Review Buku Sapiens karya Yuval Noah Harari

Buku Sapiens: melihat sejarah dari kacamata ateis

Spread the love

I’ve been reading this for a while now (almost half a year to be exact). This book made me think in ways I would never imagine. That’s why I love it so much and didn’t want it to end. 

Aku sampe bacanya ngirit-ngirit 10-20 halaman sekali duduk takut cepet abis dan kehilangan “magic“-nya, hehehe.

Saya beli buku di Book Depository, sebuah website yang menjual buku impor (dari UK atau Australia) yang gratis shipping! Atau kalian mau nitip barengan, email aku aja dan kita bisa atur sama-sama 🙂

Soo.. back to my review: buku ini mengupas tentang sejarah peradaban manusia. Namun, meski sang penulis mengkategorikannya sebagai “sejarah”, isinya lebih dari sekedar fakta.

Setiap pemaparannya tidak lepas dari worldview penulisnya.

Review Buku Sapiens Yuval Noah Harari

Sama dengan sejarah (atau apapun dalam kehidupan kita). Fakta mungkin berdiri sendiri, tetapi menggabungkan fakta dengan fakta lain, memaknai fakta dan proses sebab-akibat itu membutuhkan suatu worldview.

Mengapa Yuval Noah Harari, penulis buku ini, mengatakan dalam bab pertamanya bahwa manusia adalahan animal with no significance? Ia juga menyatakan bahwa “not a single organism on this planet was designed by an intelligent creator“.

Di sini kita bisa melihat bahwa Yuval Noah Harari memiliki sistem berpikir tersendiri. Sistematika berpikir yang berlandaskan worldview tidak adanya sang pencipta.

Pemersatu Homo Sapiens yang fiktif

Menarik ketika kita membaca sesuatu yang disebut sejarah tetapi pada ujungnya kita mendapat suatu tiket menuju pemikiran filosofis seseorang. Maybe history was not objective after all.

Jika sejarah memang didasari oleh suatu pemikiran filosofis, kita perlu mengevaluasi ulang segala sesuatu yang kita percayai. After all, satu-satunya hal yang bisa mempersatukan kita sebagai makhluk di dunia adalah memercayai mitos yang sama (common myths).

Harari menjelaskan bahwa threshold organisasi manusia ada di sekitar jumlah 150 orang. Di luar daripada itu, Homo sapiens membutuhkan adanya suatu pemersatu yang fiksi.

Pemersatu itu berdiri di bawah imajinasi kolektif umat manusia. Seperti agama dan kepercayaan, suatu perusahaan juga dibangun di atas basis yang sama. (Yes, you’ve read that right: agama dan perusahaan Anda hanyalah imajinasi!)

Misalnya saja, Peugeot SA (nama resmi dari perusahaan pembuat mobil), merupakan sesuatu yang tidak terikat oleh bukti fisik dari gedung pabrik, karyawan, dan mobilnya. Bahkan jika seluruh gedung, karyawan, dan mobilnya musnah, Peugeot SA tetap berdiri.

Perusahaan tersebut adalah bagian dari imajinasi kolektif. Inilah yang disebut para pengacara dengan istilah legal fiction.

Selain perusahaan, agama, dan kepercayaan, imajinasi kolektif ini juga berlaku untuk the-so-called keadilan dan kesamaan hak. Harari mengkritik apa yang dipercayai oleh American Founding Fathers mengenai “equality” dalam American Declaration of Independence.

1. Homo sapiens = homo sexual?

Oleh karena Harrari memegang teguh peranan “random” (penciptaan secara acak) dalam teori evolusi, ia menolak adanya kesamaan dalam keberadaan Homo Sapiens.

Adanya kesamaan hak dan posisi dalam negara hanya bisa dimengerti ketika manusia memercayai ide bahwa ada satu pencipta: seluruh manusia diciptakan oleh Allah dan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.

Harari juga mengajak pembacanya untuk mengkaji ulang pandangan kita terhadap apa itu laki-laki dan perempuan. Ini berarti berpikir ulang mengenai kesetaraan, hak laki-laki perempuan, serta apa yang dipercayai sebagai tabu atau tidak.

 

Dengan teguh berpegang kepada hukum alam dan bukan suatu worldview yang monoteis, Harari memperbolehkan adanya seks antara sesama jenis.

 
Baca juga: Kekuatan dan Peran Wanita menurut Melinda Gates (“The Power of Lift”)
Review buku Sapiens secara kristiani

Hukum biologi tidak menolak hubungan intim antara laki-laki dan laki-laki. Setiap hal yang bisa terdefinisi dan masuk akal berarti dapat dilakukan. Pemikiran bahwa perbuatan homoseksual adalah dosa hanya dipegang oleh kaum Kristiani.

Sang penulis menjelaskan bahwa kita perlu membedakan antara “sex” yang merupakan kategori biologi dan “gender” yang merupakan kategori kultural. Ia percaya bahwa peranan antara laki-laki dan perempuan bisa diputarbalikkan dan terus-menerus berubah.

Again, kita harus mengingat bahwa Harai percaya segala sesuatu terjadi random. Ini berarti tidak ada keunikan yang patut diakui antara pria dan wanita.

2. Pemersatu umat manusia: uang

Tentu saja pemersatu fiktif yang paling bermanfaat bagi umat manusia adalah adanya sistem penukaran yang sama. Sebelum adanya imajinasi kolektif mengenai alat barter, manusia menggunakan emas, biji coklat, dan hasil panen sebagai pembayaran. Mereka memiliki ukuran yang berbeda-beda untuk setiap item.

Melihat begitu sulitnya menilai segala sesuatu dengan standar barter yang berbeda-beda, manusia mengembangkan sistim penukaran menggunakan koin. Koin dicetak dengan harga masing-masing dan diberikan sebagai alat tukar untuk sesuatu.

Cara kerja uang juga hanya berhasil ketika seluruh umat manusia memegang satu imajinasi yang sama. Uang bukanlah sebuah materi, tetapi hanyalah konstruksi psikologi manusia. Nilai uang tercetak dari kepercayaan manusia, bukan dari kertas atau logamnya.

3. Pemersatu umat manusia : agama

Seorang sejarawan tidak mungkin dapat menjabarkan perjalanan hidup manusia tanpa mengenalkan konsep kepercayaan mereka. Selain negara dan uang, agama merupakan pemersatu Homo Sapiens terbesar yang ketiga.

Menurut Harari, agama adalah sebuah sistem berisi norma dan nilai-nilai yang berdiri atas kepercayaan akan suatu disposisi yang lebih besar daripada manusia.

Dengan definisi ini, Harari berargumen bahwa ideologi komunisme dan humanisme juga dapat disebut sebagai agama. Para komunis percaya akan suatu buku “suci” yang profetik yaitu Das Kapital milik Karl Marx.

Mereka juga memiliki hari raya besar seperti tanggal satu Mei dan perayaan Revolusi di bulan Oktober. Pemegang ideologi ini dapat mempertaruhkan jiwanya dan menjadi martir untuk membela kepercayaanya.

Humanisme juga memiliki sesuatu yang disembah: Homo sapiens. Mereka percaya bahwa kebaikan yang tertinggi adalah kebaikan untuk Homo sapiens. Makhluk yang lain hidup hanya untuk kebaikan spesies ini.

Kepercayaan ini berdampak besar terhadap pergerakan sejarah yang lain. Idelogi dan agama ini yang menjadi jawaban mengenai apa yang penting dan apa yang baik. Oleh karena itu konsep ini memengaruhi gerakan besar setelahnya: Scientific Revolution.

The basis of research

Ketika manusia memiliki resource yang sangat banyak, mereka perlu bertanya kembali mengenai apa yang baik dan perlu diperjuangkan. Kemajuan apa yang penting untuk didahulukan untuk kebaikan orang banyak?

Ketika seseorang memegang teguh humanisme, ia akan menjustifikasi alasannya dengan kepercayaannya. Ia akan menghasilkan penemuan yang memajukan kemampuan intelektual manusia. Tidak ada gerakan selain ideologi dan agama yang dapat menggerakan revolusi sains seperti ini.

Manusia melakukan perjalanan ke benua lain dengan harapan mereka dapat melakukan penemuan baru. Kapal-kapal yang berangkat pada abad ke-18 dan 19 berisikan peneliti yang tidak diperlengkapi untuk berperang, tetapi untuk menemukan terobosan yang baru. Inilah yang membuat Eropa sangat kuat pada zaman itu.

Ditambah dengan bangkitnya kapitalisme di dalam negara-negara, penemuan benua baru menjadi sumber kekuatan yang baru bagi benua Eropa. Ketika para negarawan dan penguasa kerajaan memiliki satu visi untuk meningkatkan kekayaan, mereka membuat suatu sistem baru: kredit.

Bahkan, organisasi Belanda VOC yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun merupakan perusahaan yang menjual saham. Biaya perjalanan mereka dipakai untuk menguasai perdagangan di Cina, India, dan Indonesia. Keuntungan dari hasil penjualan tembakau dan rempah-rempah inilah yang kemudian dibagikan kembali kepada para investor perjalanan mereka.

Baca juga: Cara mudah buat kebiasaan yang baik – Ringkasan buku Atomic Habits

The price of Industry Revolution

Kemudahan hidup di zaman sekarang ini adalah berkat para investor yang mau menaruh kepercayaannya kepada masa depan. Oleh karena adanya uang yang ditaruh kepada penemuan-penemuan baru maka kita dapat merasakan banyak sumber energi yang dapat dimanfaatkan.

Banyak yang tidak tahu bahwa revolusi industri ini melemahkan tatanan sosial yang sudah ada sejak lama: keluarga dan komunitas lokal. Zaman dahulu, ketika orang sakit mereka tidak pergi ke dokter.

Mereka meminta keluarga terdekat atau tetangga mereka untuk ikut membantu dan mencari terapi penyembuhannya. Ketika manusia hendak membangun rumah, mereka memanggil seluruh anggota sukunya untuk gotong royong membantu.

Hal ini sangat berbeda setelah adanya banyak penemuan baru yang menghasilkan banyak kemudahan dalam transportasi dan komunikasi.

Berjalannya waktu, komunitas kecil dan keluarga mulai tergantikan fungsinya dengan menguatnya sistem pemerintahan dan ekonomi dunia. Adanya dokter, guru, polisi, dan pengacara yang profesional melunturkan kebergantungan seorang individu terhadap keluarganya.

Menguatnya struktur sosial dalam skala yang lebih besar menggantikan peranan keluarga dan komunitas kecil. Manusia sebagai makhluk individu menjadi semakin kuat, keakraban dalam keluarga menjadi semakin lemah. Segala hal memiliki harga yang harus dibayar.
 
Ini membuat kita bertanya: is it all worth it?

 

 

No hope for Homo Sapiens?

Dari sekian banyak pemaparannya mengenai sejarah yang luar biasa, Harari tidak menawarkan solusi yang sumatif untuk para pembacanya. Di bab awal ketika ia mengatakan bahwa manusia pada zaman pre-historis adalah makhluk yang tidak memiliki signifikansi lebih dibanding hewan lainnya: monyet, kera, kerbau, dan gorilla. Manusia, sesuai dengan klasifikasi biologisnya, hanyalah seekor binatang di bawah genus Homo.

Sang penulis memercayai teori evolusi Darwin, yang menyatakan bahwa setiap spesies berkembang lewat seleksi alam. Mereka berkembang dan menghasilkan variasi dalam sistem/tubuh mereka yang meningkatkan kemampuannya untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Menarik sekali karena setelah itu ia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu apa yang terjadi pada revolusi pemikiran manusia pada masa dua milyar tahun sejak terbentuknya dunia. Harari tidak menyadari kesalahan dari cara berpikirnya sendiri.

Meski ditulis dengan banyak penelitian dan argumen yang kuat, saya menolak bahwa kehidupan Homo Sapiens di dunia terjadi secara acak dan tidak memiliki tujuan. Jika memang keberadaan manusia terjadi dengan sendirinya, maka the same rule can be applied to everything: hukum gravitasi, hukum fisika, hukum kimia, etc. When everything has become random, then nothing is random.

Do you agree with Harari's understanding?

All in all, ada suatu perasaan paradoks terhadap buku ini. Meskipun buku Sapiens ini memaparkan sejarah dengan cara yang komprehensif dan luar biasa, tetapi saya tidak sepenuhnya memercayai imajinasi kolektif yang ia tawarkan. Saya percaya bahwa manusia diciptakan di dunia dengan tujuan yang mulia. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Saya percaya ada orang-orang di luar saya yang juga memegang kepercayaan “fiksi” yang sama dengan saya: manusia memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. A hope that transcends all understanding. Sebuah tujuan yang melampaui sejarah manusia. Suatu pengharapan yang melewati batas hidup dan mati.

What do you think? Kalian setuju dengan Harari atau tidak? Komen di bawah atau email ke contactme@deliciamandy.com untuk kita diskusi lebih lanjut.

Suka artikel ini?
Mau dapat info tentang buku best-seller terbaru?

Jika Anda menjawab "ya" untuk kedua jawaban di atas,
taruh emailmu di bawah ini untuk dapetin review dan promosi buku impor terbaru:


Spread the love

One thought on “Buku Sapiens: melihat sejarah dari kacamata ateis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *