Factfulness: Sebuah Cara Pandang Baru | Book Review

Spread the love

Buku: Factfulness

Pengarang: Hans Rosling dengan Ola dan Anna Rosling

Penerbit:  Flatiron Books

Tahun: 2018

Bill Gates dalam blog-nya, gatesnotes, me-review salah satu buku yang menurutnya adalah “the most educational book” yang pernah ia baca: Factfulness. Buku ini dikarang oleh Hans Rosling (dan setelah ia meninggal, kemudian diedit ulang oleh anaknya dan menantunya: Anna Rosling dan Ola Rosling).

Buku ini memberikan sepuluh contoh mengenai fakta dunia yang sering salah kaprah. Ia berbicara tentang betapa dunia di revolusi industri 4.0 ini sudah banyak berkembang dibanding pada abad 16 dulu. Akan tetapi, pola pikir manusia seringkali masih sama dengan beberapa abad sebelumnya.

Yang menjadikan buku ini sangat menarik untuk dibaca (aside from the important messages that it brings) adalah bahwa penulisnya sendiri merupakan seseorang dengan kepribadian yang

hangat dan humoris. Seringkali ia membandingkan banyak jawaban orang-orang di berbagai forum dan institusi yang tenar dengan jawaban random sekelompok simpanse. 

Ia juga banyak memasukkan pengalaman pribadinya ke dalam buku ini sebagai suatu refleksi dan pembelajaran yang cukup humbling dalam kehidupannya.

The Four Levels

Hans Rosling menolak untuk menggunakan kata negara yang “maju” dan “berkembang”, karena berdasarkan grafik perkembangan beberapa negara di tahun 2017, banyak yang sudah mengalami peningkatan yang strategis dalam hal kemiskinan, edukasi untuk wanita, dan pendapatan per kapita.

Sebenarnya ketika kita memiliki pemikiran dikotomi seperti negara “Barat (West)” dan “Timur (the Rest)” menyisakan banyak pertanyaan untuk negara-negara yang mungkin tidak masuk ke dalam dua kategori tersebut.

While the world has changed, the worldview has not…Most of us are stuck with a a completely outdated idea about the rest of the world

Hans Rosling

Oleh karena itu, Hans Rosling buku Factfulness ini memakai istilah “empat level” untuk menjelaskan beberapa kategori seperti: kehidupan, edukasi, vaksinasi, dan kebutuhan sehari-hari. Empat level ini membantu kita memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai segala sesuatu, dan pada akhirnya dapat membantu kita dalam mengambil kesimpulan dan solusi untuk berbagai permasalahan

Suka baca buku?
Suka dapetin buku murah?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk dapetin diskon dan promosi buku impor terbaru:

Insticts VS Factfulness

Illusions don’t happen in our eyes, they happen in our brains

Hans Rosling

Factfulness berisi sepuluh argumen mengenai insting kita yang seringkali membutakan kita dalam mengambil kesimpulan. Banyak data dan penyajiannya yang terdistorsi yang membuat kita salah menangkap fakta dan kemudian akhirnya salah mengambil keputusan. 

Salah satu insting manusia yang dia kupas secara menarik dalam buku ini adalah “The Negativity Instinct”. Kita sebagai manusia seringkali melebay-lebay-kan masalah hanya karena mendengar satu berita yang kurang baik dari media sosial. 

Adanya suatu kemunduran, bencana, atau masalah bukan berarti dunia menjadi semakin buruk. Satu peristiwa bisa saja dikategorikan sebagai “buruk” dan “baik” pada saat yang bersamaan.

Misalnya, cara kita melihat kanker. Kanker adalah salah satu penyakit yang merajalela di seluruh muka bumi ini. Saya yakin setiap dari kalian dapat menyebutkan satu orang (atau bahkan mengenal satu orang) yang terkena penyakit kanker. 

Media juga menghebohkan berita ini dengan foto-foto dan dokumentasi yang sangat menyayat hati. 

Akan tetapi, grafik dari US National Cancer Institute memperlihatkan bahwa adanya angka kenaikan presentasi ketahanan hidup dari anak berumur kurang dari 20 tahun dengan treatment yang terbaik.

Di tahun 1975, angka ketahanan tersebut berada di 58%, sedangkan pada tahun 2010 kemarin, angka ini terus naik hingga mencapai 80%. Bayangkan apa yang dapat kita capai bersama pada tahun 2030 nanti!!!

Satu peristiwa dapat saja dikategorikan buruk, tetapi bukan berarti tidak ada kemajuan yang signifikan atau progress yang sedang berjalan di belakang layarnya. 

Ketika kita melihat berita buruk mengenai sesuatu (baik itu di negara, di sekolah, di kantor, di ranah edukasi), kita perlu melihat hal tersebut dari skala yang lebih besar dan percaya bahwa satu peristiwa dapat dikatakan “good” and “bad” pada saat yang bersamaan.

The best mind of my generation are thinking about how to make people click ads – Jeff Hammerbacher
(Facebook Engineer)

In summary...

Pertama kali gw membaca buku ini, I was so surprised on how such scientific book was so fun to read. Ketika orang-orang mendengar kata “statistik”, “grafik”, dan “penelitian”, otomatis akan identik dengan satu kata sifat: MEMBOSANKAN.

Kelebihan dari buku ini adalah cara pandangnya yang sangat bijak. He can easily blame the whole news and media industry for bombarding us with distorted facts and data, tapi ia mengakui bahwa media tidak akan bertahan hidup tanpa adanya sedikit permainan kata-kata dan cerita. 

Media akan terus bermain dengan insting primal manusia, tetapi diharapkan bahwa dari berbagai pandangan yang Hans jabarkan dalam Factfulness ini, kita belajar untuk mem-filter setiap berita yang disajikan kepada kita.

I love this book because it’s not only makes you smarter, but actually how to become a better and well-rounded person. A person that isn’t easy to blame others and stereotyping everything; but have a more positive view towards the world. 

Dalam bab terakhir buku ini, ia menuliskan beberapa cara aplikatif agar para pembaca dapat menggunakan berbagai pengetahuan dalam buku ini untuk kesejahteraan orang yang banyak. 

Whether you work in education, media, politics, or business, there are something that you can do in your part (big or small) to make this world a better place. All you have to do…is to be filled with factfulness.


Spread the love

2 thoughts on “Factfulness: Sebuah Cara Pandang Baru | Book Review

  1. Menurut saya, melihat segala sesuatu hanya dari faktanya, menghilangkan unsur emosi primitif manusia. Termasuk rasa takut dan rasa cinta yang kebangetan. Pasti membosankan sekali. Bahwa nggak perlu lebay, bener sih. Tapi unsur emosional tetap memegang faktor penting agar manusia hidup sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *