South Florida.
  3. Brown, P. C., Roediger, H. L., dan McDaniel, M. A. (2014). Make it Stick: The Scuence of Successful Learning. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  4. Roediger, H. L., dan DeSoto, K. A. (2014). Confidence and memory: Assessing positive and negative correlations. Memory 22: 76-91.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *