Perfeksionis membutakan realitas

Ketika kita lelah jadi seseorang yang perfeksionis

Spread the love

Pernahkah kalian punya teman yang perfeksionis? Atau kalian sendiri adalah perfeksionis?

Gak terima kalau ada sesuatu yang belum perfect. Gak akan selesai kerja kalau belum kelar semua. Feeling down banget ketika ada yang mengkritik pekerjaan kita.

Ternyata, hal seperti ini membuat kita sulit untuk move on. Ketika kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa hidup ini tidak sempurna, kita akan terlepas dari kenyataan itu sendiri.

Karena kenyataannya…

Hidup kita itu gak sempurna.

Oleh karena itu, penting punya penilaian yang benar mengenai segala sesuatu. Baik dalam memandang orang lain maupun diri kita sendiri.

The Good, The Bad, and The Ugly

Setiap peristiwa dan manusia yang ada di dunia memiliki hal yang baik dan buruk. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Contohnya ketika kalian sedang pilih makanan apa yang kalian beli. Kalian bisa pilih yang murah atau yang mahal. Kalau pilih yang murah mungkin gak seenak yang mahal. Kalau pilih yang mahal, meskipun enak tapi tabungan kita berkurang. Atau mungkin kita pilih untuk tidak makan sama sekali. Alhasil jadi laper banget tapi bisa simpen duitnya untuk yang lain.

Jadi bisa dilihat bahwa dari setiap pilihan pasti ada baik dan buruknya. Ada dua sisi mata koin untuk segala hal.

Setiap “yes” untuk satu hal pasti kita bilang “no” untuk hal lain.

Namun, seringkali kita sulit memisahkan antara keduanya. Ketika ada hal buruk yang lebih dominan dalam suatu peristiwa, kita mencap kejadian itu hanya ada buruknya saja. Sama juga dengan pandangan kita terhadap orang lain.

Komitmen

1. Melihat Baik dan Buruk dalam Orang Lain

Terkadang kita mencap seseorang buruk sekali hanya karena suatu karakternya yang gak cocok sama kita. Kita melihat karakter seseorang “semuanya baik” atau “semuanya buruk”.

Oleh karena itu kita jadi tidak memiliki gambaran yang benar terhadap seseorang. Kita memberi label seseorang sebagai yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya baik. Kita tidak melihat sesuatu secara objektif.

Sikap tidak dapat melihat dan menerima baik buruknya segala sesuatu itu sangat berbahaya. Oleh karena kita tidak menyikapi realita dengan riil, kita tidak dapat bertahan dalam kenyataan hidup.

Kita bisa saja melihat idola kita sebagai seorang yang sempurna. Oleh karena dia baik, setia, dan suka menolong, kita menaruhnya sebagai sosok yang luar biasa baik. Namun, kita akan kecewa ketika realita tidak seperti yang kita pikirkan.

Manusia bisa berdosa. Pada akhirnya idola kita memiliki sisi yang buruk juga.

Melihat Pasangan Kita Seutuhnya

Seringkali kita juga melihat pasangan kita sebagai seseorang tanpa cela. Di awal masa pacaran kita melihat dia dalam sisi baiknya saja. Segala keburukannya kita anggap gak ada.

Masalah muncul ketika mereka mengecewakan kita. Dalam perjalanan pernikahan yang panjang, pasangan kita mulai memperlihatkan segala sisi dari dirinya. Sisi tersebut tidaklah sempurna.

Awalnya kita senang saat pacar kita tidak pernah terlambat menjemput kita. Ini menjadi suatu masalah ketika menikah. Oleh karena tidak pernah mau terlambat, maka pasangan kita selalu mendesak kita untuk pergi terburu-buru dan jauh lebih awal daripada waktunya. Itu berarti harus bangun lebih pagi, bersiap-siap lebih cepat, dan kemungkinan sampai di tempat lebih awal daripada siapapun.

Awalnya kita senang saat pacar menceritakan bahwa ia dekat dengan ibunya. Setelah menikah ternyata hal itu memicu pertengkaran. Seringkali doi malah memilih ibunya daripada membela kita.

Ekspektasi = Kekecewaan?

Orang bilang kunci kebahagiaan adalah tidak berekpektasi. Ketika kita memiliki ekspektasi terlalu tinggi maka kita akan dikecewakan.

Ini salah.

Kita hidup dalam dunia ini karena masih memiliki pengharapan. Ketika kita tidak berharap apapun terhadap pasangan kita, otomatis kita tidak bisa bertumbuh sebagai pasangan.

Kita mencintai mereka apa adanya tetapi tidak mau mereka menjadi seadanya.

Kunci kebahagiaan adalah menerima bahwa ada sisi baik dan buruk dari pasangan kita.

Sometimes we put other people on pedestals and this makes our life miserable. Kesempurnaan bukanlah realitas. Menuntut kesempurnaan berarti menolak berada dalam realita. Akibatnya kita memiliki banyak kekecewaan. Ini adalah kesalahan besar dalam hidup kita.

Pembaharuan hubungan hanya bisa terjadi dengan adanya penerimaan. Penerimaan yang sempurna terhadap pasangan kita yang tidak sempurna. Hanya dengan itu maka kita dimampukan untuk mengasihinya secara utuh.

2. Melihat Baik dan Buruk dalam Diri Sendiri

Selain melihat orang lain seutuhnya, hal kedua yang perlu kita perbaiki adalah diri kita sendiri. Jangan-jangan kita memiliki konsep pemikiran yang salah terhadap siapa kita.

Kesulitan menerima hal yang buruk dalam diri kita berakibat pada perfeksionis. Kita tidak dapat merelakan segala sesuatu berjalan di bawah standar yang kita set. Semuanya harus sempurna.

Akhirnya ketika realita muncul, kita menjadi kecewa. Kita menilai diri kita buruk. Kita mencap bahwa kita gak bisa apa-apa. Kita gak berguna. Kita gak layak punya pekerjaan bagus, pasangan kece, atau kesempatan hidup layak.

Ujung-ujungnya pemikiran seperti ini mengarah ke depresi. Jika tidak diobati maka dapat menimbulkan pemikiran bunuh diri.

Hal ini makanya yang sering dilanda oleh figur publik. Mereka menaruh diri mereka sendiri begiittuuu tinggi. Sangat tinggi hingga mustahil untuk diraih. Terlalu sempurna sehingga tidak mungkin terjadi.

Kita memiliki tuntutan pekerjaan sebagai pemimpin rohani, pemimpin perusahaan, kakak yang baik, adik yang baik, dan karyawan yang baik. Kita hanya mau menampilkan yang baik-baik saja. Kita tidak mau terlihat lemah. Orang lain tidak perlu tahu bahwa kita butuh bantuan.

Dari kecil kita selalu diajar oleh orang tua untuk “gak boleh nangis”, “senyum dong”, atau “gak boleh mikir negatif”. Kita terbiasa untuk mengeleminasi kelemahan kita. Kita harus menganggap itu gak ada.

Ketakutan karena kita tidak sempurna membuat kita rentan terhadap approval dari orang lain. Akhirnya kita tidak berani melangkah karena takut berbuat salah. Kita takut mereka meninggalkan kita.

Being Vulnerable

Ingin selalu terlihat luar biasa menjadikan diri kita egois. Memiliki reputasi sebagai seorang yang perfeksionis membuat kita terlihat sebagai superhuman.

Namun, keinginan kita menjadi sempurna berarti menolak anugerah dan pengampunan dari Allah. Kita menjadi buta akan kebutuhan kita untuk diubahkan. Kita menolak ketika ada pertolongan datang. Padahal, membuka diri terhadap orang lain justru menguatkan hubungan kita.

Brene Brown, dalam TED Talk-nya yang sangat terkenal, menyebutkan bahwa koneksi adalah sesuatu yang penting. Koneksi itu dibangun dari kesediaan diri kita untuk membuka diri kita seutuhnya.

Berani untuk terlihat lemah dan rapuh dapat memperkuat hubungan kita dengan pasangan kita. Karena tidak berada dalam gambaran yang sempurna, kita menjadi mudah didekati.

Terkadang ketika kita memiliki perasaan yang buruk atau peristiwa yang tidak enak, kita mematikannya. Hal seperti narkotika, alkohol, seks, dan kecanduan lainnya mungkin dapat mematikannya sementara. Tapi pada saat yang sama ia mematikan kemampuan kita untuk menerima perasaan yang senang dan bahagia.

Cara untuk Berubah

Menerima yang baik dan buruk dari orang lain. Menilai diri kita sendiri seutuhnya. Kedua hal ini perlu dilakukan untuk mendapat perubahan dalam hidup kita. Hanya dengan menerima kenyataan ini barulah kita dapat menuju kebahagiaan.

Perasaan negatif perlu diakui. Mereka nyata dan perlu digali penyebabnya. Dengan mengenal diri lebih baik, kita bisa menghindari konflik yang sama di masa depan.

Ketika kita tidak mengakui perasaan marah/kecewa/sedih dari hati kita, itu akan membentuk suatu kepahitan dan mematikan kita. Kita perlu intropeksi diri sendiri dan melihat sumber kemarahan kita. Kata Paulus kepada jemaatnya di Ibrani: “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (12:15).

Jangan mengeraskan hati kita. Terbuka dengan orang lain. Acknowledge your feelings. Reevaluate why you have it. Having feelings means we are still living. Having feelings means we are human.

Kalau kata pengkotbah: Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega (7:3-4). It’s ok to feel sad when you’re sad.

Mampu menerima hal-hal yang buruk juga akan mengubah hubungan kita dengan orang lain. Menyadari bahwa kita berdosa dan butuh pertolongan Tuhan memampukan kita untuk menerima segalanya.

Kenyataan bahwa orang lain juga bisa salah memudahkan kita untuk mengampuni mereka. Tidak baik menaruh dendam. Dendam hanya membuat kita terikat dengan masa lalu. Perasaan itu perlu digantikan dengan pengampunan. Hanya pada saat kita mengampuni barulah kita bisa melanjutkan hidup.

 

Soli Deo Gloria,

Delicia Mandy

Menerima diri kurangi perfeksionis

Spread the love

3 thoughts on “Ketika kita lelah jadi seseorang yang perfeksionis

  1. bener banget mbak, yang terpenting adalah penerimaan. Dari penerimaan itu kita bisa menghargai diri kita maupun orang lain. intinya, gak usah nyusahin diri kita agar segala sesuatu itu sempurna 😀

    1. Yesss! Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain membuat kita dapat menjalani kehidupan ini lebih bahagia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *