Martin Luther: Pelayan Tuhan dan Pemimpin Jemaat

Spread the love

I discovered this book when a few months back, when I just finished reading “Shoe Dog” by Phill Knight. It was the first biography book that I read cover to cover and I thought that biographies are actually fun to read! So I bought one of the kindle version (because the hardback was very thick).

Martin Luther adalah salah satu orang yang sangat penting dalam mengubah arah sejarah kehidupan di dunia ini. Kalian mungkin ada yang belum pernah mendengar namanya, tetapi saya yakin semua dari kita pasti merasakan dampaknya. Oleh karena reformasi yang dimulai darinya, kita bisa memiliki sistim pemerintahan demokrasi, hak asasi manusia yang sama antara kulit hitam dan kulit putih, serta adanya gerakan demonstrasi. 

Keadaan masyarakat, penyuaraan opini, serta suasana politik yang terjadi adalah hal yang sangat berbeda di awal abad ke-16 tersebut jiak dibandingkan dengan apa yang kita nikmati sekarang. Justru, sistim pemerintahan yang kelam dan otoriter tersebut merupakan adegan pembuka yang baik bagi Martin Luther untuk mendobrak politik kotor yang ada.

Ideas have consequences, and Luther’s had more than most – Erick Metaxas

Setting the Stage

Keadaan dunia pada awal abad 16 diwarnai dengan banyaknya gebrakan dan penemuan yang baru, seperti: kompas, benua Amerika oleh Christopher Columbus di 1492, mesin percetakan, serta gerakan humanisme. Pemerintahan Roma dan Jerman pada masa ini juga sedang mengalami banyak ancaman dari luar (Perancis dan Spanyol menjadi negara yang kuat, kalahnya Konstantinopel dengan kerajaan Turki di tahun 1453) dan dari dalam (mulai banyak ketegangan terjadi antara Paus dengan Kaisar yang memecah kesatuan the Holy Roman Empire). Peristiwa-peristiwa ini menyediakan lahan yang subur bagi Martin Luther untuk bergerak.

Pada zaman ini, orang-orang Katolik tidak memiliki akses terhadap Alkitab dan kebenaran-Nya. Mereka hanya mendengar sedikit dari apa yang dikatakan pastor pada misa di gereja. To make things worse, bahkan hanya sedikit dari para pastor tersebut yang benar-benar belajar Alkitab! Jadi kita bisa membayangkan bagaimana ngerinya ketika sesuatu yang diucapkan oleh pastor pada masa itu (tidak peduli apakah itu benar atau tidak) dapat menjadi gaya hidup untuk orang-orang percaya. 

This is what leads us to the Indulgence Controversy. Banyaknya pengeluaran oleh Pope Leo, Saxon Elector Frederick the Wise (untuk pembelian dan pembuatan relik yang sangat mahal), serta rasa haus akan kekuasaan di antara para penguasa di zaman itu, menyebabkan mereka membutuhkan banyak dana. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah menjual surat penghapusan dosa. Mereka berkata bahwa ketika koin itu menimbulkan gemerincing di kotak persembahan, maka Allah akan mendengarnya dan menghapuskan dosa orang tersebut.

The Leader of the People

Saya yakin bahwa Martin Luther pada awalnya tidak berminat untuk membuat suatu “keributan” antara masyarakat dengan pemerintahan pada masa itu ketika ia menyuarakan ketidak-setujuan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Roma. Martin Luther hanya berpikir terhadap jaminan keselamatan setelah ia meninggal dan bagaimana perasaan berdosa itu membuat dia terus menerus mencari kebenaran. (Ia pernah mengaku dosa kepada salah satu pastornya, Johann von Staupitz, selama enam jam berturut-turut agar tidak ada satupun yang terlupakan untuk diampuni!). Dari belajar Alkitab, ia mengerti bahwa manusia tidak dapat mencapai keselamatan karena pada dasarnya natur kita ialah untuk berdosa. Hanya anugerah dan kasih pengampunan dari Allah saja yang dapat menyelamatkan kita.

 Pada waktu saya membaca buku ini, salah satu pemikiran yang muncul di kepala saya adalah bahwa betapa Martin Luther itu adalah orang gila. Ya, orang gila!

Dia berani melawan pemerintahan yang begitu kuat dengan kekuatan militer yang siap sedia untuk membasmi siapapun, demi kebenaran itu tersalurkan kepada setiap orang. Dia berani menyuarakan bahwa Paus adalah anti-Kristus (anti-Christ) karena Paus menganggap dirinya sebagai kepala gereja yang tidak dapat dinyatakan bersalah, dimana yang seharusnya hanya diduduki oleh Kristus. To stand where only Christ should stand was to be anti-Christ.

Luther had dared to say that just because the Roman had the power to dissent did not meant that it represented the truth and probably even indicated that it didn’t – Erik Metaxas

This was a revelation to me. Luther tahu dengan benar siapa lawannya, tetapi yang dia tidak tahu bahwa betapa perkataannya itu akan menjadi gerakan yang sangat besar bagi seluruh masyarakat di Eropa. Tanggal 31 Oktober yang kita rayakan sebagai hari Reformasi pun sebenarnya tidak sebegitu spesialnya, karena apa yang Luther lakukan bukanlah seperti di gambar-gambar (dimana ia memakukan 95 tesisnya yang sangat terkenal di pintu gereja dengan penuh keyakinan – karena ada kemungkinan bukan dia yang memakukannya, tetapi hanya petugas gereja; atau ada kemungkinan juga tesisnya baru ditempel dua minggu setelah diberikan kepada gereja), tetapi ia hanya mengirim surat. A single letter to Archbishop Albercht of Mainz

Surat ini tidaklah berisi suatu penyerangan terhadap pemimpin politik ini secara personal, melainkan hanya menyarankan agar Albercht berbuat sesuatu terhadap pelanggaran yang terjadi di bawah pemerintahannya. It was actually a very humbling and respectful letter (read the whole thing here). Ini merupakah suatu pelajaran juga bagi kita pembacanya, bahwa ketika ada suatu kekeliruan terjadi dalam ranah politik dan pemerintahan, adalah hal yang baik ketika kita menyikapinya in a civilized manner (bukannya demonstrasi tiada aturan like some people do).

Why the Reformation Succeded

Menarik untuk diteliti, bahwa Martin Luther bukanlah orang pertama yang mencoba untuk menyuarakan kebenaran serta melawan penguasa dan penipuan yang menindas rakyat ini. Beberapa abad dan dekade yang lalu, orang-orang seperti St. Fransis dari Asisi, Jan Hus, dan John Wycliffe sudah memulai meneriakkan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh agama yang dipimpin oleh Roma Katolik ini.

Tetapi mengapa nama dan gerakan yang dimulai oleh Martin Luther inilah yang berhasil mendobrak dan mengubah arah dunia dari awal abad ke-16 ini? 

Salah satu penyebabnya adalah karena kemajuan mesin percetakan yang menyebabkan buku atau pamflet dapat dicetak dengan cepat dan murah. Tulisan Martin Luther pada awalnya hanya ditujukan untuk koleganya dan orang-orang terdekatnya. Namun, Christopher Scheurl, pemilik perusahaan percetakan di Nuremberg terkagum oleh tulisan Luther dan kemudian mencetaknya untuk memastikan lebih banyak orang lagi dapat membacanya. Pada tahun 1518, tulisan Luther sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, sehingga lebih banyak orang lagi membacanya dan kemudian memiliki perubahan cara berpikir yang radikal. Ini bukan saja menjadi gerakan reformasi gereja, tetapi menjadi gerakan reformasi rakyat melawan pemerintahan.

Martin Luther, dalam perjalanannya menuju pertemuan di Worms (the Diet of Worms), ia dikerubungi oleh banyak penggemar dan pendukungnya di berbagai kota. Ketika ia tiba di gerbang kota Mainz, orang-orang memuja-muja Luther, layaknya menerima Yesus pada minggu palma (Palm Sunday). Sebelum zaman itu, tidak ada yang pernah berani melawan kekuatan oposisi yang menindas rakyat dan fenomena inilah yang membuat Luther disebut-sebut sebagai pemimpin rakyat. Power is not in the title, power is influence. Dan Martin Luther, dibantu dengan kemajuan sistem percetakan pada tahun tersebut membuat kekuatan Reformasi tidak dapat dihentikan.

THERE ISN’T A historian the last five centuries who could argue against the idea that Luther’s stand that day at Worms…was one of the most significant moments in history – Eric Metaxas

Penyebab kedua adalah karena ketegangan politik yang terjadi saat itu, menyebabkan perhatian para penguasa menjadi terpecah dan kemajuan reformasi semakin cepat. Pada tahun 1530, setelah pertemuan di Augsburg, Kaisar Charles V sedang mencari pendukung untuk melawan negara Turki yang menyerang dia. Ketika seharusnya tenaga militer dikerahkan untuk membasmi Luther dan kawanannya, Kaisar Charles harus menahan serangannya dan mencari pendukung sebanyak mungkin dari Archbishop Albrecht dari Mainz dan elector lainnya untuk memastikan adik laki-lakinya, Archduke Ferdinand, menjadi raja di Jerman. Fokus pemerintahan pada masa itu bergeser dari mendikte kekuasaannya menjadi mencari bala bantuan untuk perang.

Ketiga adalah karena Luther memiliki posisi yang baik dalam Universitas Wittenberg, sehingga ia memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menyuarakan opininya.Ia juga dibantu oleh banyak teman-temannya seperti Philipp Melanchthon, Johannes Bugenhagen, dan George Spalatin; yang semuanya merupakan akademisi dan pengajar di universitas tersebut.

Ini merupakan salah satu hal yang kita bisa angkat dari kisah Martin Luther, yaitu bagaimana sistim edukasi dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Memperebutkan kekuasaan tidak hanya dapat dilakukan dalam pemerintahan atau ranah politik. Reformasi tidak dimulai dari 31 Oktober dengan satu surat dan pemasangan 95 tesis di pintu gereja, tetapi dimulai dari Martin Luther dan grupnya di Universitas Wittenberg.

Luther and His Legacy

Oleh karena gerakan reformasi oleh Martin Luther maka muncullah gerakan dari kelas menengah untuk menyuarakan pendapatnya (vos populi = voice of the people). Demokrasi merupakan kelahiran dari kehebatan Luther dalam berkomunikasi dalam bahasa Latin terhadap para akademisi seperti Erasmus, Paus, dan Kaisar, serta kalangan kelas menengah yang hanya dapat berbicara dalam bahasa Jerman.

…thanks to Luther so many are today familiar with the Bible and what is in it. – Eric Metaxas

Martin Luther juga menyisakan banyak ruang untuk perubahan dalam segala aspek kehidupan modern dalam kancah budaya Barat. Dunia setelah Luther mengundang banyak perkembangan pluralisme yang terjadi (kebebasan untuk berpendapat, kebebasan untuk memegang agama, pembentukan agama baru, egalitarianisme, dan lain-lain). Masyarakat sekarang mengenal bahwa mereka memiliki hak asasi manusia yang patut diperjuangkan. Tentu saja banyak hal-hal buruk juga terjadi ketika masyarakat merasa bahwa hak-nya harus diberikan tanpa melaksanakan kewajibannya.

Pada akhirnya Martin Luther membukakan mata banyak orang bahwa pemerintahan, peraturan, dan pemegang kekuasaan bukan sama dengan kebenaran. Ia mengatakan bahwa oleh karena kebenaran itu dapat didapatkan oleh semua orang, maka mereka memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap Tuhan atas segala perbuatannya. Banyak hal dalam dunia ini yang masih menjadi pertanyaan bagi kita, tetapi kita semua akan terus berjalan sambil menemukan kebenaran dan keseimbangan itu dan melihatnya menjadi realita, tidak hanya di kehidupan setelah kematian nanti, tetapi juga kehidupan di dunia ini.

Think: If you were in the same place and discovered the same thing as Martin Luther does, will you do the same thing as he did, risking your own life and possibly a foreseeable war? 

Act: It starts with the small things, when you see/hear something that is not in lieu with the truth, speak out and/or write something up. Let your voice be heard, but do it in a proper manner.

Pray: Pray so that God granted the leaders of our time a revelation of truth and courage to fight for the truth.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *