How Do I Rate My Books? (Fiction and Non Fiction)

Memberi rating buku

No two persons ever read the same book – Edmund Wilson

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam membaca satu buku yang sama. Dalam blog ini saya akan membagikan beberapa opini dan penilaian saya terhadap buku yang saya baca.

Namun, sama seperti saya memberi penilaian mahasiswa di kelas saya (pekerjaan saya adalah seorang dosen), setiap hal harus memiliki patokan yang terukur dan berlaku sama untuk semuanya. Berikut saya bagikan pandangan saya untuk buku-buku yang saya nilai:

Rating Buku Fiksi

Untuk buku Fiksi, penilaian saya berdasarkan dari empat hal:

Hal ini menjadi yang terpenting di atas seluruh penilaian lainnya. Pertanyaan yang saya ajukan ketika membaca novel tersebut misalnya: Apakah kisahnya memiliki arah yang jelas? Bagaimana kemajuan ceritanya?

Saya menyukai plot yang mengejutkan di berbagai poin dengan tempo yang tidak terlalu lambat (tapi juga tidak terlalu cepat agar ada pengembangan karakter yang jelas).

Setelah itu, penting bagi saya dalam suatu kisah memiliki plot yang realistis. Ini bukan berarti tidak boleh ada imajinasi, tetapi jika hal-hal yang dikisahkan harus masuk akal (seperti interaksi karakter tidak natural atau berkontradiksi dari awal novel dengan akhirnya).

Apakah setiap karakter memiliki porsi yang cukup sesuai dengan perkembangan ceritanya? Apakah ada perkembangan antara karakter pada awal dengan akhir kisahnya (yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun)?

Saya menyukai novel yang memiliki karakter yang memiliki kepribadian yang kuat (tidak plin-plan atau kepribadian yang berbeda-beda di setiap situasi – kecuali jika memang karakternya memiliki penyakit mental atau semacamnya).

Hal ini mungkin bersifat sedikit subjektif dibanding ketiga poin penilaian lainnya, tetapi saya menyukai gaya penulisan yang mampu bertelepati dengan pembacanya. Gaya penulisan yang menarik harus cukup konsisten agar pembacanya dapat mengerti jalan ceritanya, tetapi cukup variatif agar plotnya dapat berkembang.

Saya menyukai gaya penulisan yang mendalami dan menampilkan pengembangan karakternya dengan baik, dibandingkan dengan penekanan pada alur cerita.

Terakhir, saya akan menilai suatu karya fiksi berdasarkan pesan moralnya. Saya yakin semua karya fiksi juga memiliki latar belakang realita, baik itu latar belakang penulisnya, kejadian dunia pada abad atau periode waktu tersebut (bandingkan pesan dari buku-buku George Orwell dengan Arnoldus Huxley terhadap politik pada zaman itu)

Saya mungkin tidak menyukai ending-nya atau gaya penulisannya, tetapi jika buku ini menggugah cara pandang saya atau mengkritik keadaan sosial/politik/budaya dunia dengan benar maka saya dapat memberikannya rating yang baik.

Cara saya membuat rating buku

Rating Buku Non Fiksi

Untuk buku Non-fiksi, penilaian saya berdasarkan dari empat hal:

Poin ini menjadi penentu apakah saya mau membaca satu buku atau tidak. Apakah buku tersebut memiliki ide yang unik yang belum saya pernah pikirkan sebelumnya? Atau apakah buku tersebut berdasarkan penemuan terbaru di bidangnya – entah itu edukasi, sains, atau sosial-?

Semakin unik ide di balik penulisan buku itu, semakin tinggi pula nilainya. Jika saya membaca buku biografi, hal ini ditentukan dari peran orang tersebut di dunia ini.

Poin ini didasarkan pada footnotes atau sumber bacaan yang dipakai sebagai argumentasi ide-ide penulis. Apakah penulisannya berdasarkan data sains yang akurat? Siapakah ilmuwan atau penulis yang menjadi referensi ide-idenya?

Jika buku itu didasarkan pada argumen yang valid dan sumber yang terpercaya, maka saya akan memberi penilaian yang lebih tinggi.

Poin ini mungkin menjadi penentu yang lebih kecil dibanding lainnya. Gaya penulisan di sini berbeda dengan gaya penulisan dalam buku fiksi. Saya menyukai pengarang yang banyak bercerita dan menjelaskan latar belakangnya dengan baik. Saya kurang suka dengan gaya penulisan yang menggunakan banyak bullet points.

Pesan moral dalam suatu buku bisa saja berdasarkan pada sumber yang valid dan argumentasi yang benar, tetapi saya tidak setuju dengan pendapatnya. Hanya saja, saya tidak akan memberikannya poin yang rendah hanya karena saya kurang setuju (atau bahkan tidak setuju) dengan ide-idenya.

Setiap buku fiksi harus memiliki call-to-action yang jelas dan kesimpulan yang masuk akal berdasarkan seluruh pemaparan dari argumentasinya. Inilah yang akan membuat saya menilai suatu buku fiksi sebagai tinggi atau lebih rendah.

Cara saya membuat rating buku

Five Point Rating System

Biasanya para blogger akan menilai suatu buku dari kesukaannya. Akan tetapi, saya suka menilai sesuatu dari poin investasinya. Dalam hal ini: investasi uang dan waktu saya.

Buku dengan tebal 300 halaman biasanya bisa dibaca dalam jangka waktu antara 5 hingga 6 jam (tergantung kesulitan bahasanya). Harga buku impor di Indonesia juga tidak murah, karena kita harus membayar shipping dan pajak yang mahal. Oleh karena itu saya suka menghitung-hitung jumlah investasi yang harus saya keluarkan untuk menyelesaikan satu buku.

Apakah buku ini layak dibaca dan direnungkan untuk waktu yang lama? Apakah buku ini layak dibeli? Kalau iya, yang bekas, baru, softcover, atau hardcover?

Apakah buku cukup dipinjam saja, atau dibeli kemudian dijual ulang, atau justru tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan?

Dengan ini saya berharap para pembaca saya juga dapat memikirkan tentang biaya yang dikeluarkan untuk membaca, karena kita membayarnya dengan hal yang tidak dapat kembali: WAKTU.

Memberi rating buku

Suka baca buku?
Suka artikel serupa?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk mendapatkan artikel serupa di inboxmu dengan gratis: