Little Women Review

Five lessons from “Little Women” could make you a better women

Spread the love

Book: Little Women (buy on amazon or bookdepository)

Author: Louisa May Alcott

Date Published: 1868-1869

Genre: Coming of Age

My Rating: 5/5 (super tear-jerker, will reread again)

Little Women baru saja diadaptasi menjadi film dan tayang pada Desember 2019 kemarin. Meskipun sudah banyak versi layar lebarnya, tetapi yang keluaran kali ini menjadi lebih spesial karena dibintangi oleh aktris dan aktor papan atas. Nama-nama seperti Emma Watson, Timothee Chalamet, Saoirse Rosnan, dan Meryl Streep meramaikan list pemain utamanya.

Little Women Movie 2020

Dengan atau tanpa nama-nama aktor/aktris di atas, Little Women memiliki daya tariknya sendiri. Novel yang berjumlah kurang lebih 500 halaman ini (tergantung edisi mana yang kalian baca) memiliki banyak kisah-kisah kecil di dalamnya yang membuat kita merasakan berbagai macam emosi.

Novel ini menceritakan tentang keempat kakak beradik March: Margaret (atau biasa disapa Meg), Josephine (Jo), Amy, dan Beth. Dengan kepribadian mereka yang berbeda, setiap pembaca dapat merasakan bagaimana karakter tersebut terasa hidup.

Selain itu ada karakter lain seperti Marmee sang ibu, Aunt March, John Brooke, dan Laurie -lelaki remaja yang tinggal di sebelah mereka-. Peranan tokoh-tokoh tersebut memberi warna di dalam kehidupan kakak beradik March. Bahkan, kehadiran John dan Laurie juga membawa nuansa roman terhadap novel ini. (Relax, there will be no spoiler in this post!)

Meski ceritanya lumayan panjang, Little Women tidaklah sulit untuk dibaca. Selain memakai bahasa Inggris yang mudah dipahami, kisahnya tidak banyak memiliki intrik tersembunyi. Meskipun begitu, banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari novel karya Louisa May Alcott ini.

Little Women is a classic

Membaca novel klasik membuat kita mengetahui betapa hidup zaman dulu sangat berbeda dengan sekarang. Tanpa mobil, komputer, dan telepon, sangat terasa bahwa tempo kehidupan tahun pada abad ke 19 itu berjalan lebih lambat.

 

Meskipun begitu, keadaan yang begitu simpel tidak membuat novel ini menjadi hambar. Beberapa bagian yang menarik dari novel ini justru bersumber dari mode komunikasi yang sekarang dianggap kuno: surat. Terutama surat dari ayah March bersaudara dan surat dari Jo ketika ia sedang berada di New York.

 

Latar belakang kota Amerika yang begitu sederhana zaman dulu itu menyadarkan kita memikirkan ulang teknologi di zaman sekarang. Apakah dengan kemajuan banyak mode transportasi dan komunikasi maka masyarakat kita semakin dekat? Atau justru kekerabatan dalam keluarga itu semakin luntur?

 

Little Women patut diakui sebagai novel klasik, karena meskipun memiliki setting lebih dari seabad lalu, namun nilai-nilai yang disampaikannya tidak lekang oleh zaman.

The Meaning of Marriage

Dalam bagian kedua novel ini, setting waktunya sudah melaju sampai ke momen pernikahan Meg. Sebagai tokoh yang pertama kali menikah, ada beberapa bab dalam novel ini yang disisihkan untuknya.

Dengan latar belakang keluarganya yang miskin, Meg suka iri dengan teman-temannya yang mampu membeli pakaian dan perhiasan yang macam-macam. Ia kemudian memakai sebagian besar gaji dari suaminya untuk membeli barang-barang yang mahal.

Akan tetapi, Meg menyesal dan kemudian menjual kembali barang-barang tersebut. Dari kisah ini ia belajar apa artinya mengasihi suaminya apa adanya (bukan ada apanya, hehehe).

Mungkin kalian sebagai pembaca belum menikah pada saat membaca novel ini, tetapi pesan-pesan sederhana seperti ini bisa menjadikan kalian semakin dewasa dan mampu memiliki empati terhadap orang lain.

Women Quotes

Not your typical love story

Seringkali pembaca mengidamkan kisah cinta antara si kaya dan si miskin, atau persatuan dari dua sahabat yang saling mengasihi. Namun, novel ini menggambarkan bahwa happy ending juga tersedia bagi mereka yang tadinya tidak terpandang.

Hal ini yang membuat kisah Little Women berbeda dari novel lainnya. Cinta bisa bersemi meskipun keadaan jauh dari sempurna. Ia bertumbuh di tempat yang tidak kita sangka.

Cinta juga membutuhkan kerja keras. Kisah rumah tangga Meg March membuktikan bahwa happily ever after tidak dimulai setelah menikah dengan orang yang kita cintai.

Hanya lewat komitmen dan perjuangan mengasihi orang yang menyakiti kita maka buah-buah cinta akan menghasilkan manisnya.

Young Love

The real meaning of "feminism"

Banyak wanita zaman sekarang berlindung di belakang kata “feminism”. Feminist sebenarnya memiliki makna yang baik, yang mensupport hak wanita yang sama dengan pria. Namun sekarang arti kata itu justru melawan natur dan kodrat wanita.

Wanita dan pria pada dasarnya diciptakan dengan peranan yang berbeda. Dengan penekanan terhadap perasaannya yang lebih lemah lembut, wanita menjadi penolong yang sepadan bagi pria.

Namun, pejuang “feminisme” berusaha menekan keunikan yang dimiliki oleh kaum Hawa ini.

Istilah feminisme seharusnya menyunjung tinggi peranan wanita yang berbeda ini dan merayakannya. Meskipun berjudul “little women”, novel ini sama sekali tidak mengecilkan makna dan tempat wanita dalam masyarakat.

Baca: Belajar dari Michelle Obama dari Memoirnya, Becoming

Dengan keinginan menjadi penulis yang menyuarakan kebenaran, Jo March harus berjuang melawan industri sastra yang sangat patriarkal. Namun dibalik semangatnya itu, ia adalah wanita secara hati dan panggilannya.

Ia merindukan pasangan yang sepadan dan memiliki keinginan untuk melayani calon suaminya. Kita patut bersyukur karena akhirnya ia mendapatkan kebahagiaan yang diidamkannya.

It transcends all ages

Meskipun novel ini seringkali masuk kategori buku anak-anak, tetapi banyak pesan moral di dalamnya yang bisa dipetik oleh segala usia. Di bagiannya yang pertama kita bisa melihat Amy sebagai anak kecil yang manja dan kurang bijak dalam menghabiskan uangnya.

 

Namun di bagian yang kedua, kisah ini masuk ke bagian yang lebih kompleks: pernikahan Meg, Laurie yang patah hati, dan Joe yang harus pergi seorang diri untuk mencari jati dirinya sebagai penulis.

 

Dengan mengangkat tema-tema yang erat dengan kehidupan sehari-hari, setiap wanita pasti bisa mengikuti ceritanya dan menangkap pesannya.

Little Women Quotes

In summary...

Perbedaan radikal dari setiap kakak-beradik March ini membuat kisah Little Women bisa relatable banget buat setiap wanita. Ada Jo yang tomboi dan suka membaca, Meg yang keibuan, Amy yang sedikit high maintenance, serta Beth yang lemah lembut.

Lebih daripada itu, ini adalah coming-of-age novel, dimana kita sebagai pembaca bisa melihat pertumbuhan setiap karakter yang beranjak dewasa. Semakin besar, kakak beradik March ini menemukan peristiwa yang membuat mereka harus mengambil keputusan yang bijaksana.

Dengan bahasanya yang mudah dicerna dan bab yang pendek-pendek, setiap pembaca dapat mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Akan tetapi, kisah ini mungkin akan terasa sangat feminim bagi kebanyakan pria. Alasan utamanya karena pusat perhatian dari karya sastra ini adalah March bersaudara, yang semuanya adalah perempuan.

Novel Little Women wajib dimiliki oleh setiap wanita, muda maupun yang sudah lanjut usia. Membacanya membuat kita kembali kepada masa-masa awal kita jatuh cinta. Bukan hanya cinta terhadap lawan jenis, tetapi juga kepada keluarga dan masa muda kita.

P.S.: kalau kalian mau mencari buku berkualitas dari luar negeri, bookdepository menawarkan banyak pilihan novel dan buku bacaan dengan free shipping! Click this link to get it.


Spread the love

One thought on “Five lessons from “Little Women” could make you a better women

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *