Investasi apakah sama dengan berjudi?

Spread the love

Currently I am reading the famous book by Yuval Noah Harari: Sapiens. Bukunya tentang sejarah peradaban umat manusia. It was an interesting and captivating read. Beberapa poin-poinnya sangat membuka wawasan dan membuat saya berpikir lebih besar tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitar. Who we are now is based on what happens in the past.

 

Salah satunya adalah mengenai perkembangan ekonomi kita dan terciptanya currency untuk jual beli. Zaman dulu ketika orang-orang mau membeli barang, mereka memakai satuan dari benda-benda seperti biji coklat, garam, dan emas. Namun semakin lama semakin sulit untuk mengukur proses jual beli berbagai macam benda dengan beberapa benda sekaligus. Dari situ terbentuklah uang sebagai nilai tukar yang valid.

 

Jika kita melihat secara bendanya, sebenarnya uang hanyalah selembar kertas berisi tulisan angka di dalamnya. Yang membuat selembar kertas itu berharga adalah karena kepercayaan terhadap satu imajinasi yang kolektif. Trust (kepercayaan) adalah bahan dasar yang membuat segala macam mata uang menjadi berharga.

So basically our world revolves around trust. What enables banks -and the entire economy- to survive and flourish is our trust in the future. Dari sini, berangkatlah suatu sistem kepercayaan akan masa depan yang bernama kredit. Dengan kredit kita bisa membangun dan membeli lebih banyak dalam masa kini dengan tagihan yang akan datang. Dari hasil kredit ini kita juga bisa membeli segala sesuatu untuk meningkatkan profit/produktifitas kita. Dengan inilah muncullah kata investasi.

 

Zaman dulu, ketika para raja-raja ingin menguasai negara lain, mereka membiayai perjalanan kapal mereka dengan kredit. Biaya perpajakan tidak kuat menangani modal berlayar yang sangat mahal: membangun kapal, membeli persediaan, membayar kru dan prajurit/tentara. Christopher Columbus, orang yang dicap sebagai penemu benua Amerika (meskipun we all know Amerigo Vespucci was there first), juga meminta raja Portugal membiayai perjalanannya. Proposalnya ditolak, sehingga ia kemudian meminta penguasa Spanyol untuk mendanai usahanya untuk pergi ke Amerika.

Para pedagang Belanda juga meniru cara seperti ini dalam menguasai perdagangan dunia. Salah satu perusahaan gabungan saham (joint-stock company), VOC, dibangun pada tahun 1602 untuk membangun pasar di Asia serta membawa barang dagangan dari Cina, India, dan Indonesia. Orang yang menginvestasikan bayarannya ke VOC akan mendapat paruhan dari keuntungan totalnya. Kalau dalam arti sekarang itu semacam pembagian dividen.

 

So basically our world revolves around people who invests on other people to gain more profit.

When you think about it again, the world thrives on people who loves to gamble.

 

Wait now, mengapa berjudi?

 

Secara esensinya, orang-orang berjudi bermain dengan harapan mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Mereka ingin menjadi kaya dengan hanya berbekal sebagian kecil dari harta mereka. Dengan semakin banyaknya uang yang mereka taruh, harapannya mereka akan mendapatkan porsi yang lebih besar lagi.

 

Sounds familiar?

 

Investasi: giving something in the hopes of gaining so much more

Gambling: giving something in the hopes of gaining so much more

Ketika seseorang menaruh uangnya dalam permainan poker, slot machine, atau roulette wheel. Hal ini sebenarnya mirip dengan orang-orang yang suka bermain-main dengan investasi. Mereka tidak mengerti mengenai perekonomian, perusahaan yang mereka mainkan, serta level resikonya. 

 

All they know is that many people get rich by buying stocks. Tipe investor seperti ini biasanya hanya musiman, bermain secara cepat (cepat beli, cepat jual), dan ikut-ikutan tren.

 

You’re welcome to disagree, tetapi coba kita lihat tren investasi yang menyebar dan juga karakter orang yang bermain dalam ranah investasi saham di zaman sekarang ini. Banyak orang bergaya ketika ditanya soal “investasi”, padahal tidak belajar tentang perusahaan yang mereka investasikan. Mereka tidak belajar mengenai ekonomi makro dan tren yang berkembang di dunia. Investasi menjadi suatu hobi hanya karena ikut-ikutan. Atau bahkan investasi menjadi suatu pelarian karena malas bekerja. Tidak ada trust yang ambil andil di dalamnya, tidak ada efek besar terhadap perekonomian dunia yang dirubahnya.

Para pembeli saham berharap mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya hanya dengan membeli porsi yang kecil.

 

They don’t care about the worldThey care about themselves.

 

Greed.

 

That’s the word.

 

 

 

 

Investing becomes a legal gambling system.

In the end, I’m not against investing on stocks. Suami saya sendiri juga mulai belajar ekonomi dan investasi di beberapa perusahaan saham. Saya juga setelah mendengar kisah sukses beberapa teman-teman, mulai mengatur keuangan dan mencari bentuk investasi yang terbaik untuk jangka waktu yang panjang.

 

What I’m saying is…hati-hati ketika kalian mau “investasi”. Pelajari baik-baik perusahaan dimana kalian investasikan. Perhatikan berita dunia secara global dan apa kaitannya terhadap iklim pasar di Indonesia. Bersabarlah dan bermain secara pintar.

 

Play your role in the world’s economy. Make sure you don’t get greedy.

Spread the love

2 thoughts on “Investasi apakah sama dengan berjudi?

  1. good insight.
    Tapi memang benar. Uang itu tidak ada nilainya, selain selembar kertas “yang disepakati” memiliki nilai.

    Jadi, punya uang 1 M tidak artinya jika dilihat 10-20tahun kemudian karena nilai terus berkurang.

    Ada yang salah dengan sistem dunia. Tapi entah kenapa semuanya “setuju” untuk mengikuti aturan tsb.
    Sad to tell the truth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *