8 Ciri Pacaran yang Sehat

Ciri-ciri pacaran yang sehat

Spread the love

Sekitar 50% pernikahan di Amerika Serikat berakhir dengan perceraian. Banyak juga ikon dan orang-orang beragama Kristen yang bercerai, salah satunya yang baru saja terjadi adalah berpisahnya Joshua Harris dengan istrinya. Joshua Harris adalah penulis “I Kissed Dating Goodbye”, sebuah buku yang membuka mata saya dan suami saya ketika kita masih berpacaran.

Sungguh mengagetkan ketika seseorang yang membuka mata kita terhadap pentingnya komitmen tetapi tidak berhasil mempertahankan persatuan pernikahan.

Saya baru saya selesai membaca “A Love Letter Life” yang ditulis oleh Jeremy & Audrey Roloff. Mereka adalah salah satu bintang dalam reality show “Little People Big Life”.  Jeremy menulis buku ini bersama istrinya setelah mereka menikah pada tahun 2014.

Bukunya sangat ringan untuk dibaca, jika dibandingkan dengan theology-packed authors seperti “This Momentary Marriage” karya John Piper dan “Sacred Marriage” milih Gary Thomas. Meskipun begitu, ada beberapa hal praktis dan patut untuk dipikirkan sebagai bahan pembicaraan dengan pasangan, jika kita ingin membangun suatu hubungan pacaran yang sehat.

Berikut saya bagikan delapan hal yang patut dimiliki setiap hubungan pacaran yang sehat:

Cover Buku A Love Letter Life

1. Start with friendship

Tujuan dari pacaran yang sehat adalah untuk menikah. Jika kita ingin memiliki pacar yang berkualitas, satu-satunya cara untuk mengetahui dirinya dengan lebih dalam adalah berteman dengannya.

Kita tidak ingin membeli kucing dalam karung dan menemukan kejutan yang kurang menyenangkan ketika sudah berkomitmen. Oleh karena itu, bangunlah fondasi pertemanan yang baik sebelum menjajaki hubungan yang lebih lanjut.

Jika kita tidak melihat tujuan jangka panjang dalam suatu hubungan pertemanan tersebut, ada bagusnya untuk menjaga jarak dan mengurangi intensitas hubungan kalian. Memiliki perasaan untuk seseorang yang tidak layak menjadi calon suami kalian hanya akan berakhir dengan patah hati.

Kita mungkin tidak dapat memilih kita akan jatuh cinta kepada siapa, tetapi kita bisa memilih mau bergaul dengan siapa. Ketika kita menghabiskan waktu dengan salah satu teman pria kita dengan lebih banyak, dengan mudahnya kita bisa jatuh hati kepadanya. Love needs time, so be careful who you spend your time with.

2. Pursuit

Ada sebuah quotes yang mengatakan bahwa, “Whatever that lasts long won’t be easy. If it’s easy, it won’t last long.” Hal ini juga berpengaruh terhadap kualitas hubungan kita. Jika kita mudah mendapatkan sesuatu, ada besar kemungkinannya kita akan dengan mudah melepaskannya.

Sangat penting untuk memiliki kesabaran dalam mengejar seseorang yang layak untuk diperjuangkan. Jadi bagi kalian para pria, sabarlah mengejar wanita yang pantas untuk menjadi calon istrimu. Jika kalian memang serius dengannya, itu berarti kalian harus menunjukkan bahwa kalian adalah calon suami idaman.

“Pursuit takes work, and so does marriage. If you learn to pursue before you say ‘I do,’ it’s a skill that will continue to serve you well beyond the I do.” – Jeremy Roloff

Bagi para wanita, ujilah para teman-teman pria yang mendekati kalian. Percayalah bahwa pria yang layak menjadi suamimu adalah pria yang mau berjuang untuk kamu. Jika memang ia adalah tipe suami yang berkomitmen, ia akan gigih dan tidak akan cepat pindah ke lain hati.

Kebanyakan wanita dengan mudahnya memberikan dirinya untuk setiap pria yang mendekati dirinya. Hal ini justru berlaku kebalikannya. Berikan ruang dan waktu bagi pria tersebut untuk berjuang mendapatkan dirimu. A patient pursuit creates an everlasting love.

Kunci dari Pacaran yang sehat

3. Every wall must fall

Ketika sang wanita membiarkan sang pria mengejarnya, mereka berdua akan melihat bahwa masing-masing dari kita memiliki tembok yang menghalangi. Kita membuat suatu jurang pemisah yang membuat orang lain tidak dapat masuk ke dalam hati kita. Entah itu kemandirian dan tidak mau bergantung pada orang lain, atau keinginan untuk terus terlihat sempurna, tembok tersebut menghalangi orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita.

The only way to let someone in is when you open the door from the inside. Untuk menjalin hubungan pacaran yang sehat, penting bagi kita untuk mau berubah. Kita perlu mengizinkan orang tersebut menghancurkan tembok-tembok keegoisan kita dan mengubah diri kita menjadi lebih baik.

Kultur zaman sekarang selalu mengedepankan ke-“aku”-an. Love yourself, Be yourself, dan Self-love adalah hashtag yang dikumandangkan dalam sosial media dimana-mana. Tetapi ketika kita menemukan pasangan yang seimbang dengan kita, justru kita memiliki suatu kerinduan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kunci dari berpacaran yang baik

4. Sharing is Caring

Hal yang menyatukan satu orang dengan orang lainnya adalah dari hal-hal yang mereka bagi bersama. Mereka berbagi pendapat, pengalaman, atau bahkan kecintaan untuk hal yang sama. Salah satu hal penting yang perlu dimiliki adalah berbagi value system yang sama.

Kebanyakan orang memiliki kepercayaan dan agama yang sama, tetapi mereka tidak memiliki nilai-nilai yang sama. Mereka mungkin memercayai adat istiadat tertentu, tetapi tidak memahami nilai dan maksud di baliknya yang sama. Penting dalam setiap hubungan kalian (terutama di dalam pernikahan), untuk membicarakan dan berkomitmen untuk menjaga value system tertentu.

Hal penting dari prinsip berbagi/sharing ini adalah karena dengan memiliki kesamaan dalam berbagai hal, kita mengikatkan diri kita dengan orang tersebut. Dengan menciptakan banyak sekali benang pengikat, akan lebih sulit untuk memecahkan diri kita dengan pasangan kita. Hal tersebut membuat hubungan kita menjadi semakin murni dan tidak dapat ditiru dengan orang lain.

Belajar berbagi dalam hubungan pacaran

5. Purity

Kultur yang kita lihat di televisi, novel, dan film seringkali mendikte kultur kita sendiri. Mereka mengedepankan perasaan puas secara seksual di atas komitmen jangka panjang.

Banyak orang bilang untuk menyimpan seks hanya untuk pernikahan. Sebenarnya prinsip kekudusan bermakna lebih jauh daripada seks. Kekudusan berarti memisahkan diri kita dari segala hal yang jahat. Itu juga termasuk menguduskan cara kita berpakaian, cara kita melihat pasangan kita, dan juga bagaimana kita menyentuh pasangan kita.

Oleh karena itu, kita perlu berkomitmen terhadap diri kita dan juga pasangan kita untuk menetapkan batas-batas dalam pacaran. Audrey dan Jeremy dalam buku ini menetapkan beberapa batasan praktis dalam berpacaran. Salah satunya adalah dengan menetapkan satu orang mentor yang dapat mengingatkan.

Mentor tersebut akan menjadi seperti “wasit” yang mengingatkan (lewat telepon atau SMS) di malam hari ketika kita sedang berdua dengan pacar kita. Tidak pergi ke tempat-tempat yang menjerumus dan menonton hal-hal yang tidak baik ketika berduaan juga akan menjauhkan dari perbuatan yang berdosa.

Ketika kita tidak memiliki prinsip yang benar mengenai komitmen untuk kudus, kita membiarkan orang lain menaruh kultur mereka kepada kita. Yang perlu diingat adalah bahwa standar moral kita datang dari Tuhan.

Apa yang orang katakan baik, benar, jahat, dan salah bukanlah dibuat oleh manusia, tetapi dari standar yang diberikan Allah kepada manusia. Oleh karena itu, ketika kita mau menjalani hidup dan memiliki pacaran yang sehat, kita perlu melihatnya dari sudut pandang Sang Pencipta kita.

Komitmen untuk hidup kudus dalam pacaran yang sehat

6. Covenant Mindset

“Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh dipisahkan oleh manusia”, demikian konsep pernikahan yang dipahami dalam gereja kita. Pernikahan adalah suatu perjanjian antara dua manusia untuk dapat menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka.

Demikian juga di dalam pacaran yang sehat, sang pria dan sang wanita harus memiliki konsep yang sama mengenai perjanjian pernikahan ini. Menjadi “satu daging” bukanlah hanya soal fisik, tetapi juga mindset, visi, dan tujuan pernikahan. Ini berarti kita mengikat janji untuk berada dengan pasangan kita 100%. Kita akan mengorbankan apapun demi mempertahankan hubungan kita.

Penting sekali pada saat tahap masih berpacaran untuk saling terbuka satu sama lain, membicarakan hal-hal yang dalam, dan bergumul secara bersama-sama. Ketika kita belum melewati diskusi yang berat tersebut dari awal, hal tersebut akan muncul secara perlahan di dalam pernikahan.

Tujuan dari setiap pacaran adalah untuk mempersiapkan pernikahan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki pandangan yang sama dengan pasangan sebelum masuk ke dalam tahap tunangan atau pernikahan.

7. Mission-Minded

Selain memiliki pasangan yang mau dan sanggup untuk berkomitmen jangka panjang, penting juga untuk memiliki misi yang sama. Sangat sulit untuk bergerak maju bersama-sama jika kita sebagai pasangan tidak memiliki tujuan.

Setiap tim pasti memiliki objektif, sesuatu yang mau mereka capai secara bersama-sama. Sama juga dengan pernikahan. Ketika kita memutuskan untuk berkomitmen dengan pasangan kita seumur hidup, kita perlu memikirkan apa yang mau dicapai dalam pernikahan.

Misalnya, kita sebagai pasangan ingin menjadi berkat dengan membagi waktu kita untuk sesama lewat pelayanan berbagai misi. Atau, kita ingin bertumbuh dalam suatu komunitas dimana kita juga bisa berkontribusi di dalamnya.

Jika hal-hal ini tidak dibicarakan dari awal, perahu pernikahan kita akan terpecah dengan dua orang pemimpin. Yang satu ingin dibawa ke Utara, yang satu ingin ke Selatan. Pastikan misi dalam hubungan kalian sudah jelas terlebih dahulu sebelum berkomitmen ke tahap selanjutnya.

Memiliki misi dalam berpacaran

8. Having Boundaries

Saya pernah berbicara mengenai memiliki batasan dalam suatu hubungan dalam blog post sebelumnya. Meskipun ada di dalam suatu hubungan, penting bagi kita untuk memiliki jati diri terlebih dahulu.

Poin terakhir ini mengajak kita untuk melihat batasan di luar hubungan kita dengan pasangan kita. Pacaran yang sehat berarti mengatakan iya untuk pasangan kita, dan tidak untuk orang lain. Pernikahan berarti komitmen untuk menjaga keutuhan pernikahan. Meskipun itu berarti menolak teman-teman terdekat kita yang bisa membawa godaan dan pencobaan ke dalamnya.

Di dalam bukunya, Jeremy dan Audrey menjabarkan beberapa hal praktis yang dapat dilakukan pada saat mereka masih pacaran untuk menjaga hubungan mereka. Beberapa hal tersebut menyangkut soal menggunakan media sosial dengan bijak. Mereka berkomitmen untuk tidak menggunakan media sosial pada hari Minggu, pada saat kencan, dan pada saat ingin tidur.

Membatasi penggunaan telepon genggam tersebut juga membantu mereka untuk memiliki koneksi yang lebih dalam dan terfokuskan.

Batasi sosial media untuk punya hubungan yang sehat

Spread the love

One thought on “Ciri-ciri pacaran yang sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *